Episode 2. Langkah kedua

1050 Kata
Nichi menggaruk-garuk pipinya, tersenyum malu. Gwen hanya berwajah datar, lalu menghelakan napasnya. "Apa boleh buat. Baiklah, aku akan mengantarkanmu sampai ke sana," kata Gwen melirik Nichi dengan sorot malas. "Ah, terima kasih," sahut Nichi tersenyum. "Iya." Gwen mengangguk, berjalan beriringan dengan Nichi. Dalam perjalanan menuju lantai dua, mereka dikuasai kebisuan abadi. Tidak ada yang saling berbicara sampai langkah mereka tiba di depan pintu bercat biru muda. "Kita sudah sampai." Gwen melirik Nichi sampingnya. "Kau ketuk saja pintu itu karena rektornya ada di dalam." Nichi mengangguk pelan seraya memperhatikan papan kayu yang bertuliskan 'Ruang Rektor' di atas pintu. "Baiklah." "Kalau begitu, aku pergi dulu. Soalnya aku harus pulang sekarang." Gwen menyelonong pergi lagi tanpa menunggu balasan jawaban dari Nichi. Nichi terperanjat. "Hei, sekali lagi aku berterima kasih padamu, Quondra!" teriak Nichi. "Iya," balas Gwen mengangkat tangan kanannya. Hanya satu kata itu yang dilontarkan Gwen. Nichi terdiam dan memandang kepergian gadis itu. Meninggalkan dirinya di lorong lantai dua yang sepi. Tidak ada yang lewat di sana. Hingga dia tersentak, segera melakukan apa yang akan dilaksanakannya. "Oh iya. Aku harus menemui rektor itu." Nichi mengetuk keras pintu ruang rektor. Terdengar suara yang menjawabnya dari dalam ruangan. "Masuk!" Nichi membuka pintu dan masuk. Perhatiannya tertuju pada seorang pria berambut hitam keriting dan mengenakan pakaian kantoran serba hitam dan putih. Pria itu duduk di belakang meja kerja, menyambut Nichi dengan senyum ramah. "Selamat siang! Kenapa kau berdiri di situ? Ayo, duduklah!" perintahnya pada Nichi. "Jangan lupa tutup pintunya, ya!" Nichi mengangguk tanpa bersuara dan menutup pintu itu. Dia berjalan pelan, lalu duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Rektor. Rektor memperhatikannya dengan saksama, lalu bertanya, "Sepertinya baru kali ini saya melihatmu. Apa kau mahasiswa baru di sini?" Sekali lagi Nichi mengangguk. Kini dia bersuara dengan nada tegas. "Ya, saya mahasiswa baru, Pak. Nama saya Nichi Alzelvin." "Nichi Alzelvin ... hmm." Tiba-tiba pria itu tersentak. "Eh? Ka ... kau detektif polisi yang bernama Nichi Alzelvin itu, 'kan? Yang ditugaskan menyamar sebagai mahasiswa baru untuk menyelidiki adanya pembunuh yang kuliah di sini?" "Ya, Pak. Sayalah orangnya. Saya datang ke sini atas permintaan Inspektur Rodd." "Saya sudah diberitahukan olehnya sebelumnya dan saya sangat paham dengan apa yang kalian lakukan. Hmmm ... baiklah, saya akan membantu kalian dalam penyamaran ini. Juga mengizinkan kau kuliah di sini sebagai mahasiswa pindahan dari kampus lain. Saya akan mengatur semuanya." "Terima kasih atas pengertian anda. Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan anda, Pak." "Sama-sama. Mungkin lain kali, sebaiknya kita berbicara memakai bahasa sehari-hari. Tidak ada saya ataupun anda. Anggap saja aku ini adalah temanmu, ya." "Baiklah, Pak." Nichi mengangguk. Rektor tersenyum lebar. Dia manggut-manggut seperti burung kakatua. "Bagus." Pria itu menyengir lebar. "Oh iya, aku lupa memperkenalkan namaku. Namaku Chen. Kau boleh memanggilku Chen saja." "Tapi, itu tidak sopan. Bagaimana kalau aku memanggilmu Pak Chen?" Nichi menggeleng pelan. "Boleh juga, Inspektur." "Maaf, saya bukan Inspektur. Tapi, sersan, Pak Chen." "Oh, aku kira jabatanmu sudah Inspektur." Nichi dan Chen berdua terlibat dalam pembicaraan yang berujung tentang diri masing-masing. Suasana menjadi ramai ketika mereka tertawa dan tersenyum. Sudah menjadi akrab dalam sekejap mata, padahal baru saja bertemu, beberapa menit yang lalu. *** Pagi itu, Nichi segera pergi ke Universitas Alphard untuk mengikuti perkuliahan yang dimulai pada pukul delapan pagi. Dia sudah diizinkan oleh Rodd untuk tidak masuk kantor dan akan diberi waktu yang panjang untuk menyelidiki identitas