Siklus 100 Tahun
Siklus 100 tahun sekali kembali terulang. Sebuah perputaran waktu yang membuat orang-orang taat beragama mengalami kematian akibat wabah secara misterius. Wabah penyakit yang hanya menyerang satu wilayah saja yang telah diberi tanda oleh anggota sang tuan. Sebuah perkumpulan rahasia yang kerap disebut disebut dengan nama Immortality. Banyak yang menganggap sekte tersebut hanya dongeng belaka, tetapi banyak pula yang menganggap mereka ada dan sedang menyelesaikan daftar antrian kematian orang-orang demi kebangkitan sang tuan. Kejadian 200 tahun yang lalu telah menjadi sebuah bukti nyata adanya sekte sesat tersebut. Kini telah memasuki fase ketiga, di mana sebuah teror bermula di sebuah desa yang kerukunan beragamanya terjalin dengan sangat baik.
Sebuah desa yang telah memakan korban berupa kematian seorang pemuka agama beserta istri yang cukup disegani, dan malam itu seorang anak gadisnya mengayuh sepeda dengan sangat kuat. Gadis berkerudung lebar itu baru saja pulang dari makam kedua orang tuanya. Ia masih berduka atas kematian yang merenggut dua sayapnya. Gadis belia tersebut terus mengayuh kendaraanya, sebab ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, sosok hitam besar berusaha mengejarnya, walau tidak berlari tetapi langkahnya sangat lebar ingin menggapai dirinya.
Gadis tersebut meneteskan air mata ketika sampai di depan rumahnya. Ia turun begitu saja lalu mengunci pintu dan semua jendela rumahnya. Jantungnya berdentam tak keruan, sebab bisikan itu semakin nyata di telinganya.
“Ikutlah, orang tuamu kesepian!” bisik suara itu dari dalam rumahnya.
Takut semakin menguasai jiwanya. Gadis itu pun masuk ke dalam kamar dan mengunci lagi pintunya, tak hanya sampai di situ saja, ia pun masuk ke dalam kolong ranjangnya, bersembunyi di sana sembari menyelimuti diri, gigil di tubuhnya membuat giginya bergemeratakan satu sama lain. Dari dalam kolong ranjang itu ia dengar sendiri suara gedoran pintu yang begitu keras. Air mata mengalir mengiringi rasa takutnya yang semakin besar.
Beberapa waktu kemudian, hening tak ada gedoran pintu, gadis itu keluar dari kolong ranjang, melirik jam dinding, sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib. Ia pun memberanikan diri ke luar kamar, melihat keadaan sekitar. Sepi, tak ada lagi gedoran aneh seperti tadi. Gadis itu pun menyunggingkan senyum.
“Mungkin tadi aku terbawa perasaan karena terlalu sedih,” gumamnya dalam kesendirian. Namun, ia sangat yakin kalau bayangan itu nyata. Rasanya ia masih sangat waras walau sedih luar biasa menguasai hatinya.
Gadis berkerudung lebar itu berbalik, dan detik itu juga matanya terbelalak. Sosok hitam besar itu telah mencekik lehernya, tubuhnya terangkat, tak ada jeritan yang keluar. Beberapa detik menggantung di udara, ia pun meregang nyawa, tubuhnya terjatuh lemas, sosok hitam itu kemudian pergi.
***
Pagi harinya kehebohan melanda Desa Sekar Wangi, tubuh seorang gadis ditemukan meregang nyawa ketika seorang warga penasaran mengapa lampu di rumah itu tak menyala dari semalam. Kontan saja para warga kemudian menghubungi kepolisian setempat. Para petugas mulai berdatangan dan membatasi tempat dengan garis kuning kepolisian, menyusuri jejak pertikaian jika ada, atau pun menelusuri barang bukti yang bisa dijadikan petunjuk selanjutnya.
“Dua orang tuanya belum lama meninggal, sekitar seminggu lalu, lalu tiba-tiba dia mati tanpa sebab.” Petugas kepolisian menjelaskan kejadian yang ia catat dari keterangan warga pada AKBP Handoko yang baru saja tiba.
“Bagaimana dengan keluarga yang lainnya?” tanya lelaki berseragam cokelat itu.
“Siap! Hanya ada bibi jauhnya saja. Saat kejadian berlangsungnya bibinya sedang tidak di rumah, mereka menyerahkan semuanya pada kepolisian,” jawab bawahan yang bertugas di bagian kriminal pada atasannya.
“Interogasi bibinya, juga siapa pun yang ada kaitannya dengan gadis ini. Tidak ada yang boleh luput dari jangkauan. Mengerti?” tegas lelaki itu dan dijawab siap oleh bawahannya.
