Seharusnya, mereka memang menyadari tembok besar di antara masing-masing diri. Seharusnya, dengan segala perbedaan yang ada, keduanya urung untuk bersatu. Sekarang, terbukti, kan? Hambarnya pernikahan ini menyesakkan keduanya. Iif masih duduk di balik pintu, bersandar. Kini, tangisnya sudah sesengukan. “Iif, Bu, bukain, dong. Gak begini caranya.” Suara ketukan pintu kamar itu tidak berubah semakin keras. Ketukan Indra pelan, frekuensinya pun bisa dikatakan tenang. Semakin membuat Iif meragu bahwa Indra benar-benar memahami kegelisahannya. “If? Tolong buka pintunya.” Jangan! Iif meneriaki benaknya. “Selama ini kamu mengerti yang aku inginkan, nggak, sih?” “Saya nggak mau jawab kalau kita nggak berhadapan.” Ugh! Balasan Indra semakin membuat Iif kesal. “Seharusnya kamu tahu kala

