***
“Bukan itu. Kamu sudah mau memulai hidup baru.
Aku gak berhak turut masuk ke dalam sana.”
***
ACARA inti itu akhirnya selesai pada pukul dua belas malam. Namun, urusan yang belum selesai membuat Iif masih di sini: di dekat bukit karang tempat Karta mendirikan tenda. Karta yang mengajaknya kemari karena ingin mengobrolkan sesuatu.
“Kopi?” Tiba-tiba segelas kopi terulur ke hadapannya.
Iif melirik Karta sejenak. “Diaduk, kan?”
Karta terkekeh sejenak sebelum menjawab, “Iya.”
Iif menerima cangkir itu dan semakin merapatkan selimut tipisnya. Kebetulan, tadi sebelum tasnya dibawakan oleh Azhar ke rumah Dadang-Diyah, ia sempat mengambil selimut itu dari sana karena merasa urusan dengan Karta akan agak lama.
“Maaf saya paksa kamu bicara di sini.” Karta berucap, lalu melihat Iif dan suasana sekitarnya yang semakin berangin. “Saya butuh kepala dingin untuk membicarakan semuanya.”
Iif mengernyit, tapi karena tiga hal. Pertama, kalimat Karta yang seperti orang emosi berbanding terbalik dengan ketenangan di wajahnya dan nada berucapnya. Kedua, apa gerangan yang menyebabkan Karta berkata seperti itu? Ketiga, kenapa lelaki itu mengubah panggilan dirinya menjadi begitu formal?
‘Saya’? Bukankah Karta biasa menggunakan kata ‘aku’?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengkristal menjadi satu, yaitu:
“Memangnya kamu mau ngomong apa?”
Karta menarik napas dan duduk bersila di atas pasir, di hadapannya. Ia turut menggenggam mug kopinya untuk menghangatkan diri. “Di caturwulan ini saya nggak bisa meneruskan membantu pramuka di sekolah kamu, If. Mulai minggu depan, Mar akan kembali mengisi pramuka membantu kamu.”
Ah, oke. “Kenapa berhenti?”
“Keluarga menyarankan saya buat sekolah lagi. Saya sudah diterima di APDN.”
“Kapan mulai belajar memangnya?”
“Bulan depan.”
“Masih ada tiga minggu lagi,” komentar Iif lekas. Gadis itu tahu air mukanya berubah, tetapi tak tahu pasti alasannya apa. Meskipun demikian, ketimbang mempertanyakan maksud komentarnya sendiri, Iif menuruti egonya untuk melanjutkan pembicaraan dengan kalimat yang ‘agak’ menyemprot Karta:
“Kamu masih harus pamit ke anak-anak secara pantas, lho.”
“Kan ada kamu atau Mar yang bisa pamitkan. Saya sudah harus ke Sumedang besok malam. Urusan keluarga dulu.”
Kemudian, hening. Di antara mereka tidak ada yang memulai kembali pembicaraan itu lebih dulu. Belaian angin pantai bahkan tidak berani mengusik keheningan ini. Semesta, kembali, seolah membiarkan Iif dan Karta terbuai dengan pikirannya masing-masing. Pikiran yang agak egois, sungkan memikirkan perasaan lawan bicaranya.
“Masuk APDN ...” tiba-tiba Iif memulai sembari menoleh kepada Karta, “apa itu termasuk cita-cita kamu?”
“InsyaAllah,” angguk Karta takzim. “Biarpun nantinya saya tidak berhasrat ke sana, biarlah. Yang penting, salah satu cita-cita terbesar saya sudah terwujud.”
“Kamu sudah bikin grup band?”
Iif tak peduli pertanyaan itu terkesan polos atau konyol sekalipun di telinga Karta. Satu-satunya cita-cita terbesar Karta--setahunya--adalah membuat grup band. Jika sudah, pertanyaannya adalah untuk apa lelaki itu membuatnya sedangkan ia harus pergi menempuh pendidikan di APDN?
Menjawab pertanyaan itu, Karta hanya menyesap kopinya dan menatap Iif dengan serius. “Belum. Itu sudah bukan cita-cita saya sekarang.”
“Lantas?”
“Bernyanyi dengan kamu.”
Selimut hening kembali menghangatkan mereka. Iif dan Karta memandang satu sama lain, meski hanya sesaat, membiarkan wajah mereka merona karena malu.
Tak jauh berbeda dengan Karta, wajah Iif mirip kepiting rebus sekarang. Ia menunduk, menyesap kopi hitamnya, lalu diam lagi. Sungguh, kali ini ia kehabisan kata-kata.
Namun, ternyata keterdiaman Iif gara-gara hal barusan masih terlalu sepele menurut Karta. Seakan tak puas, lelaki itu menambahkan perlakuan yang membuat jantung Iif nyaris terlompat dari tempatnya.
Karta duduk di sisi gadis itu sambil membawa serta mug kopinya. “Sekarang kita jujur-jujuran saja. Subuh nanti saya akan mengelilingi garis pantai Plara, jadi sudah tidak di sini lagi. Praktis, sekaranglah pertemuan terakhir kita.”
Iif berdehem, semata untuk menemukan suaranya sendiri. “Y-ya.”
“Kamu janji akan sampaikan salam saya ke anak-anak?”
“Janji,” angguk Iif segera. Ia tak mencoba memandang Karta karena posisi sedekat ini benar-benar membuatnya risi. Ya, bayangkan saja, posisi duduk Karta nyaris tak berjarak dengannya.
Apa yang mungkin terjadi ketika seorang pendiam mencoba mendefinisikan ‘jujur-jujuran’?
Iif penasaran. Namun, untuk kemungkinan terburuk, ia masih tenang. Iif percaya, walaupun tubuhnya lelah, ia masih pelari yang cepat.
“Jujur,” Nada berucap Karta sontak merendah. Ia menundukan pandangannya dari Iif, meski tak lama kemudian kepala itu menegak lagi saat melanjutkan, “saya ingin sekali meremukkan kepala Azhar atau Darwis---tapi yang paling patut mendapat perlakuan itu ya ... Azhar.”
Tidak, tidak. Iif tak seheboh itu hanya karena nama Darwis disebut sebagai sosok yang Karta ‘cemburui’. Dia bukan tipe perempuan yang cepat naik pitam ketika sahabatnya dijelek-jelekan.
Lagi pula, nama kedua---Azhar---memang agak pantas menerima ucapan seperti itu setelah sikap agresifnya. Jadi, yah ....
Membalas Karta, Iif melihat jauh ke belakang, mengingat saat-saat Karta berinteraksi dengan Azhar atau Darwis. Bagian mana yang membuat pria itu merasa setersinggung itu sampai berkata ingin meremukan kepala keduanya.
Karena tak menemukan alasan yang tepat untuk kemarahan Karta kepada Darwis, Iif jadi bertanya, “Kenapa kamu marah sama Darwis?”
“Karena dare itu.”
Jawaban Karta yang singkat, padat, jelas, dan tegas, direspons Iif dengan santai---berusaha santai. Karena jika memang sekaranglah pertemuan terakhirnya dengan Karta, mereka harus berpisah dengan baik-baik. Meredam emosi lelaki itu adalah salah satu caranya.
“Masa?”
Dengan polos, Karta mengangguk. “Iya.”
“Tapi dia kan mewujudkan impian kamu.”
“Tapi kamu juga senang? Benar nggak risi?”
Untuk sejenak, terkaan Karta membuat Iif terdiam. Terkaan itu seakan lurus mengenai benak terdalamnya. Meski begitu, Iif tahu apa yang ia rasakan---tak sepenuhnya risi. Seharusnya Karta tahu ia suka bernyanyi.
Sekali lagi, Iif memandang Karta. Ia menyadari bahwa bukan jawaban membingungkan yang dibutuhkan pria itu. Jadi, tegas, ia menggeleng. “Enggak. Gak sama sekali.”
“Benar?” tatap Karta menyelidik.
“Iya, benar.”
Seperti tersangka yang baru saja lepas dari sidang dakwaan, Iif mendengkus lega begitu tatapan menyelidik Karta lepas dari matanya. Hening kembali membungkus mereka, tetapi kali ini semuanya tak terasa menegangkan. Iif menandaskan kopinya, Karta juga.
Pria itu kemudian beranjak menjauh. Tanpa menolehkan pandangannya pada Iif, ia meneruskan, “Kamu mau kalau nanti nyusul saya ke Sumedang?”
