Episode 3. Berniat menolong

1056 Kata
Ujung-ujungnya Michel malah bercerita tentang apa yang dia alami sekarang. Dia tertawa. Nichi bungkam sebentar, bersuara sedetik kemudian. "Oh. Sheila bukan pembunuh?" tanya Nichi mengerutkan dahinya. "Bukan. Dia cuma gadis biasa yang tinggal berdua dengan adiknya. Mereka adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh keluarga Grigorine," jawab Michel menggeleng. "Siapa itu keluarga Grigorine?" "Eh? Mereka, ya? Aku tidak tahu juga, cuma mendengar dari gosip kampus ini." "Oh, baiklah." "Ingat lagi, jangan dekati Gwen ataupun Sheila, jika kau mau selamat." "Iya." "Bagus. Oh ya, hampir lupa. Ayo, kita berteman!" Michel mengulurkan tangan dan disambut oleh Nichi. Mereka bersalaman dengan senyuman yang lebar. "Ya. Mulai hari ini, kita berteman, Coot." Nichi bermuka cerah. "Panggil saja aku Michel. Aku boleh panggil kau Nichi?" Michel mengangguk. "Boleh. Silakan." "Terima kasih." Giliran Nichi yang mengangguk. Namun, matanya menjeling lagi ke arah Gwen. Wajahnya Gwen datar. Jari jempolnya terampil dan cekatan saat menyentuh layar smartphone. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi, senyuman simpul terukir di wajahnya. "Ya, kak. Aku mengerti, " bisik Gwen sambil mengirim sms pada kakaknya. *** Usai mengikuti perkuliahan sampai selesai, Nichi langsung pulang. Keluar kelas bersama teman-teman sesama jurusan komputer. Nichi berjalan bersama Michel dan beberapa teman laki-laki lainnya. Bahkan ada satu gadis yang mulai akrab dengannya karena sudah berkenalan dengannya hari ini. Teman-teman baru bertanya-tanya tentang diri Nichi. Mulai dari keluarga, kampus sebelumnya Nichi kuliah dan berujung tentang gadis yang disukainya. Nichi kewalahan menjawab semua pertanyaan karena dikerubungi seperti lalat. Nichi menjawabnya dengan jujur, tetapi sebagian besar jawabannya bohong, jika menyangkut tentang dirinya yang sebenarnya. Untung saja, tidak ada seorangpun yang tahu bahwa dia adalah detektif polisi. Ini menjadi keberuntungan besar baginya. Gadis berambut hitam dan bermata hijau. Bertubuh mungil. Berusia sekitar sembilan belas tahun. Namanya Daisy Eloira. Dia yang bertanya apakah Nichi sudah mempunyai pacar. Nichi menjawab 'belum' dan berakhir senyuman senang di muka Daisy. Kemudian Nichi dan kawan-kawannya terus mengobrol hingga sampai di tempat parkir. Michel dan teman-teman lainnya berpamitan pada Nichi sambil mengendarai motor masing-masing. "Sudah ya, aku pulang dulu, Nichi!" seru pria berambut hitam melambaikan tangan. "Sampai besok, Nichi!" Daisy juga melambaikan tangan. "Kita sambung obrolannya di ponsel, ya?" Michel tersenyum, turut melambaikan tangan. Daisy ikut berboncengan dengannya. "Ya." Nichi tersenyum, mengangguk. Motor-motor tipe sport dan tipe vespa, melaju meninggalkan halaman depan kampus. Nichi terpaku di dekat motornya sendiri. "Teman-teman yang baik dan ramah," gumam Nichi tersenyum sambil memasang helm ke kepalanya. "Aku bersyukur bisa berkenalan dengan beberapa orang hari ini. Cepat atau lambat, aku pasti akan mencari informasi tentang The Black Girl itu dari mereka. Ya, semoga saja mereka mengetahui tentang The Black Girl itu." Nichi naik ke atas motornya. Menyalakan mesin dan menghasilkan bunyi yang sangat keras. Nichi beserta motornya, melesat kencang menapaki jalanan datar itu, bersama motor-motor lainnya, karena sebagian orang sudah pulang pada waktu yang sama dengannya. Keluar dari pintu gerbang kampus. Juga ada beberapa orang yang baru datang dan memasuki kampus karena mereka akan mengikuti perkuliahan yang dijadwalkan pada siang hari ini. Suasana di kampus masih ramai, awalnya Nichi ingin menghabiskan waktunya di kampus demi melakukan penyelidikan agar The Black Girl itu cepat ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Tapi, waktu penyelidikannya malah terganggu karena perintah sang ibu yang memintanya untuk berbelanja ke supermarket. Lalu membawa belanjaan itu ke rumah orang tuanya sebelum malam tiba. Ibunya akan mengadakan acara makan malam bersama keluarga pada pukul tujuh malam ini. Pesan dari ibu tertampil di layar ponsel, dilihat teliti oleh Nichi saat mengendarai motor. Nichi memacukan motornya setelah memasukkan smartphone ke saku jaketnya lagi. Di tengah jalan yang cukup ramai, tidak jauh dari kampus, motor Nichi meluncur dengan kecepatan tinggi. Terburu-buru. Menyalip sana, menyalip sini. Membuat orang dongkol dan berteriak keras padanya. Tapi, dia tidak mempedulikan semua itu. Tiba-tiba, Nichi mengerem motornya saat menemukan seorang gadis yang sedang menyeret motor di tepi jalan. Dia sangat mengenali gadis itu. "Hei, Gwen!" panggil Nichi dengan suara yang sangat keras. Gwen menoleh dan mendapati Nichi yang turun dari motor sport. Nichi juga melepaskan helm dan meletakkannya ke stang motor. Motor sport hitamnya itu, berhenti tepat di samping Gwen. "Kau lagi?" Gwen berwajah sangat datar. "Nichi Alzelvin yang kemarin itu, 'kan?" "Iya. Syukurlah kau masih ingat padaku." Nichi tersenyum girang. "Jangan ngomong begitu seakan aku ini pikun. Huh!" "Ma ... maaf. Aku tidak bermaksud begitu." Mata Gwen menyipit tajam. Nichi merasakan aura yang kelam, seakan merayap-rayap di tubuh Gwen sekarang. Itu imajinasi yang muncul di pikiran Nichi. Nichi tersenyum kikuk memperhatikan skuter yang dipegang Gwen itu. "Motormu kenapa?" "Kehabisan bensin. Aku lupa mengisinya." Gwen memutar matanya, bosan. "Oh, jadi kau mau berjalan kaki sambil menyeret motor ini sendirian sampai ke jalan utama sana? Itu jauh sekali, 'kan?" "Iya. Memangnya kenapa?" "Soalnya pom bensin adanya di jalan utama. Apa kau tidak merasa capek karena menyeret motor sampai ke sana? Apalagi pom bensin tidak ada di area kampus ini." "Biarkan saja. Aku sudah terbiasa berjalan kaki." "Kalau begitu, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang sampai ke rumahmu? Motormu tinggalkan saja di dekat pos security, nanti aku kembali untuk mengambil motormu dan mengisi bensin ke tangki motormu. Terus aku antar motormu sampai ke rumahmu. Bagaimana?" Nichi menawarkan bantuan dengan muka cerah. Gwen terdiam. Selama tiga detik berlangsung, barulah Gwen menjawab, "tidak usah. Terima kasih." Gwen langsung pergi seraya menyeret motornya lagi. Nichi terperanjat dan berlari mengejarnya. "Hei, tunggu dulu!" Nichi kalang kabut. Nichi berhasil menangkap tangan Gwen. Gwen berhenti berjalan bersama motornya. Wajahnya memerah padam beserta kedua matanya yang menajam berkilat. Saat itu juga, terjadilah peristiwa yang tidak disangka. Perut Nichi sukses ditonjok keras oleh kepalan tangan Gwen. Sehingga motor Gwen terlepas dan jatuh terguling di tanah. Bersamaan Nichi mengeluh kesakitan pada perutnya. "A ... aduduh! Perutku!" Nichi mendelik Gwen. "Hei, kenapa kau meninjuku?" Gwen bertampang garang. "Itu karena kau sudah memegang lenganku, tahu!" "Hah?" Nichi sadar dan secara refleks mundur beberapa langkah. Dia berwajah sangat syok. Benar juga yang dikatakan Michel. Gwen itu galak. Dia akan menghajar laki-laki yang menyentuhnya. Itu ... sudah terbukti sekarang. Setelah itu, Gwen berbalik dan mengangkat motornya yang terjatuh tadi. Dia menyeret motornya lagi dan berjalan dengan cepat. Meninggalkan Nichi yang terpaku. "Hei, Gwen! Tunggu!" "Jangan ikuti aku!" Gwen membentaknya dengan suara yang amat keras. Nichi pun terpaku menyaksikan kepergiannya. "Dia memang gadis yang galak." Nichi menghelakan napasnya. "Ya, sudahlah, sebaiknya aku pulang saja." Hati Nichi sedikit kecewa bercampur kesal karena orang yang mau ditolong, malah berbuat kasar padanya. Padahal dia berniat baik dan ingin mencoba berteman dengan Gwen. Tapi, akhirnya mendapatkan rasa sakit yang nyeri di perutnya. Nichi naik ke atas motornya sambil memakai helm. Menghidupkan motornya hingga menghasilkan bunyi menderu yang sangat keras. Motor yang dibawa Nichi, melaju meninggalkan Gwen. Gwen yang masih berjalan, menyempatkan dirinya untuk menyaksikan kepergian Nichi. Dia hanya terdiam dan berhenti berjalan sebentar, lalu menghelakan napasnya sembari melanjutkan perjalanannya lagi. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN