*** “Memangnya ibadah harus menunggu maksud tertentu? Menghadap ke Allah kok pas ada maunya doang?” *** “Seperti apa, sih, rumah yang kamu mau, Dra? Rumah berlapis emas? Rumah seluas lapangan bola? Rumah bagus dan besar juga percuma kalau penghuninya nggak sejahtera secara batin.” Ya, seperti dirinya saat ini. “Tolonglah,” Iif memulai lagi, “jangan dibuat susah. Mau kamu ajak aku tinggal di kamar kosmu yang sekarang, gak akan jadi masalah buatku. Jangan mengulur-ngulur kesempatanku mengabdi ke kamu, dong. Gak begini caranya, Yah.” Menjawabnya, Indra beranjak, berlutut di hadapan Iif sehingga hanya wajah hingga leher yang terlihat olehnya. Lelaki itu mengulas senyum tipis favorit Iif. Tampan? Jelas! “Saya tertular kamu, suka memancing di air keruh. Bagaimana, dong?” Karena

