Cemburu Dan Cinta

1086 Kata
Sudah hampir sepuluh menit Asha menatap layar ponsel yang menampilkan kontak lengkap Harris, tetapi jarinya tak juga menyentuh simbol telpon hijau untuk menyambungkannya. Ego Asha terlalu kuat menahan hatinya yang sudah berontak akan kelegaan tentang kabar Harris yang tak juga kembali padahal malam sudah sangat larut.   Asha memilih gusar sendiri dengan perasannya ketimbang harus menurunkan egonya untuk menghubungi Harris secara langsung.   Meski berkali-kali tayangan berita di televisi yang menampilkan kericuhan demonstrasi selalu memenuhi kepala Asha berdesakan. Mata lensa kamera yang berkali-kali menyorot beberapa anggota polisi terluka hingga diantaranya dilarikan ke rumah sakit. Pun dengan beberapa mahasiswa yang juga jatuh pingsan akibat berdesakan.   'Ceklek'   Suara pintu terbuka yang akhirnya membuyarkan bayangan-bayangan kabut Asha. Harris berdiri di ambang pintu sementara Asha membatu di sisi tirai dengan tubuh menghadap Harris hingga pandangan mata mereka pun bersirobok sepersekian detik. Hening membahana sebelum kemudian Harris memecahnya. "Belum tidur?"   Asha serba salah saat menyadari betapa berantakan dan kacaunya Harris malam itu tapi melihat ekspresinya yang dingin tak pelak membuat sudut hati Asha kembali tersulut api. "Baru mau tidur!" jawab Asha ketus. Asha pun berpaling menginjak bumi lebih keras dari biasanya meninggalkan Harris yang masih betah berdiri di ambang pintu rumah mereka.   Harris berjalan mengekori Asha setelah sebelumnya menutup dan mengunci pintu rumah bergaya modern minimalis itu.   ***   Di dalam kamar pun Harris dan Asha masih tak saling menyapa. Tak ada juga yang berinisitif untuk mencairkan suasana. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, meski sebenernya mereka saling memerhatikan satu sama lain.   Harris sudah keluar dari kamar mandi, saat Asha tengah berguling-guling dengan novel tebal di tangannya. Harris pun sudah berpijama meski tangannya masih sibuk dengan handuk yang mengusap puncak kepalanya. Bau shampo mentol dari rambutnya yang masih basah menusuk-nusuk hidung, membaur dengan udara di kamar tidur mereka. Entah berapa banyak Harris menggunakannya. "Mau kemana tengah malam begini?" tanya Asha saat melihat suaminya sudah meraih gagang pintu kamar, hendak keluar. Harris hanya melirik sebentar ke arah Asha sebelum menjawab, "Saya lapar, mau cari makan dulu di dapur." jawab Harris kemudian menghilang di balik pintu.   ***   Di atas meja makan ada tahu goreng, kerupuk udang dan sup ayam yang sudah dingin meski wanginya masih begitu mengugah selera. Apalagi dikala lapar melanda. Harris kemudian menggeser kursinya mencari posisi nyaman untuk segera mengisi perutnya yang sudah keroncongan.   "Hanya menghangatkan sup saja tidak akan lebih dari lima menit!" decak Asha yang tiba-tiba muncul menyambar mangkuk sup ayam Harris lalu menumpahkannya ke dalam panci kecil untuk kemudian ia hangatkan.   Harris mengulum senyum, "Saya sudah lapar!" ujarnya seraya memerhatikan setiap gerakan Asha yang membelakanginya. Asha menyadari Harris tengah memperhatikannya. "Aku haus Mas! Makanya ke sini." celetuk Asha sewot. Dia pun membuka pintu lemari es, menumpahkan satu gelas air dingin lalu meneguknya hingga habis. Kalimat tersebut juga Asha gunakan sebagai penegasan jika dia turun ke dapur untuk dirinya sendiri. Meski penegasan tersebut sudah jelas gagal.   "Makasih banyak ya." lirih Harris seraya menyentuh tangan Asha yang tengah menata nasi dan lauk di atas meja makan, tepat di hadapan Harris.   Asha tak bergeming baik atas sentuhan lembut Harris di punggung tangannya maupun ungkapan 'terima kasih' yang keluar dari mulut Harris. Tanpa mengeluarkan kata sedikitpun Asha beranjak meninggalkan Harris yang tak membuang waktunya untuk segera menikmati makan malamnya yang sangat terlambat.   Dari sudut tembok dapur Asha berhenti sejenak, mengontrol suaminya yang tengah lahap menyantap masakannya. Namun di saat yang sama tengah kesakitan sebab ada beberapa luka lebam di pipinya hingga sedikit menghambat aktifitas makannya.   Asha mendengus kesal, "Kenapa sih aku harus merasa bersalah hanya karena aku gak menemaninya, padahal jelas-jelas Mas Harris punya hubungan gelap dengan wanita lain. Aku ini memang payah!" ujarnya bermonolog.   ***   Setelah perutnya terisi penuh Harris kembali ke kamar tidur, meraih gagang pintu dan menariknya pelan. Pelan sekali. Harris tak ingin menggangu Asha yang mungkin sudah terlelap. "Loh masih belum tidur juga?" tanya Harris keheranan saat mendapati Asha terduduk menyandar di kepala ranjang. Padahal tadinya Harris sudah yakin jika Asha sudah meraih mimpinya.   "Mas Harris gak usah banyak tanya deh. Sini duduk!" pinta Asha yang kemudian mengubah posisi duduknya menuju tepi ranjang, meraih kotak p3k yang sudah di siapkan Asha di atas nakas.   Harris pun mengerti maksud Asha dan menuruti perintah istrinya untuk duduk berhadapan. Dengan cekatan, Asha mengompress beberapa luka lebam di wajah Harris. Persis seperti orang habis tawuran. Jarak wajah mereka dekat sekali. Harris memerhatikan Asha lekat, matanya tak rela kehilangan momen meski hanya untuk berkedip. Asha tahu, ia tengah menjadi pusat perhatian Harris. Namun Asha memilih untuk membuang pandangannya dari pada harus bersitatap langsung dengan Harris yang mungkin akan membuat jantungnya mencelos.   Hampir lima menit posisi mereka tak berubah. Selama itu pula kesunyian menguar hingga ke sudut ruangan. Sunyi sekali. Hanya ada suara nafas teratur yang saling bersahutan. "Kamu cantik Sha!" puji Harris dengan suara yang berat dan lirih. Asha seketika berhenti dari kegiatannya, memberanikan diri bersitatap dengan mata elang Harris lalu berkata, "Lagi kayak gini gak usah gombal. Gak ngaruh!" seraya menekan gemas luka lebam Harris di pipinya. "Aaaw! Pelan-pelan." racau Harris. Asha mendelik kemudian, "Mas Harris kok jadi manja sih!" protesnya ketus.   Asha mempercepat gerakannya yang sudah turun di lengan Harris yang juga terdapat beberapa luka sayatan kecil menganga. Dia meneteskan antiseptik di luka tersebut kemudian menutupnya dengan plester. "Udah! Aku mau tidur sekarang." lanjut Asha menutup kotak p3k dengan kasar, meletakannya di atas nakas lalu naik ke tempat tidur dan menarik selimut dengan cepat lalu berbalik memunggungi Harris. Sementara Harris masih saja di tempat yang sama, betah memerhatikan Asha yang kini sudah terlelap pergi ke alam mimpinya.   ***   Asha terbangun tepat pukul lima lebih lima belas menit meski tanpa alarm di sisinya. Kegiatan ini seperti sudah menyatu dalam dirinya. Otaknya seperti sudah disetel untuk mengirim sinyal ke saraf matanya setiap pagi.   Asha beranjak setelah sebelumnya menyibak selimut dan mengerakan kepalanya kebelakang untuk sekedar melirik Harris yang masih terlelap memunggunginya. Asha kemudian berputar mengintari tempat tidur king size yang dulu ia pilih sendiri model, motif hingga warna ranjang kayunya yang kokoh. Asha menekuk lututnya setengah untuk mendekatkan matanya ke wajah Harris, memeriksa setiap luka yang semalam ia obati. Dalam posisi ini, jelas saja membuat degup jantung Asha berlarian tak terkendali. Ada rindu yang menggebu meski hanya sekedar menyentuh lembut wajah Harris yang kini tak bisa ia gapai sejak terbangun tembok ego yang menjulang tinggi memisahkan kehangatan yang selama ini dia cecap bersama Harris.   "Mas Harris ganteng banget sih, tapi kalau sudah bangun gantengnya beku sama ekspresi dinginnya." lirih Asha sedikit sebal. "Aku kangen tau Mas! Kenapa sih kamu harus punya hubungan sama wanita lain? Aku kan jadi gila!" lanjut Asha bicara dengan dirinya sendiri.   ***   Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN