“Aku udah tahan untuk gak bicara sejak makan malam tadi. Aku gak mau merusak suasana, Mas.” ungkap Asha menumpahkan isi hatinya yang tertahan.
Rahang Harris menguat. Wajahnya yang sejak lama memerah akan gairah kini putih pucat. Ada amarah dan takut yang ketara di netranya, tapi entah untuk apa. Asha masih menunggu reaksi Harris yang bungkam. Di saat seperti itu hanya tatapan tajam keduanya yang saling beradu. Jika saja tatapan bisa membunuh, kali ini milik Asha yang akan membuat Harris terkapar. Asha yang paling tersakiti, namun sorot matanya begitu menghunus. “Mas Harris gak mau jelasin apa-apa tentang wanita itu?” celetuk Asha dengan penekanan kalimat di mana-mana yang telak membuat Harris semakin ciut dan takut.
Asha mendengus kasar akan diamnya Harris. Hatinya sudah cukup hancur dengan datangnya perempuan lain di malam hangat mereka. Diamnya Harris justru mengamini kekacauan mereka.
Asha meraih pakaian dalamnya yang berserakan di atas tempat tidur. Dan hendak beranjak turun dari tempat tidur untuk memungut lingerie nya yang tercecer di lantai akibat ia lempar sembarang saat b****i menyelimuti. Harris meraih tangan Asha menatapnya dengan sayu bak anak kucing yang butuh s**u induknya. “Saya tersiksa jika kamu menggantung saya, tolong bisa kita selesaikan dulu ini.” Harris membuka telapak tangan, menampilkan k****m yang entah sejak kapan kemasannya sudah sobek setengah. Suara Harris lirih dan berat mengiba pada Asha.
Asha tidak bisa menahan untuk tidak mendelik kasar. Asha lebih tersiska lahir dan batin. “Aku juga tersiksa Mas! Apalagi di saat seperti ini Mas Harris masih saja...” suara Asha terkecat oleh gelombang yang menekan tenggorokannya. Sesak sekali.
Hingga sedetik kemudian butiran bening yang menumpuk di pelupuk matanya tumpah ruah. “Aku hanya minta Mas Harris jelasin siapa wanita itu, bisa?”
Entah apa yang membuat Harris begitu sulit untuk bicara hingga tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Harris hanya menatap Asha yang sudah berlinang air mata, seraya tangan kekarnya lebih keras mencekal Asha. “Mas Harris tolong jangan sakiti mental dan fisik ku.” lirih Asha dengan penekanan kata ‘fisik’ sebagai isyarat kesakitan di tangannya. Harris tergesa melepaskan remasan tangannya, tanda merah besar tergambar jelas di atas kulit Asha yang putih. "Aw...." Asha mengaduh kesakitan. Jika saja Harris tidak melepaskannya cepat, mungkin saat ini tulangnya sudah patah.
Asha melanjutkan langkahnya yang terhenti. Bersiap dengan pijama normal untuk tidur. Asha memunggungkan badannya dari posisi Harris yang masih betah berdiri tanpa sehelai benang pun menutupi.
Di saat yang sama Asha masih bergelut dengan perasaan hancur yang tak bisa ia tahan. Pijama yang baru saja ia kenakan sudah terlanjur basah dengan deraian air mata yang tak kunjung berhenti.
“Diam nya Mas Harris sudah jelas membuktikan wanita itu spesial untuknya.” batin nya bergejolak membubuhi mantra-mantra negatif agar hatinya semakin panas.
***
Sejak menikah dengan Harris Asha sudah terbiasa bangun pukul lima lebih lima belas menit, begitu pun pagi itu. Pagi yang suram setelah kehangatan semalam mendadak raib oleh hadirnya orang ketiga.
Tanpa berniat melirik Harris di belakangnya, Asha menyibak selimut dan turun dari tempat tidurnya. Seketika hatinya hancur saat Asha mendapati Harris yang masih tak berpakaian tertidur pulas dengan k****m yang sejak semalam sudah digenggamnya. Asha merasa bersalah menghukum Harris seperti itu. Hatinya tak kuat melihat Harris harus kembali menahan birahinya entah sampai kapan.
“Mas Harris juga menyiksaku dengan tidak memberikan penjelasan apapun tentang wanita itu.” mantra negatif itu kembali ia bubuhkan di kepalanya sendiri. Sengaja ia lakukan agar Asha tak perlu merasa seperti pelaku kejahatan.
Asha kemudian pergi, melakukan aktifitas paginya seperti biasa. Hatinya memang dongkol, tapi tak sedikitpun terlintas untuk mengabaikan kewajiban paginya mengurus keperluan Harris. Asha tetap membuat sarapan dengan kopi hitam tanpa gula yang masih mengepulkan asap panasnya. Asha juga menyiapkan seragam kerja Harris dan keperluan lainnya tanpa salah. Berselang satu jam dari jadwal bangun tidur Asha, Harris muncul dengan seragam lengkap yang sudah rapi dan wangi. Menuruni anak tangga menuju dapur, melangkah mendekati Asha dengan wajah lurus seolah semalam tak ada amarah. “Mas Harris mau apa?” tanya Asha yang mundur dua langkah saat Harris mendekati nya.
Sepertinya Asha masih tak rela disentuh setelah hatinya terbakar cemburu. Sialnya Harris seperti sengaja menggantung perasaan Asha dengan bersikap normal. Padahal Harris bisa dengan mudahnya menjelaskan wanita asing itu, jika dia mau.
Harris menutup matanya beberapa saat, mengeratkan giginya hingga tulang rahangnya mengeras. Ada perasaan asing yang tergambar di wajahnya saat Asha untuk pertama kalinya tak ingin di sentuh bahkan di dekati.
Tak mau larut dalam emosi, Harris kemudian duduk berhadapan dengan Asha. Keduanya hanya tersekat meja makan yang tak terlalu besar. Menyantap sarapannya dengan kepala menunduk dan tak sedikitpun melirik Asha. Begitupun dengan Asha yang memilih melamun saat menemani suaminya sarapan bubur ayam yang ia buat. Pagi itu hening, hening sekali. Hanya suara sendok dan piring bertabrakan yang terdengar nyaring. Sehening itu.
“Hari ini saya akan pulang terlambat.” ujar Harris memecah sunyi. Asha mendongak wajahnya sejenak agar lurus menatap Harris yang sibuk dengan makanannya.
“Udah tau!” ketus Asha segera menunduk dan memainkan sedok di dalam cangkir teh nya.
“Tau dari mana?” tanya Harris menghentikan suapan sendok yang penuh ke mulutnya.
“Mas Harris besok bisa ketemu di tempat biasa ya, sayang. Isi WA nya kan begitu.” Asha mencecap teh hijau yang sengaja tak di campur gula pagi itu. Katanya biar sekalian pahit seperti perasaanya. Meskipun sebenarnya dia lebih suka dengan sedikit gula.
Harris mendengus pelan, kesabarannya sedang diuji saat Asha mengaitkan ucapannya dengan kejadian semalam. “Saya di tugaskan untuk kawal demo mahasiswa di Gedung DPR RI yang di khawatirkan akan anarkis.”
Deg...
Hati kecil Asha sebagai seorang istri tergores. Seketika rasa khawatir mencuat kuat sekali. Tentu saja karena ia tahu suaminya akan bekerja di tengah bahaya hari itu. Hatinya ingin sekali memberi perhatian lebih dengan berkata, “Mas Harris hati-hati ya, jaga diri, jangan sampe terluka.” tapi yang keluar dari mulut Asha justru kata tanpa makna dari egonya, “Oh.”
Harris memijit pelipisnya yang mulai menegang, menahan diri agar tak terpancing emosi. Dengan segera ia menghabiskan sarapannya dan segera beranjak dari tempat duduknya.
“Aku mau ke rumah Devi hari ini.” suara Asha menghentikan gerakan Harris yang sudah berdiri. Harris tahu Asha sedang mencari pelampiasan akibat kegaduhan semalam.
Harris menatap Asha yang menjauhkan pandangan darinya. “Kalau saya tidak ijinkan, apa kamu akan tetap pergi?” kalimat tanya bermakna larangan keluar dari mulut Harris.
Asha mendengus keras sekali, telapak kakinya bahkan sengaja dihentakan ke bumi mendengar jawaban Harris yang sudah ia pahami.
***
Devi adalah sahabat Asha yang letak rumahnya masih satu komplek dengan tempat tinggal Asha dan Harris. Jadi meskipun masih ada m Fani yang juga sahabat dekatnya. Asha tentu lebih memungkinkan untuk bertemu Devi yang letak rumahnya tak jauh.
Devi sudah bekerja di salah satu perusahaan properti ternama di tanah air. Sedangkan Fani memilih jalur seni dengan menjadi supermodel. Lalu hanya Asha di usianya yang masih begitu muda memilih menikah dengan Harris. Laki-laki biasa yang tak banyak bicara. Asha sudah kepalang jatuh cinta dengan pesona Harris Darmawan.
***
Di tengah terik panas matahari yang membakar kulit, pikiran Harris melayang pada Asha. Sebelum suasana demo tak terkendali Harris meminta ijin undur diri lima menit pada rekan-rekan sejawatnya. Dia sengaja mengirim pesan singkat pada sahabat istrinya itu.
Harris Darmawan
‘Devi maaf menggangu, apakah hari ini Asha ada atau akan mengunjungi kamu?’
Beruntung sekali Devi segera membalas pesan Harris.
Devi Purnama
‘Gak ada Mas Harris, kita hanya telponan saja.’
Harris Darmawan
‘Baik. Terima kasih ya.’
Harris mengulum senyum, kembali ke barisan para laki-laki gagah berbaju coklat dengan hati yang tenang. Harris semakin paham seperti apa wanita yang ia nikahi. Setidaknya ada angin segar untuk Harris di saat-saat tugas genting seperti itu.
***
Bersambung...