“Tau.” Karena jawaban itu, Iif meradang, memandang Indra dengan nyalang dan tak suka. “Terus maksudnya apa nggak kasih tau aku?” “Kamu sedang nggak stabil, If. Saya nggak mau ambil risiko.” “Kalau begitu kamu sama saja nggak mengizinkan seorang anak merawat ibunya.” Perdebatan memanas. Iif mendengkus kasar dan memalingkan wajahnya ke arah lain, sementara Indra berdecak. “Kok jadi ke situ sih arahnya? Saya nggak kasih tau kamu juga dengan pertimbangan kalau di sana banyak yang ngurus, dan penyakit umi juga nggak parah-parah banget. Jadi, yaudahlah.” Nyatanya, dari balasan sepanjang itu, yang Iif perhatikan hanya satu: bagaimana Indra menyebut penyakit jantung uminya dengan ‘nggak parah-parah banget’. “Maksudnya kamu baru kasih tau aku soal umi kalau umi meninggal?” Indra menoleh k

