Aku menatap Erick yang sedang membaca surat yang dibawa Andre tadi. Setelah selesai ia memijat pelipisnya, ia terlihat berpikir keras.
"Apa ada yang mau kau jelaskan padaku Erick?" Aku melipat kedua tanganku di d**a dan membuka pembicaraan yang membuat kedua bola mata Erick tertuju padaku saat ini.
Ia menggelengkan kepalanya dan duduk di tepi ranjang kami.
Andre tidak ada bersama kami saat ini. Ia sedang duduk di depan televisi ditemani Bu Mun. Untungnya setiap anak kecil menyukai kotak ajaib bergambar itu.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku sendiri juga masih belum mengerti dengan semua ini. Beri aku waktu untuk mencari jawabannya," ujarnya. Wajahnya yang biasa rapi sekarang tampak kusut. Kurasa dia juga memang terkejut dengan semua ini.
"Baiklah. Aku akan menunggumu hingga kau mampu menjelaskan semua ini."
Aku pun berlalu dan menghampiri Andre. Kuperhatikan wajahnya. Mata dan bibirnya memang persis milik Erick. Yang terlihat berbeda hanyalah hidungnya.
Aku masih terkejut dengan kejutan ini. Bagaimana tidak? Aku yang sebagai pengantin pengganti lalu sekarang aku mendapatkan bonus dalam pernikahan ini. Seorang anak dari suamiku sendiri yang lebih hebatnya lagi suamiku sendiri pun tidak tahu keberadaan anak ini sampai hari ini. Aku masih menatap anak di hadapanku yang masih serius menatap spongebob di tv.
Aku rasa aku tidak membenci anak ini. Karena seorang anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan bukan? Sebaliknya, aku merasa iba dan ingin menyayanginya seperti anakku sendiri. Setelah berpikir sejenak akupun memutuskan untuk merawat anak ini seperti anakku sendiri. Toh anak tidak pernah bersalah atas perbuatan orang tuanya.
"Bu Mun, tolong siapkan kamar tamu buat Andre ya. Sekarang Andre biar sama saya saja."
Bu Mun mengiyakan permintaanku dan beranjak dari tempat duduknya.
"Andre sudah makan?" Tanyaku menghampirinya. Sekarang kami duduk di atas karpet depan televisi.
Andre hanya menjawab pertanyaanku dengan anggukan kepala.
"Sekarang tidur yuk. Sudah malam. Besok kamu boleh nonton lagi," bujukku. Biasanya anak kecil itu mesti di bujuk baru nurut.
"Oke." Aku terpukau. Menurut sekali anak ini.
Kami berjalan menuju kamar tamu yang sudah dipersiapkan oleh Bu Mun.
"Tante, temani aku dulu ya sebelum tidur. Kalau Andre sudah pules tidurnya, tante boleh tinggalin aku." Woahh!! Aku terkagum-kagum mendengarnya. Anak ini benar-benar tidak menyusahkan. Akhirnya aku mengiyakan permintaanya.
Mencoba menyanyikan lagu dengan suara pelan sambil mengelus kepala Andre agar ia merasa nyaman dengan semua yang menurutnya serba baru ini. Berharap anak ini dapat mulai menyesuaikan kehidupannya dengan kami.
Setelah sekitar beberapa menit sudah dapat kudengar nafas Andre yang mulai teratur. Aku pun mencoba bangkit perlahan dan menuju ke arah pintu.
Aku terkejut! Ternyata Erick entah sejak kapan sudah berdiri dan bersandar di ambang pintu.
Akupun melewatinya lalu pergi menuju kamar. Akupun merasa lelah dan ingin cepat-cepat berbaring di kasurku yang empuk.
"Kau terlihat seperti ibunya Ri," ucap Erick. Aku sudah setengah berbaring di ranjangku. Aku dapat melihat Erick dalam balutan pakaian tidurnya dan naik ke tempat tidur kami. Dan aku pun mengikutinya duduk di sebelahnya.
"Anak itu tidak punya salah. Tidak ada satu orang anak pun yang minta dilahirkan. Apa rencanamu sekarang?" tanyaku sambil menatapnya. Memang belum ada cinta di hati kami masing-masing. Tapi kami sudah komitmen untuk kompak dalam menjalani pernikahan ini.
"Aku tidak tahu." Ia terdiam. "Mungkin aku akan mencoba menjadi ayahnya mulai hari ini. Kuharap kau juga mau melakukan yang sama Ri. Tapi sebelumnya aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu keberadaan anak ini. Dan berikan aku waktu sampai aku siap menceritakan semuanya padamu." Ucapannya terdengar tulus dan serius. Pada akhirnya aku mengiyakan ucapannya.
"Terima kasih."
"Sudah kewajibanku sebagai istri. Kau lupa kalau tugas istri itu mendukung suami?"
Erick menolehkan kepalanya menatapku. Matanya yang bening menatapaku. Seakan mengucapkan terima kasih lagi atau terharu. Aku tidak tahu. Tanpa aku sadari wajahnya mendekat dan semakin mendekat. Aku menahan nafas, dan ketika mulai mengerti apa yang akan dia lakukan perlahan aku menutup mataku. Sedetik kemudian aku dapat merasakan bibirnya yang dingin telah menempel di bibirku. Maka, inilah ciuman kedua kami.
*****