Soledad berlari lalu naik ke dalam jeepnya, harusnya bukan wanita berambut merah itu yang menyetir, melainkan salah satu rekannya. Namun, hanya ia yang selamat dari goncangan maut dari ruang pengorbanan. Ia terisak membelah jalan menuju losmen yang Eda sewa, sesekali air matanya tumpah ketika menyadari teman-temannya menjadi korban sebuah sekte yang telah lama ia cari tahu awal mula dan penyebarannya. Sekte yang hanya tinggal satu langkah lagi menantikan kebangkitan sang tuan. Sudah dua sosok hitam yang bangkit, hanya perlu satu lagi untuk menyempurnakan seluruh penantian yang amat panjang.
Wanita berdarah Spanyol itu menepikan jeepnya ketika gerbang losmen telah dibuka oleh penjaga, ia kemudian membawa tas yang berisikan patung ular itu ke dalam kamar. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan penjaga losmen lain yang menatapnya dengan tatapan aneh, sebab hanya datang sendirian. Seharusnya mereka berlima dan membuat kebisingan di dalam losmen yang sunyi di dekat perkebunan itu.
“Mana yang lain, Senorita?” tanya penjaga losmen sembari menerangi jalan.
“Desaparecer. Necesito dos platos de gazpacho y no te olvides del vino. Rápido!” jawab wanita itu sambil menghapus air matanya
“Bien.” Penjaga losmen itu hampir tak percaya dibuatnya.
Usai memberi perintah pada penjaga, Eda masuk ke kemarnya, meletakkan ransel di atas ranjang dan menyusun patung ular itu di sebelah benda yang juga sama. Patung yang ia dapatkan berkat pencariannya yang gigih di Jepang beberapa tahun yang lalu. Eda bergumam sendirian sembari melepas satu per satu pakaiannya, ia hanya mengenakan handuk dan masuk ke dalam kamar mandi, hingga tanpa ia sadari sosok bertudung hitam itu telah memperhatikannya dari tadi. Sosok yang tak terugugah sama sekali dengan tubuh wanita sekalipun teramat cantik dan seksi. Sosok yang hanya menginginkan bagian tubuh yang penting saja. Eda termasuk wanita cerdas. Akan sangat baik jika kepalanya dibelah dan otaknya diambil untuk kebangkitan sang tuan.
Selama beberapa waktu Eda merendam dirinya di dalam air hangat yang dicampur garam untuk melepaskan lelah di tubuhnya. Penjaga losmen masuk kedalam kamarnya sebab telah beberapa kali mengetuk tidak juga ada jawaban. Dua mangkuk gazpacho dan sebotol wine dengan aroma anggur yang sangat wangi lelaki itu letakkan di atas meja. Ia tak mau berada di dalam kamar Eda lama-lama, meski wanita Spanyol itu terlihat begitu menawan dan cantik sejak pertama kali berjumpa. Bukan tanpa alasan, melainkan lelaki itu merasa ada sosok lain yang senantiasa mengikuti wanita berusia tiga puluh tahun itu. Dan benar saja, ketika penjaga losmen itu keluar dari kamar Eda, pintu kamar itu terbanting dengan sangat kuat padahal ia sama sekali belum menyentuh gagang pintu.
“Semoga wanita itu baik-baik saja,” ucap penjaga losmen sembari bergidik ngeri.
Eda mengenakan celana panjang dan baju hangat untuk mengusir hawa dingin, sebab Spanyol sebentar lagi akan memasuki musim salju. Perutnya langsung berbunyi ketika hidangan dengan cita rasa pedas itu begitu menggoda seleranya, berwarna hitam dengan aroma bawang yang sangat kuat. Sosok bertudung hitam yang tanpa disadari Eda menghilang dari kamar begitu saja. Namun, sebuah lalat hijau datang dari celah jendela dan masuk ke dalam gelas yang telah diisi penuh wine oleh Eda. Usai menyantap hidangan itu hingga habis tak bersisa, dengan tanpa rasa curiga sedikit pun, wanita berambut merah itu menenggak wine tanpa mengetahui seekor ular kecil berwarna hitam telah masuk ke dalam bibirnya perlahan-lahan, berenang di dalam wine yang bercampur air liur itu lalu turun ke tenggorokan Eda. Ular kecil itu menetap di sana. Kemudian di leher wanita Spanyol tersebut muncul tanda hitam persis dengan gambar ular kecil. Terasa gatal, sahabat Anggun itu menggaruknya, hanya itu saja lalu ia pun seperti tidak merasa ada yang aneh sama sekali. Kemudian mencari ponsel yang terdengar suara getarannya.
Ponsel Eda berdering kembali ketika ia sedang membereskan susunan huruf kuno dari temuannya di Jepang dan Spanyol. Wanita itu membuka handphonenya, terlihat beberapa gambar jenazah dengan tanda-tanda yang sangat ia kenali diterima. Pesan dari Anggun, sahabatnya yang berada di Indonesia. Negara yang akan ia kunjungi dalam waktu dekat ini. Selain rindu kampung halaman, juga ada bisnis yang Eda jalani bersama tuan duda. Atau mungkin sekalian saja bertemu dengan sang mantan pacar—Ryan, yang bagi Eda tak jelas apa pekerjaannya sampai sekarang.
Gegas Eda menyusun semua artefak kuno baik berupa patung atau huruf-huruf kuno yang telah ia dan timnya temukan. Di ranjangnya kini telah tersusun potongan demi potongan kejadian yang abadi dalam sebuah kulit kayu dan juga taring binatang. Dengan berbekal kaca pembesar dan senter, Eda menerjemahkan huruf kanji kuno dari Jepang itu satu per satu meski memakan waktu berjam-jam. Sebuah wabah yang membuat beberapa biksu seperti kehilangan kesadaran lalu melompat dalam kawah gunung Fuji, menyisakan seorang shogun yang menyimpan patung ular yang kemudian Eda temukan. Lalu berlanjut pada wabah kedua, yang menempel layaknya benalu pada flu Spanyol 100 tahun lalu. Wabah itu begitu mahir bersembunyi, hanya sedikit orang yang curiga, sebab mereka tengah disibukkan dengan pandemi di waktu itu. Wabah itu membuat beberapa suster kehilangan kesadaran dan mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri pada seutas tali, hingga bangkitlah pesuruh kedua sang tuan dari patung kedua yang ia temukan di ruang pengorbanan.
Wanita Spanyol itu beberapa kali mencoba menghubungi Anggun, tetapi ponsel sahabatnya tidak dapat dihubungi. Eda kemudian memeriksa laptopnya, ia membuka email dari petinggi perusahaan yang mendanai pencariannya. Lelaki berdarah Jepang yang berani membayar mahal Eda dan teman-temannya.
Ketika mengirim email balasan bahwa dua buah patung ular itu telah ia temukan, dan ia pun akan segera kembali ke Indonesia, lampu di kamarnya mendadak padam hingga wanita itu mengumpat dan mengambil senternya. Dengan langkah perlahan, Eda berjalan ke lantai bawah ingin mencari penjaga losmen. Namun, ketika sampai di depan pintu dapur, wanita itu terpekik, lelaki genit tersebut ia temukan telah mati tergantung dengan lidah menjulur keluar.
Eda melangkah dengan penuh rasa waswas. Ia memegang tubuh penjaga losmen itu yang telah berubah menjadi sedingin es. Di telapak kakinya terdapat tanda yang sama persis seperti pada foto jenazah yang dikirim Anggun.
“Noh,” ujar Eda sembari menggeleng. Terlalu cepat sosok itu bergerak dan membunuh semuanya satu demi satu.
Beberapa kali sebuah ketukan muncul dari atap rumahnya, awalnya perlahan lalu berubah menjadi suara orang berlari. Paham apa yang mengejar dirinya, Eda berlari sekuat tenaga menuju kamarnya. Ia ingin kabur dan kembali ke Indonesia secepatnya. Namun langkahnya terhenti, sosok bertudung hitam itu telah menahan kakinya lalu melempar Eda melewati jendela hingga kacanya hancur dan tubuh Eda melayang di antara salju yang baru saja turun.