26 BIBIT UNGGUL

1648 Kata

***   “Iyalah, kan bukan kamu saja yang ‘bibit unggul’.”   ***   “Ayo, ceraikan istri kamu dan akad dengan Iif di depan saya kalau berani. Saya mau lihat perwujudan keberanian yang barusan.” Iif membeku, Darwis membisu. Di antara mereka sama sekali tidak ada yang berani merespons ucapan itu. Kini, ucapan Indra menyisakan dua manusia yang statis di tempatnya masing-masing, berpikiran kosong. Kosong sekali. Entah apa yang ada di pikiran Darwis, tetapi Iif memandangi Indra takut-takut dan sungkan. Ia yang biasanya berani menatap seseorang, sekarang justru menatap apa pun selain Indra. Berbanding terbalik dengan dua orang yang tak berani bergerak itu, Indra berjalan ke arah Darwis sambil terus mendesak ucapannya tadi. “Ayo, saya jadi saksinya.” “Indra,” Iif merasa harus berbica

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN