*** “INDRA?! MASIH HIDUP, KAN?!” *** TAK butuh waktu lama, Iif mendapatkan permintaan maaf dari Indra. Lewat telepon. Telepon di malam hari yang sedang dipayungi gerimis manis. Katanya begini: “Saya minta maaf soal tadi sore, If.” Singkat, padat, dan jelas. Satu kalimat yang terlontar tanpa babibu itu membuat Iif tersentak dan lantas menoleh pada jam. Nyaris pukul tujuh malam, azan isya sebentar lagi, baru dua jam setenga dari kepergian Indra ke Depok. Artinya, dia baru sampai ke kota rantaunya itu dan langsung menggapai telepon untuk mengucapkan ini. Menjawabnya, Iif hanya mengangguk meski Indra tak bisa melihatnya, lalu berkata, “Gak apa-apa. Memang aku yang salah, terlalu mau banyak tahu. Sama sekali gak peduli kalau kamu keberatan dengan semua pertanyaan itu.” Lalu