Iif mendongak untuk melihat Karta. Sayang, lelaki itu masih tidak melihat ke arahnya. Karta malah sibuk sendiri mengetatkan jaketnya. “Untuk apa?”
“Menghadiri ... acara lamaran saya. Minggu depan.” Sekarang Karta terlihat menyalakan rokoknya.
Rokok? Iif baru tahu dia perokok. Dan, kini dia pun paham alasan Karta pergi lebih awal ke Sumedang.
Namun, haruskah dia menghadiri acara itu? Kenapa Karta mengundangnya secara pribadi seperti ini ke acara lamaran? Rumah mereka kan tidak dekat.
“If?”
Teguran Karta mengusik berbagai macam pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya.
“Saya gak akan maksa kamu,” ucap Karta lagi, kali ini sambil melihat ke arah Iif. “Saya cuma mau---”
“Membuktikan sesuatu?”
“Ya.” Tertawaannya terdengar getir sekarang. “Salah, ya? Menurut saya, enggak.”
“Menurutku, salah.” Iif berdiri, turut berdiri karena merasa defenisi jujur-jujuran yang sebenarnya telah dimulai. Gadis itu melangkah mendekati Karta, sengaja balas memandangnya dengan tegas.
Namun, sebelum sempat Iif berkata apa-apa, Karta menyela, “Saya tahu kita benar-benar berbeda. Kamu sibuk, saya enggak. Kamu orang berada, saya orang gak punya. Kamu punya cita-cita yang berguna, saya sebaliknya. Justru itu, saya akan merasa terhormat kalau---”
“Aku gak akan datang sebagai piala,” potong Iif tegas.
“Coba pandang itu dari sisi yang positif!”
“Kamu bilang tadi gak akan paksa aku.”
Menyahutinya, napas Karta terhembus keras. Lelaki itu kembali memalingkan pandangannya dari Iif dan mengambil cangkir kopi dari tangan gadis itu dengan kasar.
“Maaf,” ucapnya sambil lalu mencuci kedua gelas itu. “Mungkin perasaan yang kamu punya gak sebesar saya. Mestinya saya tahu diri. Kamu primadona, saya bukan siapa-siapa.”
Ck, berlebihan. “Karta,” Iif bergegas menghampiri lelaki itu lagi, “jangan salah paham. Aku gak akan datang bukan karena gak menghormati undangan kamu.”
“Iya, saya ngerti,” ucapan itu terjeda karena Karta meletakan kedua alat minum itu ke tempat semula: ranselnya, “kamu sibuk, kan? Mengajar di dua sekolah, mengurusi adik-adik kamu, gantikan kakak-kakakmu di organisasi. Saya ngerti.”
“Bukan itu.” Sekarang, Iif bisa merasakan amarah itu menguap dari Karta. Rasa penasaran menggantikannya, muncul begitu jelas dari sorot matanya. “Kamu sudah mau memulai hidup baru. Aku gak berhak turut masuk ke dalam sana.”
“Sedikitpun?”
“Tanya sama diri kamu sendiri,” tukas Iif, tetapi dalam senyum yang berusaha membuat Karta tenang.
Tak seperti adegan perpisahan dalam novel romantik, mereka berhadapan tapi tetap berjarak. Tidak ada tangan yang terangkat untuk menyentuh pundak atau mengusap air mata masing-masing.
Untuk sesaat, Iif tak bisa mendengar suara isakannya sendiri. Kenapa ia begitu melankolis sekarang, tidak ada yang tahu bahkan dirinya sendiri. Tapi berhadapan dengan sisi terapuh Karta sekarang membuat Iif tak bisa menahan lonjakan perasaannya.
Siapa sangka, di antara lelaki yang pernah mendekatinya, Kartalah yang berhasil membuatnya seperti ini?
Iif menyeka air matanya ketika Karta melakukan hal yang sama.
“Ayo, saya ... antar pulang ke rumah Dadang. Sudah malam.”
“Y-ya,” sekali lagi, tarikan napas berat itu terdengar, “ayo.”
Tengah malam itu semakin larut. Iif diantarkan Karta ke penginapan gratis itu. Tak ada yang menyambutnya di luar.
Iif langsung masuk ke dalam, merapatkan selimut tipisnya di sisi Mar yang mendengarnya terisak.
BERSAMBUNG ....