“Lakukan sesuai prosedur juga, minta izin dari keluarganya, kemudian hubungi Dr Budi dan juga Dr Anggun,” perintahnya sang atasan, lalu para anggotanya bekerja sesuai dengan SOP masing-masing. Otopsi akan dilakukan sebab harus ditemukan sebab jelas kematan gadis malang tersebut.
Mayat gadis itu ditutupi dengan kain putih, dibawa ke dalam ambulance untuk diserahkan kepada bagian forensik. Salah seorang petugas kepolisian menemani di dalam mobil. Beberapa menit mobil berjalan meninggalkan desa yang sedang dijangkiti wabah yang sangat aneh, lelaki berseragam cokelat itu membuka maskernya. Tak lama berselang ia bergidik, ada bau menyengat tetapi bukan busuk yang memenuhi indra penciuamannya. Ia pun membuka kain putih yang menutupi jenazah. Namun, seketika tangan mayat itu bergerak menahan pergelangan tangannya. Lelaki itu tersentak, berusaha tetap tenang, ia berusaha melepaskan tangan mayat yang mencengkeram kuat dirinya. Beberapa menit kemudian jeratan itu terlepas begitu saja, meninggalkan jejak pada APD lengkap yang ia kenakan.
Keringat dingin mengalir dari pelipis polisi itu. Kasus kematian akibat wabah di desa di bawah wilayah kepolisiannya memang sangat aneh. Wabah tersebut hanya menyerang orang-orang di desa itu saja, meski demikian semua petugas yang terlibat diwajibkan mengenakan APD lengkap demi menghindari tertular penyakit yang dapat merenggut nyawa dalam beberapa hari saja. Awal mulanya tubuh tetap sehat, lalu flu, demam, batuk, timbul bintik-bintik merah, kemudian mati dengan kondisi bibir seperti orang dehidrasi.
Lelaki muda itu kemudian memasang kembali maskernya sebanyak dua lapis, bau menyengat tersebut semakin menjadi saja. Namun, secara tak sengaja ia memperhatikan mayat tersebut yang jempol kakinya sedikit bergerak ke depan lalu belakang, samar saja. Lelaki itu berkedip cepat, ia tak ingin menanggapi semuanya terlelau berlebihan. Baginya ia hanya kelelahan karena bekerja penuh waktu selama beberapa minggu belakangan.
Baru saja ia menarik napas, supir ambulance secara mendadak menghentikan mobilnya hingga suara decit remnya terdengar memekakkan telinga. Petugas kepolisian itu sempat memegang ranjang mayat di mana gadis itu berbaring.
“Hati-hati,” tegurnya.
Sopir ambulance menoleh ke belakang, ia memandang wajah petugas tersebut dengan keringat yang membasahi kacamata bening untuk bertugas.
“Tadi mayatnya bangun dan duduk gitu aja, makanya saya rem mendadak,” ujar supir itu sembari menyeka keringat.
Namun, tidak bagi petugas kepolisian itu. Mayat tersebut tetap terbaring kaku tanpa berpindah ke manapun kecuali hanya jempolnya saja yang sedikit bergerak, tadi. Lalu embusan angin dingin datang menyapa dua orang yang masih mendampingi mayat gadis itu. Tak lama kemudian, sosok berjubah hitam duduk di sebelah petugas kepolisian. Ia masih tak menampakkan diri. Sosok pelayan sang tuan hanya memberikan tanda pada lelaki berseragam cokelat dalam bungkus APD itu. Tanda kematian berupa ular hitam yang masuk ke dalam celah pori-pori.
Ambulance itu berhenti di bagian kepolisian terlebih dahulu. Selanjutnya diserahkan pada bagian yang berwenang sebelum ditangani oleh dr. Budi juga dr. Anggun. Petugas kepolisian itu masuk kembali ke dalam ambulance, berdua bersama supir mereka menuju rumah sakit tempat di mana para penderita wabah menjalani pemeriksaan. Namun, satu hal naas terjadi, mobil itu oleng ketika di siang hari yang terik remnya blong, lalu menabrak batas jalan dan terbalik, membuat dua orang laki-laki di dalam sana bersimbah darah dan menanti detik-detik kematian. Sosok berjubah hitam itu menampakkan diri. Menarik keluar nyawa petugas kepolisian yang telah berani ikut campur dengan kematian gadis tersebut. Itu hanya peringatan di awal saja. Jika ada yang terlalu jauh mencari tahu, tentu akan bernasib sama dengan korban yang baru saja mati.