*** “Permintaan maaf terbaik adalah perilaku yang berubah, seharusnya kamu tahu itu, Dra.” *** Indra tidak melupakan hukuman untuknya. Hukuman itulah yang membuat mereka terbangun sampai jam empat pagi ini. “Untung tadi kita sudah salat.” Celetuk bernada datar itu kembali memunculkan tawanya. “Untung saja aku paksa kamu tidur awal tadi.” “Hm,” senyuman tipis terulas pada bibir pria itu, “tapi setelah ini kita harus mandi lagi.” “Kamu malas mandi?” “Malas,” Indra mengangguk, “pasti airnya dingin.” “Pria dewasa umur 27 tahun takut air dingin? Tinggal lama di daerah dingin juga.” Mau tak mau Iif memutar bola mata, mengangkat kepalanya agar bisa menatap Indra. “Nanti aku masakkan air hangat saja. Kamu subuh di musala sana.” Indra meliriknya sedikit, “Kok di musala?” “Kok kamu tanya

