Aku menggosok tanganku gelisah. Sejenak perkataan Beni tadi siang terngiang kembali di telingaku. Aku tahu dengan pasti apa maksud perkataannya tadi. Mendadak aku merasa ngeri sendiri. Tidak. Aku tidak bisa membayangkan membiarkan Beni masuk kembali ke kehidupanku. Sudah cukup rasa sakit yang ditinggalkannya untukku dan Vio. Apa pun yang akan dilakukannya, tidak ada merubah perasaanku padanya. "Mbak, aku pulang duluan ya. Semuanya sudah beres." Wajah Riri tiba- tiba muncul dari balik pintu. Karena Bimo tidak masuk, maka Ririlah yang mengambil alih tugasnya untuk memastikan keadaan bakery sebelum tutup. "Oke, Ri. Hati-hati di jalan," sahutku sambil melambaikan tangan. Aku mengambil earphone dan menyalakan lagu dari ponselku secara acak. Suasana hatiku terasa aneh, ingin menangis tapi

