10 MAWAR MERAH

1405 Kata
*** “Aku tahu ini gak akan mengubah apa pun. Setelah hari ini mungkin kita cuma ketemu di reuni ke reuni, dan yang bakal kita lakukan hanyalah bernostalgia. Jadi, apa salahnya aku ngasih kenangan yang baik buat  kamu? Aku gak mau diingat sebagai Azhar si pemaksa.” ***     PERASAANNYA dengan mudah mengkhianati waktu. Baru tengah malam tadi ia berjanji akan baik-baik saja setelah melakukan perpisahan dengan Karta, sepagi ini ia sudah ke pantai sendirian, termenung menatap bukit karang tempat Karta mendirikan tenda tadi malam. Maksud hati ingin mengucapkan sepatah-dua patah kata salam perpisahan, sudah tak disetujui semesta. Kini, bukit karang dan sekitarnya  telah kosong. Rapi, bersih, seakan semalam tadi tidak pernah ditinggali. Iif menghela jadinya. Sudah baikkah kalimat perpisahannya semalam? Berikut ini yang dia katakan kepada Karta sebelum memasuki rumah Dadang: “Selamat, ya. Sukses belajar dan beristrinya.” Dua kalimat pendek saja, dan entah itu masih berbekas dalam benak Karta atau tidak. Akan tetapi, kedua kalimat itu berisi doa dan pengharapan. Tidak ada yang salah. Semua sudah bagus dan tidak akan mengembangkan perasaan itu lagi---perasaan yang akan menjadi salah sebentar lagi itu harus hilang dari keduanya. Iif bersyukur, keputusannya tepat semalam. Ketika berkata tak akan datang ke undangan Karta, jujur, dia teringat pesan Darwis. Lelaki itu selalu mewanti-wantinya untuk tak memberi pengharapan lebih kepada siapa pun yang mendekatinya. Semalam, walau masih sedikit kesal karena dare itu tak berbalas---hanya karena dia keduluan Fitri mengacungkan tangan saat Darwis mendapat giliran---Iif mengakui bahwa pesan Darwis masih (dan akan) terus berbekas dalam benaknya. Pesan yang berguna, kalian tahu. Sekarang, kembali kepada Iif yang masih menikmati udara subuh, fokus gadis itu ternyata sudah tak lagi kepada Karta. Ia melangkah lurus ke arah laut, membiarkan ombak menerpa kakinya yang dibiarkan telanjang. Langkah itu terhenti. Iif menarik napas lagi, lalu membuangnya perlahan-lahan. Relaksasi itu membuatnya terjeda dari memikirkan kesibukan pagi ini yang akan segera terlaksana. Lupakan sejenak teman-temannya di penginapan. Lupakan sejenak Karta. Lupakan sejenak Darwis, Azhar, Fitri, dan Mar. Iif menikmati angin pantai di subuh hari yang dingin. “Sendirian saja, Teh?” Iif teralihkan dan langsung berdecak. Sadar bahwa Azhar mempraktekan intonasi ucapan itu seolah mengajaknya bermain drama. Bahasa kaku, bahasa puitis. “Iya, kenapa? Kamu mau temani saya?” “Memandikan kaki di bawah ombak? Boleh.” Terdengar kecipak langkah kaki dalam air yang bersisian dengannya. Meski begitu, Iif tak lantas menoleh kepada sumber suara. Dia masih menikmati suasana, setidaknya sampai setangkai mawar merah disodorkan ke hadapannya. Mau tak mau, Iif mengernyit. “Apa, nih, maksudnya?” “Permintaan maafku.” “Dapat dari mana?” Telunjuk lelaki itu terarah ke tukang bunga yang parkir di samping kedai yang masih tutup. Arah pandang Iif mengikuti, membawanya kepada seorang bapak. Beliau terlihat membuka mushaf dan membacanya sambil duduk bersila di kursi kedai. Satu helaan napas lolos perlahan dari Iif. Gadis itu mengambil mawar merah dari tangan lawan bicaranya, dan lantas berucap, “Permintaan maaf diterima.” “Terima kasih.” “Kamu kerasukan Izhar, ya?” Tawa menyembur renyah, bersahutan dengan debur ombak di hadapan mereka. “Memangnya gak boleh aku  sedikit mengubah sikap?” Iif mengangkat alis, melirik pemuda itu dengan malas. “Sedikit?” “Aku tahu ini gak akan mengubah apa pun. Setelah hari ini mungkin kita cuma ketemu di reuni ke reuni, dan yang bakal kita lakukan hanyalah bernostalgia. Jadi, apa salahnya aku ngasih kenangan yang baik buat  kamu? Aku gak mau diingat sebagai Azhar si pemaksa.” “Itu adil,” komentar Iif santai, “dan aku juga gak mau diingat sebagai pematah hati orang, sebenarnya.” “Setuju.” Lelaki itu---Azhar---mengangguk takzim. Karena tak ada tambahan ucapan dari lelaki itu, Iif melirik. Yang ia temukan hanya Azhar yang sedang memainkan jemari kakinya dalam pasir. Wajahnya serius. Ada angin apa dia kemari, sepagi ini, dan tahu-tahu mengucap permintaan maaf? Benak Iif memikirkan segala kemungkinan. Apa mungkin gara-gara Karta? Dia mau menyinggung Karta jugakah sekarang? Iif tak berani, dan tak sempat menerka, pun dengan menyuarakan pertanyaannya karena Azhar sudah keburu memulai kembali obrolan mereka. “Orang yang semalam,” kepala itu masih tertunduk serius memandang ombak, “itu benar pacarmu?” “Bukan,” Iif menggeleng, “dia rekan kerjaku di sekolah. Sempat bantu mengajar seni. Pembina pramuka juga.” “Oh,” Azhar menjeda sahutannya, “sudah berapa lama dia mengajar di sana?” “Sekitar tiga bulan,” jawab Iif pendek. “Kamu suka sama dia?” Ish---dan raut wajah Iif menampakkan hal yang sama. Memprotes terhadap pertanyaan yang tidak pada tempatnya itu. Ketika Azhar mengangkat wajahnya dan bisa melihat ekspresi itu, ia terdiam. “Maaf, cuma tanya.” “Sebaiknya jangan dibahas lagi.” “Oke.” Di sisinya, Azhar kembali kikuk seolah takluk. Diam-diam, Iif menikmatinya. Meski begitu, ia tak membiarkan Azhar dalam kertediamannya terlalu lama dengan lanjut bertanya, “Yang lain mau makan di pinggir pantai lagi atau di rumah Diyah saja?” “Yang laki-lakinya pada mau berenang dulu pagi-pagi. Sebentar lagi mereka ke sini.” Azhar menjawab. Pucuk dicinta ulam tiba, dari pintu masuk pantai, Fajar, Rusdy, Beno, dan Maman berlarian, disusul Isyqaq, Darwis, Abram, Herman, Ali, dan Izhar yang berjalan dengan tenang. “Oke,” Iif mengangguk sekali setelah sempat teralihkan ke arah sana, “aku ke rumah dulu kalau begitu---masak. Kalian senang-senanglah.” Tanpa menunggu Azhar mengangguk, Iif berbalik dan melangkah pergi. Tanpa ia sadari, Darwis memperhatikan setangkai mawar merah di tangan sahabatnya itu dengan menyelidik.   ***   Pukul tujuh pagi, sarapan sudah dihidangkan di tempat prasmanan. Tempat prasmanan itu bukan di pantai atau saungnya, tetapi di pelataran rumah Dadang-Diyah.   Setelah semuanya berkumpul, termasuk Izhar dan Mas Sutomo---jangan ditanya ke mana Fitri pergi. Sebelum permainan semalam benar-benar selesai, Darwis mengantar Fitri kembali ke rumahnya. Jadilah, sekarang duduk yang melingkar di pelataran rumah sederhana itu berjumlah dua puluh dua orang. Setelah Isyqaq memimpin doa, mereka makan dengan lahap. Fajar, Maman, Rusdy, Beno, dan Isyqaq menjadi yang paling lahap. Mereka berenang cukup lama tadi sementara yang lain hanya sekadar celup lalu lanjut cari angin di pantai. Obrolan nostalgia berlangsung sepanjang makan. Sesekali, Izhar menyelingi dengan keseruan para pria tadi di pantai yang disahuti oleh Fajar, Herman, Ali, dan yang lainnya. Yang perempuan berkomentar dengan sama hebohnya. Mayoritas, komentar mereka berbunyi keluhan susahnya para pria itu disuruh mandi selesai berenang. Usai sarapan, ada yang kebagian tugas membereskan tempat makan, ada pula yang mencuci piring, ada juga yang merapikan alat masak. Iif  mengomando dan ikut serta para pria merapikan pelataran. “Setelah ini acaranya apa, Syaq?” Herman terdengar bertanya. Isyqaq yang tengah mengangkat kantong sampah, menjawab, “Diskusi sebentar mengenai acara reuni selanjutnya. Pengennya sih kita adakan reuni dengan angkatan lain, kalau perlu sesekolah biar guru-guru bisa ikut juga.” “Memungkinkan, sih, kan ada Iif,” Maman menyeringai, “gampanglah. Iya, kan?” “Bisa diatur,” Iif menyanggupi rencana itu, “asal kita jangan putus kotak saja.” “Nah,” Fajrul menyahut, memunguti daun pisang bekas makan mereka, “makanya, nanti sekalian penutupan, kita sekalian pendataan juga nomor kontak dan alamat tinggal terkini. Biar gampang saling menghubungi.” “Ini masukin,” Rusdy menyerahkan  tumpukan gelas plastik yang tertinggal di teras kepada Ali. Ali  langsung berlalu ke dalam rumah. Tak lama kemudian, kegiatan beberes itu selesai. Pelataran telah bersih disapu dan dipel, perabot bekas masak dan makan sudah rapi dan bersih. Karpet digelar, mereka ke acara selanjutnya, yakni diskusi tentang kelanjutan silaturahmi antaralumni yang dipimpin Azhar sebelum pulang.   ***   Pukul satu siang, Iif sudah di rumah lagi. Kali ini, ia tidak dijemput di alun-alun. Lelah justru membuat tenaga dalamnya mencuat setinggi angkasa sehingga bisa berjalan cepat menuju rumah dengan membawa tas dan tempat bekal. Kantong kudapan dan tempat bekal yang sudah kehilangan isinya membuat bawaannya agak ringan.   Meski begitu, sesampainya di rumah  yang ditujunya bukanlah kasur, melainkan tiga buket bunga mawar merah yang tergeletak mengenaskan di meja. Diangguri. Milik siapa itu? Meletakan bawaannya di sofa ruang tamu, Iif mengamati tiga buket itu. “Teh! Itu buang aja!” Bisikan bernada memerintah yang datang dari Ina membuatnya menoleh. “Ini dari siapa?” “Tiga duda datang melamar umi.” Iif mengernyit, merasa mengetahui siapa yang dimaksud. Jangan-jangan salah satu dari mereka adalah duda yang kemarin pernah menghampiri uminya di rapat PUI? “Umi di mana? Mereka di mana?” “Umi lagi di kamar buku abi, gak tahu lagi apa. Mereka sudah pulang tadi sebelum zuhur.” Sekarang Iif mendengkus. Sembari menghampiri uminya, ia melaksanakan permintaan Ina tadi: membuang tiga buket mawar merah itu.  BERSAMBUNG ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN