***
(Sepuluh menit lagi saya sampai di depan gang rumah kamu. Saya enggak bisa masuk. Jadi kamu tunggu di depan gang. Pakai semua yang saya kirim tadi siang dan jangan lupa hafalin semua arahan yang saya berikan. Oke?)
Duduk di sofa ruang tengah rumahnya, Isyana hanyut dalam pikirannya sendiri setelah pesan yang dikirim Sean beberapa detik lalu, selesai dia baca. Sepuluh hari berlalu, malam ini Isyana akan mulai menjalankan tugasnya yaitu; menjadi pasangan Sean.
Tak langsung menikah kemudian menjadi istri kontrak pria itu, tugas Isyana dimulai dari bertemu dengan orang tua Sean lalu memperkenalkan diri sebagai kekasih dari pria tersebut.
Sudah berjanji untuk patuh pada semua perintah Sean, Isyana juga akan berpura-pura berasal dari keluarga kalangan atas. Namun, berstatus yatim piatu. Bukan tanpa tujuan, hal tersebut harus dia lakukan agar kedua orang tua Sean merestuinya sebagai calon istri pria itu.
"Kalau bukan demi hidup Ibu, aku enggak mau lakuin hal kaya gini," ucap Isyana sambil meremas gaun berwarna hitam yang malam ini dia kenakan.
Tidak diam saja kemudian terus larut dalam perasaan yang campur aduk, Isyana membalas pesan dari Sean, lalu setelah menarik napas panjang, dia beranjak dan meninggalkan rumah sederhananya untuk menunggu Sean di depan gang.
Tiga puluh meter jarak dari rumah ke depan gang, Isyana berdiri di pinggir jalan sambil memegangi tas selempang yang Sean berikan padanya tadi siang. Dengan perasaan yang sedikit gelisah, dia menunggu, hingga tidak berselang lama sebuah sedan berwarna putih berhenti di dekat Isyana—membuatnya kembali mengatur napas.
"Sudah lama menunggu?" tanya sang pengemudi sedan, yang tidak lain adalah Sean. Tidak bertanya dari dalam mobil, dia turun bahkan menghampiri Isyana.
"Belum, Mas," jawab Isyana. "Kurang lebih lima menit lalu saya sampai di sini."
"Oh, oke," ucap Sean. "Ayo masuk. Kita akan bertemu orang tua saya di restoran favorit mereka."
"Baik."
Tanpa banyak bertanya, Isyana mengikuti Sean menuju mobil. Dibukakan pintu, dia tersenyum sebagai respon sebelum kemudian masuk dan duduk manis di kursi penumpang.
"Sudah setengah jalan, Isyana. Kamu harus bisa," ucapnya, persis ketika Sean mengitari mobil untuk masuk dari pintu sebelah kanan. "Demi hidup Ibu."
Tidak langsung pergi, Isyana dan Sean mengobrol dulu selama beberapa menit. Bukan membicarakan masa depan, yang keduanya bahas adalah; jawaban demi jawaban yang harus Isyana berikan ketika nanti bertemu dengan orang tua Sean.
"Bisa ya?" tanya Sean, setelah pengetesan selesai. "Saya harap kamu enggak keceplosan, karena kalau orang tua saya tahu hubungan kita cuman pura-pura, saya yang kena getahnya."
"Bisa, Mas," ucap Isyana meyakinkan. "Mas jangan khawatir, ingatan saya kuat."
"Oke, good. Kita berangkat sekarang."
Pukul tujuh kurang beberapa menit, mobil Sean melaju meninggalkan pemukiman padat penduduk, tempat Isyana tinggal. Membelah jalanan malam yang cukup ramai, keduanya sampai di tempat tujuan, tepat pukul setengah delapan malam.
Sandiwara dimulai, Isyana harus menerima tuntunan tangan Sean saat memasuki restoran tempat pertemuan dilaksanakan. Tidak di meja biasa, mereka akan bertemu dan mengobrol di ruangan VIP, dan yaps! Sebagai orang dari kalangan bawah, ini adalah kali pertama untuk Isyana.
"Ma, Pa, ini Isyana—perempuan yang sebelumnya aku ceritain sekaligus perempuan yang dua minggu ini resmi jadi pacar sekaligus calon istri aku."
Sampai di sebuah ruangan, Isyana langsung dikenalkan pada kedua orang tua Sean, yaitu; Atlanna dan Renan. Kikuk, Isyana tersenyum tipis sebelum kemudian memperkenalkan diri.
Tidak ada sikap sinis, Isyana disambut dengan cukup baik sebelum kemudian dipersilakan duduk. Tak langsung mengobrol serius, yang selanjutnya dilakukan adalah; makan malam bersama, hingga di tengah-tengah kegiatan, Renan membuka percakapan.
"Sean bilang orang tua kamu dua-duanya Dokter ya? Cuman meninggal lima tahun lalu karena sebuah kecelakaan."
"Iya, Om," jawab Isyana. "Mereka kecelakaan setelah liburan, dan keduanya meninggal di tempat. Saya hidup sendiri sekarang, dan mengelola usaha orang tua saya."
"Usaha apa?" Setelah Renan, kali ini giliran Atlanna yang buka suara.
"Tekstil, Tante," ucap Isyana sambil terus berusaha menahan gugup. "Orang tua saya punya satu pabrik di Bandung, cuman enggak dikelola langsung sama saya, tapi sama orang kepercayaannya. Saya di sini cuman menerima laporan dan sesekali cek ke sana."
"Oh gitu," ucap Atlanna. "Enggak terlalu sibuk berarti ya kamu di sini."
"Sedikit," ucap Isyana.
"Kamu mencintai Sean?" tanya Renan lagi.
"Kalau saya enggak mencintai Mas Sean, saya enggak akan di sini, Om," ucap Isyana. "Saya juga enggak akan bersedia diajak menikah secara mendadak sama dia. Agak kaget sebenarnya karena dua minggu lalu Mas Sean belum jadiin saya pacar. Cuman, karena saya sudah lama mengagumi dia secara diam-diam, saya mutusin buat bersedia."
"Kenapa kamu bisa mengagumi anak saya?" tanya Atlanna. "Apa yang bikin kamu kagum? Padahal, pria seperti Sean mungkin banyak di luaran sana."
"Kalau ditanya kenapa, jawabannya sulit dijelaskan pakai kata-kata karena ini menyangkut perasaan, Tan," ucap Isyana. "Cuman, yang jelas saya tuh punya misi."
"Misi apa?" tanya Renan.
"Membuat Mas Sean benar-benar move on dari mendiang kekasihnya terdahulu," jawab Isyana, tanpa mengurangi satu kata pun karena bukan jawaban sendiri, apa yang dia katakan barusan adalah arahan dari Sean. "Meskipun Mas Sean mengajak saya menikah, saya tahu cintanya buat saya baru separuh, Om, Tante. Jadi lewat pernikahan saya dan dia, saya ingin membuat Mas Sean mencintai saya sepenuhnya dan melupakan mantannya itu."
Mendengar ucapan panjang lebar Isyana, Renan dan Sean kompak tersenyum. Jika Renan mengukir senyuman karena merasa tertarik dengan jawaban gadis di depannya, maka alasan Sean tersenyum justru karena merasa puas setelah sang calon istri kontrak melontarkan semua kalimat yang dia sarankan.
"Kamu udah tahu semua tentang Sean berarti?" tanya Atlanna.
"Sudah, Tan," ucap Isyana. "Alasan Mas Sean belum kunjung menikah sampai sekarang, lalu alasan dia ingin menjadikan saya istri, semuanya sudah saya ketahui."
"Apa memang alasan Sean menikahi kamu?" tanya Renan.
"Mas Sean ingin menikahi saya karena dia yakin kalau saya bisa bersabar menunggu dia melupakan mendiang mantannya secara penuh, Om," ucap Isyana. "Kalau sama perempuan lain, Mas Sean enggak yakin, karena katanya yang lain belum tentu sesabar saya."
"Sean?" panggil Renan.
"Aku belum mencintai Isyana sepenuhnya, Pa, tapi aku mantap buat menikahi dia kalau memang Papa pengen aku segera menikah," ucap Sean. "Aku udah kenal Isyana dibanding perempuan yang akan Papa jodohin ke aku. Jadi akan lebih mudah buat aku belajar mencintai dia."
"Oke, kalau itu keputusan kamu," ucap Renan. "Menikahlah dua minggu dari sekarang dengan Isyana. Lebih cepat lebih baik."
"Dua minggu dari sekarang, Om?" tanya Isyana.
"Iya. Kenapa? Enggak mau?" tanya Renan.
"Mau, Om," ucap Isyana, sambil tersenyum. "Saya barusan cuman agak kaget aja karena Om ternyata pengen secepat itu."
"Saya sudah sangat mendambakan cucu, Isyana. Jadi kalau bisa cepat, ngapain harus lama?"
Tanpa ada perdebatan, tanggal pernikahan Isyana dan Sean akhirnya ditentukan. Seperti yang Renan minta, keduanya akan menikah dua minggu dari sekarang dan pernikahan keduanya tentu saja akan dirayakan mewah dengan semua biaya yang akan ditanggung oleh pihak Sean.
Makan malam selesai, Isyana bisa kembali ke rumahnya dengan tenang. Jika ketika berangkat, dia berjalan sendiri ke depan gang, maka kini Sean mengantarnya sampai ke rumah.
"Terima kasih untuk malam ini, Isyana. Saya senang bekerjasama dengan kamu."
"Sama-sama, Mas," ucap Isyana. "Saya juga senang bekerjasama dengan Mas."
"Oke, semoga semuanya berjalan sesuai rencana."
"Aamiin."
Tidak berlama-lama mengobrol, Sean berpamitan, dan karena tidak punya kegiatan lain, Isyana memutuskan untuk masuk. Namun, barusaja dia membuka pintu, sebuah panggilan dari sebuah nomor lebih dulu masuk—membuatnya mau tidak mau menjawab telepon tersebut terlebih dahulu.
"Halo, Pak. Ada apa?"
"Saya ingin mengobrol, Isyana. Bisa kamu ke rumah saya?"
"Sekarang, Pak?" tanya Isyana.
"Ya, sekarang. Bisa?"