Part 6

683 Kata
Erick menatapku bingung ketika masuk kamar dan melihatku sedang duduk di depan laptop di atas ranjang kami dengan koran berserakan di atasnya. "Apa yang sedang kau lakukan dengan koran-koran itu?" tanyanya dengan kerutan di dahinya. "Hai, kau sudah pulang?" sapaku karena tidak biasanya Erick pulang lebih awal. Aku mengangkat wajahku dan kulihat ia sedang membuka dasinya. Gerakannya terlihat dalam slow mode di dalam mataku. Sungguh sexy! Stop that Riri! Omelku mulai kumat. "Ya..pekerjaanku lebih cepat selesai hari ini. Dan kau harus menjawab pertanyaanku." "Oh..aku sedang mencari lowongan pekerjaan melalui koran-koran ini dan beberapa website mengenai lowongan pekerjaan di internet," jelasku. "Apa? Aku sedang tidak salah dengarkan?" "Tidak. Kau masih punya pendengaran yang masih baikan? Jika tidak kusarankan kau ke dokter THT sekarang juga," sahutku asal dan kembali fokus dengan kegiatanku. Aku sudah menemukan beberapa pekerjaan yang menurutku cocok dengan latar belakang pendidikanku yaitu sekolah menengah atas. Aku memang tidak duduk di bangku kuliah. Karena saat itu ayah baru saja di PHK. Jadi otomatis aku dan Rere tidak merasakan bangku kuliah. "Kau tidak boleh kerja!" bentaknya. Spontan aku langsung terkejut mendengar perkataannya. Erick berjalan mendekatiku. "Apa? Kenapa?? Aku tidak membutuhkan izinmu!" Aku bangkit berdiri di hadapannya. Membalas ucapannya dengan meneriaki dia juga. Erick menatapku marah. "Kamu lupa? Aku suamimu. Aku yang bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu dan dirimu sekarang adalah milikku. Tanpa ijinku kau tidak akan kemana-mana." Aku membenci diriku karena apa yang baru saja ia katakan adalah benar. Diriku ini memang bukan milik diriku sendiri lagi. Aku meliriknya, kulihat senyum sinis itu tergambar di bibirnya lagi. Lama-lama aku muak dengan senyumnya yang palsu tapi tetap saja ia terlihat tampang di mataku. Pasti ada yang salah dengan mataku, batinku meyakinkan! "Lagipula untuk apa kau bekerja? Apa uang dariku tidak cukup?" tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku. Bukan itu alasanku mencari pekerjaan. Harusnya ia tahu bahwa aku bosan ia kurung di rumah! "Aku bosan." Hanya itu yang keluar dari bibirku dengan suara yang lebih lembut. Aku malas menjelaskannya. "Maksudmu?" "Aku ingin bekerja sehingga aku punya kegiatan yang berguna." "Tidak. Kau tidak akan bekerja Riri. Aku tidak suka punya istri yang bekerja. Tugasmu diam saja di rumah." Rasanya aku ingin menangis dan berlari pulang ke rumah ayah. Aku hanya ingin bekerja tapi lihat betapa marahnya ia. Suara isak mulai keluar dr bibirku. Air mata perlahan mengalir di pipiku. Erick berdiri tepat di depanku. Emosi dan jengkel merasuki diriku. "Aku benci kamu! Aku benci!!" Tanpa sadar aku sudah mulai memukuli dadanya yang bidang. Ku yakini bahwa pukulanku seperti usapan baginya. Aku memukulinya beberapa kali, air mata masih mengalir di pipiku. Aku benci dia yang sok memiliki diriku. Padahal kami hanya suami istri di atas kertas! Erick hanya diam selama aku memukuli dadanya. Tak lama kemudian ia menangkap kedua tanganku. Aku memberanikan diri menatapnya. Air mataku tak mau berhenti. Jujur aku bingung apa penyebab air mata ini tak mau berhenti. Mungkin semua emosi kesedihanku selama seminggu ini menjadi satu dan baru bisa kutumpahkan saat ini. Tatapan Erick tertuju lurus ke dalam kedua bola mataku. "Berhentilah menangis." Suaranya datar namun mulai melembut. Tak ada amarah lagi di dalamnya. Tapi aku masih saja terisak-isak. Tanganku masih di dalam genggamannya. "Kumohon berhentilah menangis," gumamnya lagi. Dan tanpa diduga ia memajukan wajahnya dan bibirnya yang dingin menyapu lembut bibirku. Aku hanya mampu diam. Tak mampu berbuat apa-apa. Kulihat Erick menutup matanya. Akupun ikut memejamkan mataku. Menikmati rasa bibirnya yang dingin tapi lembut di bibirku. Tak pernah sekalipun terpikir di benakku bahwa ia akan menciumku. Kurasakan ia menarik bibirnya dariku. Tapi aku masih merasa jika bibirnya masih di bibirku. "Akhirnya kau berhenti menangis." Erick menyeringai. Ia benar tangisanku berhenti! "Sekarang aku tahu bagaimana caranya membuatmu berhenti menangis." "Ap..apa?" Aku masih tercengang. Efek dari ciumannya. Erick memegang kedua bahuku dan menatapku lagi. Jujur saja, aku suka tatapannya. Teduh dan menenangkan. Seperti permukaan danau yang tenang. Erick pun berlalu dari hadapanku menuju kamar mandi. Aku tercengang melihat ia masuk ke kamar mandi. "Bagaimana dengan izinku untuk bekerja?" teriakku. Erick yang sudah sampai di ambang pintu kamar mandi berbalik menghadapku. "Kau tidak boleh bekerja. End of conversation." Bam!! Erick menutup pintu seperti seorang hakim yang mengetukkan palunya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN