*** “Memangnya gak boleh manja-manja sama suami sendiri?” *** BAGAIMANAPUN, Iif sadar betul lembaran baru di hidupnya baru saja dimulai. Ia tak boleh sekalipun mengacaukannya dengan kisah-kisah lama. Jadi, usai dalam doa salat fajarnya ia bertekad, tekad itu ia praktekan ketika berdua saja dengan Indra. Satu-satunya momen berdua yang cukup panjang di antara mereka adalah saat jalan kaki bersisian ke rumah Indra. Jadi, begitu turun angkot, sikap manja itu sengaja dimunculkan. “Indra---” “Kamu bukan mau mengakui sesuatu, kan?” Ditembak begitu, Iif bisa merasakan raut wajahnya berubah. Namun, ia tak lantas kehilangan kendali obrolan. Masih berusaha bersikap biasa, Iif memandang Indra dengan memberenggutkan bibir. “Suuzon,” ucapnya pendek. “Habis, landa-lende begitu gayanya. Manja.”