The Black Girl yang diketahui kuliah di Universitas Alphard. Atas bantuan sang rektor, Nichi diterima untuk berkuliah di jurusan komputer. Jurusan yang sama yang diminati The Black Girl itu. Sehingga memudahkan Nichi untuk melakukan penyelidikan melalui penyamaran sebagai mahasiswa ini. Nichi sangat menikmati kegiatan barunya sebagai mahasiswa jurusan komputer. Dia bisa melanjutkan kuliah sampai tahap sarjana, pikirnya saat berkuliah seperti ini. Misteri yang harus dikuak. Nichi harus mencari tahu tentang mereka lewat bergaul sesama para mahasiswa dan para mahasiswi yang sama-sama kuliah di jurusan komputer. Mungkin lewat langkah kedua itu, dia bisa mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit. Lagipula dia sangat pandai bergaul dan cepat akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan hampir semua orang di kepolisian pusat, mengenal dia dengan baik. Saat menginjakkan kaki di kelas jurusan komputer, Nichi menemukan beberapa orang yang sudah mengisi kursi-kursi yang tersedia di kelas tersebut. Ada juga beberapa kursi yang kosong. Dia pun kebingungan saat memilih kursi yang akan didudukinya. Hingga semua orang yang ada di kelas itu, memperhatikannya dengan aneh. Salah satu dari seisi kelas, memberanikan diri untuk bertanya padanya. "Hei, kau anak baru, ya?" Nichi berhenti berjalan tepat di samping kursi kosong, mengarahkan pandangan pada seorang pria yang duduk di kursi paling belakang. Persis dalam satu gang dengannya. "Ya, itu benar." "Oh. Pantas. Baru kali ini aku melihatmu. Namamu siapa?" "Nichi Alzelvin." "Kalau aku, Michel Coot. Salam kenal, ya!" Michel Coot, seorang pria berambut hitam yang sewarna dengan matanya. Tinggi badannya sekitar seratus tujuh puluh dua cm. Berpakaian kasual yang urak-urakan. Menunjukkan cengiran ramahnya. "Salam kenal juga." Nichi tersenyum. "Kalau begitu, kau duduk di sampingku saja. Bagaimana?" Michel menunjuk ke arah yang dimaksud. "Boleh juga. Terima kasih." "Ya, sama-sama." Nichi duduk dan meletakkan tasnya di atas meja yang bersatu dengan kursi, lalu memperhatikan semua orang yang kembali sibuk berbincang-bincang. Cukup bising. Dalam pikiran Nichi, ingin bergaul lebih luas lagi. Mengenali semua orang yang ada di kelas ini. Hingga tatapannya tertuju pada seorang gadis berambut hitam yang duduk di paling depan, persis di dekat meja dosen. Dia yang kemarin itu, 'kan? Gwen Quondra, batin Nichi. Nichi sedikit membulatkan mata, menyadari dirinya sekelas dengan gadis yang telah membantunya menunjukkan ruang rektor itu. Ingin rasanya mendekati gadis itu untuk mengetahuinya lebih dekat lagi. Michel juga mengamati gadis yang diperhatikan Nichi. "Dia Gwen Quondra, gadis paling pendiam di kelas ini. Dia juga tidak gampang didekati. Selalu bersikap kasar jika kita mendekatinya. Bahkan jika ada laki-laki yang menyentuhnya, dia akan menghajar laki-laki itu sampai babak belur." Nichi menoleh ke arah Michel, ternganga. "Apa itu benar?" "Itu benar. Pokoknya kau harus berhati-hati dengannya. Jangan terlalu dekat dengannya, karena akan ada kakak perempuannya yang juga kuliah di jurusan komputer, membuat hidupmu menderita. Maksudku Sheila Quondra, nama kakaknya itu, suka membunuh siapa saja yang berdekatan dengan adiknya." "Mem ... membunuh?" Mata Nichi melotot. Wajah Michel terlihat serius sekali, lalu mengangguk. "Ya, aku mendengar rumor itu beredar di kampus, sesama anak jurusan komputer. Tapi, aku tidak percaya kok. Itu hanya berita bohong yang dibuat oleh orang-orang yang tidak suka dengan Sheila Quondra itu," Michel berbicara dengan nada pelan. "Sheila itu sudah masuk semester tujuh sekarang. Tidak lama lagi dia bakal diwisuda. Sementara aku, harus mengulang semester ini dari awal. Aaaah... soalnya aku suka menunda-nunda waktu kuliahku. Bahkan aku pernah cuti kuliah selama setahun karena pekerjaanku. Jadinya, orang tuaku marah padaku." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN