Part 7

502 Kata
Suatu hari siang yang panas. Aku sedang bersantai di gazebo halaman belakang rumah. Aku kembali menuruti kehendak Erick untuk tidak bekerja. Tiba-tiba Bu Mun tergopoh-gopoh mendatangiku. "Neng, neng." Bu Mun memang memutuskan memanggilku dengan panggilan 'neng'. Karena menurut ceritanya anak perempuannya yang di kampung kira-kira seumuran denganku. Kurasa itu lebih baik daripada nyonya. Aku merasa diriku tua mendengarnya. "Ada apa, Bu? Kok panik begitu?" Aku memandang bu Mun dengan pandangan bingung. "Anu neng..itu.." Bu Mun terlihat gelisah. "Apa sih Bu? Jangan nakutin saya dong! Tarik nafas dulu Bu." Bu Mun menarik nafas sedalam-dalamnya. "Sekarang lepaskan nafasnya bu." Bu Mun mengikuti instruksiku. Setelah agak tenang ia mulai membuka mulutnya. "Tadi Ibu mau buang s****h. Pas Ibu buka pintu ada anak laki-laki bawa ransel di depan pintu rumah. Ibu tanya anaknya diam saja. Ibu bingung neng," jelasnya. Aku menatap Bu Mun bingung. Kurasa wajah kami sekarang mirip. Sama bingungnya. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan melewati bu Mun. Dan beliau mengikutiku di belakang. Tiba-tiba kakiku berhenti melangkah karena mendapati pemandangan yang tadi dijelaskan bu Mun. Di ruang tamu duduk seorang anak laki-laki tampan. Umurnya kira-kira enam tahunan. Kulitnya putih bersih. Rambutnya hitam pekat dan kurasa wajahnya mirip seseorang dan orang itu adalah Erick. Aku melangkahkan kakiku menghampiri anak itu. "Hai.." sapaku. Tak ada jawaban darinya. Aku mencoba bertanya. Siapa tahu dia mau jawab. Sudah pasti bisa bicarakan anak ini, pikirku. "Nama kamu siapa?" tanyaku. Tapi masih tak ada gerakan dari bibir mungilnya. "Kalau kamu mau jawab nanti aku kasih cokelat. Kamu suka cokelat?" Aku masih belum menyerah. Kulihat matanya yang tadi menatap ke tembok di belakangku mulai berpusat ke mataku. Anak ini menatapku sekarang . "Andre," jawabnya. Yes!! Tidak sia-sia usahaku. "Andre ke sini sama siapa?" Andre tidak menjawab. Tapi ia malahan melepas ranselnya dan mulai membuka ransel itu. Sekarang di tangannya ada sebuah surat. Aku semakin bingung. Andre memberikan surat itu kepadaku. Aku menatap surat itu, tak ada nama atau alamat. Amplop itu polos. Tapi ada surat di dalamnya. Aku mengeluarkan dan membuka surat itu. Aku mengalihkan pandanganku menatap Andre dan ia pun sedang menatapku balik. Kepada nak Erick, Dengan tidak sopan saya (ayah Sarah) memberanikan diri menulis surat ini. Jujur sebenarnya saya malu tapi saya terpaksa menulis surat ini. Karena umur saya tidak lama lagi dan tidak ada lagi yang dapat merawat Andre. Jadi saya menulis surat ini untuk memberitahu nak Erick bahwa anak laki-laki yang membawa surat ini dan berada di depan rumah nak Erick adalah anak kandung nak Erick. Darah daging nak Erick. Maafkan saya yang selama ini menyembunyikan keberadaannya. Karena Sarah memaksa bapak untuk tidak memberitahu nak Erick karena suatu alasan. Maaf bapak tidak dapat memberitahukan alasannya. Sarah hanya berharap nak Erick dapat melupakan semua yang telah berlalu dan melanjutkan hidup nak Erick dengan baik. Hanya ini yang dapat bapak bisa sampaikan. Tolong rawat Andre dengan kasih sayang. Karena Sarah sangat menyanginya. Terima kasih. Rahmat(ayah Sarah). Aku menatap secara bergantian antara surat itu dan anak laki-laki yang sedang bediri di hadapanku dengan pandangan polosnya. Apa maksudnya dari semua ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN