Berhutang Penjelasan

1344 Kata
Asha menghidu setiap jengkal seragam kerja Harris yang kemarin di gunakan untuk bertugas menghalau para demonstran di Gedung DPR RI Ibu Kota Jakarta. Bukan tanpa alasan, Asha masih saja ingat jika wanita asing di telpon itu mengatakan akan menemui Harris kemarin. Dalam otak dangkalnya, Asha berpikir mungkin mereka bertemu setelah Harris bekerja hingga Harris pulang larut tadi malam.   "Gak ada bau aneh, cuman bau keringat Mas Harris kayak biasa aja! Apa Mas Harris memang gak ketemuan sama wanita itu?" Asha bermonolog seraya memasukan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci yang sudah dia setel lalu ia operasikan kemudian.   Setelah melihat isi lemari es dan menimbang-nimbang, Asha pun memutuskan untuk membuat sandwich sebagai menu sarapan pagi ini. Sandwich memang menu praktis yang bisa dibuat tanpa perlu takut bau masakan menempel di tubuh. Sebab itu lah Asha memilih untuk mandi terlebih dahulu.   "Aaahh! Sha!" jerit Harris mengaduh dari dalam kamar tidur. Asha berhenti bergerak memastikan jika suara itu memang suara Harris. Meski dia juga tak segera naik ke atas untuk menemui Harris.   Di atas tempat tidur Harris kesulitan mengangkat badannya, pinggangnya seperti terikat sesuatu erat sekali. "Asha!" teriaknya sekali lagi yang kemudian menampilkan Asha di depannya dalam beberapa detik saja. "Mas Harris kenapa? Sini aku bantu!" Asha dengan sigap meraih tubuh Harris yang dua kali lipat lebih berat dari tubuhnya sendiri. Menggesernya agar terduduk menyandar di kepala ranjang. "Aaahh! Pinggang saya sakit sekali!" keluh Harris seraya mengurut pinggangnya sendiri.   Mendengar keluhan Harris, Asha lantas mundur beberapa langkah. Kedua alisnya menyatu, sorot matanya tajam menatap Harris yang masih sibuk sendiri dengan kesakitannya. Pandangan mata Asha kabur dengan bayang-bayang yang di panggil memorinya tentang dua bulan pertama pernikahannya. Dimana Asha dan Harris banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Hari dimana Harris mengaduh keluhan yang sama setelah semalaman 'menghajar' Asha dengan b****i yang menggebu. Asha masih ingat betul jika Harris mengeluhkan sakit pinggang yang sama.    Bayangan-bayangan yang di panggil memeorinya kini memudar, berganti dengan bayangan kotor akan wanita asing yang dua hari ini berhasil membuat Asha hampir gila. "Apa sakit pinggang Mas Harris karena bersama wanita itu? Apalagi sebelum pergi kami memang belum 'menyelesaikannya'. Setega itukah Mas Harris padaku?" gumam Asha yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Asha terduduk menyandar tembok. Kakinya sudah terlalu lemas menopang tubuhnya.   Harris mengerutkan dahi, "Kamu gak apa-apa Sha?" tanya Harris keheranan melihat tingkah aneh Asha. "Mas Harris harus jelaskan sekarang juga siapa. wanita itu?" teriak Asha. Harris yang sudah duduk di tepi ranjang menunduk mengurut pelipisnya. Dia sudah mulai lelah akan pertengkarannya dengan Asha yang kembali mengungkit wanuta lain di antara mereka. "Mas Harris masih saja diam. Apa yang bisa aku simpulkan dari diamnya Mas Harris? Diamnya Mas Harris menjelaskan kalau Mas Harris berselingkuh. Ya kan!?" bentak Asha yang sudah lepas kendali. Ini adalah kali pertama Asha membentak suaminya dengan keras. "Jangan bilang kalau sakit pinggang Mas Harris karena habis tidur dengan wanita lain" tambah Asha menurunkan nada bicaranya namun dengan tekanan yang membuat Harris geram. "Asha! Jaga mulut kamu!" pekik Harris saat tangannya sudah melayang di udara. Asha menunduk memegangi kepalanya. Dia sudah tak peduli jika saja Harris menyakiti fisiknya dia akan pergi saat itu juga. Untunglah Harris masih waras untuk tidak berbuat kasar kepada istrinya. Harris memilih meninggalkan Asha yang gemetaran menuju kamar mandi. "Panggilan telpon dan pesan singkat dari wanita itu nyata Mas! Aku hanya tidak bisa menangkap basah kalian yang tengah bersama." balas Asha tak kalah berteriak saat Harris sudah meninggalkannya. Asha tergugu. "Mungkin juga aku belum memergoki kalian." tambah Asha lirih seperti bisikan yang sudah jelas tak akan terdengar Harris. Dia tengah mencari-cari udara yang kesulitan ia dapatkan saat rasa dadanya terasa begitu sempit menghimpit. Rasanya Harris sengaja menambah beban tubuhnya dengan tidak berusaha menyelesaikan konflik mereka.   Di dalam kamar mandi, Harris bagai tersambar geledek di siang bolong. Mendapati tuduhan tidur dengan wanita lain hanya karena sakit pinggang. Benar-benar tidak masuk akal. "Asha sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia menjadi tak terkendali seperti tadi?" tanya Harris yang membasahi tubuhnya dengan shower yang memancarkan air hangat. Harris benar-benar tak habis pikir dengan sikap Asha. Mau bagaimana lagi, cemburu memang membuat orang jadi tidak waras!   ***   Asha kembali turun ke dapur dengan perasaan yang hancur lebur. Asha bahkan lupa jika ia belum sempat mandi. Asha terlalu lama terisak sendiri hingga melupakan pekerjaan-pekerjaannya. "Astaga aku masih belum menyiapkan sarapan!" katanya yang memaksakan diri untuk bangkit.   Mata Asha masih bengkak dan merah saat Harris sekilas menatapnya sebelum akhirnya terduduk di meja makan. Asha mengulurkan satu piring yang di isi empat tangkup sandwich dan secangkir kopi hitam tanpa gula yang masih mengepulkan asap panas.   Asha dan Harris selalu duduk berhadapan membuat Asha leluasa melihat mimik wajah Harris setiap kali menyantap makanan yang di buatnya. Begitupun dengan pagi itu, Asha menangkap ekspresi aneh pada raut wajah Harris saat menyantap sandwichnya. Meski begitu Asha tak ingin repot bertanya, Asha memilih menyimpulkan sendiri jika Harris masih di kelilingi amarah.   Harris sudah menghabiskan tiga tangkup sandwich dan secangkir kopi pahit dalam diam. Ini adalah kali kedua mereka sarapan dengan suasana yang cangung. "Terima kasih." ucap Harris lirih setelah berdiri dari tempat duduknya. Harris bahkan tak menatap Asha saat mengucapkannya. Begitupun dengan Asha yang memilih memainkan cangkir teh hijau kedua yang dia buat tanpa gula. Entah kenapa Asha ingin menyempurnakan siasana hatinya dengan rasa teh nya.   ***   Jika biasanya Asha dengan senang hati membuka pintu gerbang ketika Harris hendak pergi bekerja, dua hari ini Harris melakukannya sendiri.   Harris yang sudah di ambang pintu saat membalikan badannya untuk kembali ke dapur menemui Asha yang masih betah duduk di tempat yang sama dengan posisi yang sama. Harris melirik arlogi di tangannya untuk memastikan jika masih ada waktu sepuluh menit untuk bicara dengan Asha.   "Ketinggalan apa?" tanya Asha ketus saat Harris sudah berdiri di hadapannya. "Saya cuman mau bilang kalau saya tidak pernah selingkuh. Kamu gak perlu capek memikirkan hal-hal negatif tentang saya." aku Harris dengan nada normal dan mimik muka lurus. Harris tengah berusaha memperbaiki hubungannya dengan Asha. Meski kalimat tersebut tak banyak membantu. Asha mendongakan wajahnya, mencari sorot mata Harris yang berdiri menjulang di hadapannya. Asha menginginkan penjelasan yang gamblang bukan sekedar pengakuan subyektif sebelah pihak. Asha sudah terlalu lama menahan kesal akan diamnya Harris, hingga yang keluar dari mulutnya hanya kata, "Oke."   Harris menarik napas panjang dan dalam, dia tak ingin terbawa emosi. Dengan hati-hati Harris berseloroh, "Kecurigaan kamu sama saya mengubah rasa makanan yang kamu buat." tambah Harris. Dengan langkah cepat Harris sudah menghilang di balik pintu yang kini tertutup.   Asha masih duduk di tempat yang sama. Masih memegang cangkir teh yang sama. Mencerna kata-kata Harris agar bisa menenangkan hatinya, meski nyatanya tak bisa. Asha tidak mungkin percaya begitu saja hanya. Ego Asha berkata panggilan telpon dan pesan singkat itu sudah cukup membuktikan kecurangan Harris terhadapnya.   Asha meraih piring yang menyisakan satu tangkup sandwich. Ia merasa lapar sebab belum sarapan tadi. Tepatnya memang sedang tidak ingin sarapan. "Aaahh apa ini!" teriak Asha melepehkan sandwich yang baru saja ia gigit. Tiba-tiba Asha ingat akhir kalimat Harris 'Kecurigaan kamu sama saya mengubah rasa makanan yang kamu buat'. "Astaga Mas Harris kamu kok bisa sih menghabiskan tiga tangkup sandwich ini. Ini kan asin sekali!" keluh Asha bermonolog dengan nada kesal.   Rasa bersalah pun kembali menjalar di sekujur tubuh Asha, menjerat kakinya hingga tak bisa bergerak bahkan satu langkah saja. Asha kemudian meraih ponselnya, lima menit ia habiskan untuk menimbang hingga ia yakin untuk mengirim pesan singkat pada Harris.   Istriku 'Aku minta maaf untuk sandwich yang keasinan Mas!' (emoticon tangan yang dilipat)   Pesan balasan di terima tiga jam kemudian saat Asha sudah membereskan dapur, mandi dan menonton berita televisi hari itu.   Mas Harrisku 'Gak apa-apa. Saya masih suka makanan kamu.'   "Ih aku yang salah aja, mulai tebar pesona! Berlagak jadi suami super baik yang masih bilang suka sama makanan istrinya yang keasinan. Nyebelin banget sih!" kata Asha bicara sendiri.   Istriku 'Aku masih marah sama Mas Harris! Mas Harris masih berutang penjelasan tentang wanita itu, dan aku masih menunggu penjelasan itu!'   Pesan terkahir Asha itu tak berbalas meski sudah ada tanda centang biru yang menunjukan bahwa Harris sudah membacanya. Bahkan saat status Harris sedang online pesan terakhir Asha memang sengaja tak di balas.   ***   Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN