Selamat Datang

1449 Kata
"Ternyata ... tidak ada kamu di sini, Meru." - Rinjani *** Kampusnya yang besar, luas dan sebagian diisi oleh kaum yang berasal dari orang tua yang elit dan perlente. Beruntunglah Rinjani dan Abangnya masuk kampus terkeren di Kediri dan sekitarnya ini dengan beasiswa penuh, tidak membayar apapun kecuali kalau mau membeli buku dan sebagainya. Beruntunglah mereka berhasil mewarisi gen kepintaran dari mama mereka. Kalau tidak, mungkin mereka akan luntang lantung di dunia ini tanpa kedua orang tua. Rinjani dan Elo berpisah. Abangnya harus langsung ke laboratorium untuk praktikum, sementara ia di antarkan ke gedung perkuliahan yang terdiri dari sepuluh lantai. Namun, sepuluh lantai untuk mahasiswa eksakta masih kecil dibandingkan dua puluh lantai untuk mahasiswa sosial. Karena peminat sosial memang lebih banyak. Mereka tidak mau pusing-pusing dengan logaritma, derajat keasaman, nama ilmiah tumbuhan, elektronika dan lain sebagainya. Rinjani tersenyum, seminggu yang lalu ia sudah menginjakkan kakinya di sini, mengikuti acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru yang setiap tahun dilaksanakan. Hari ini, dia resmi menjadi mahasiswa di Universitas Pamungkas. Dan lagi-lagi ia tersenyum, senyum yang menarik hati. Tidak menyangka bahwa proses hidup sudah membawanya ke titik ini. “Heh! Nazzarda!” Rinjani terdiam sebentar saat suara wanita memanggil nama belakangnya. Nama yang harus ditulis di penanda nama bagi mahasiswa baru program studinya. Sebenarnya akan menjadi menyebalkan saat orang lain harus tahu nama lengkapnya, apalagi dengan sengaja memanggil dengan nada mencemooh seperti itu. Namun bagi Rinjani, semuanya bisa di-ya sudahkan- begitu saja. Rinjani memutar badannya, menemui pusat suara yang barusan berseru memanggil namanya. Bingung. Di hadapannya kini ada tiga orang wanita yang menurutnya berdandan berlebihan untuk standar mahasiswa. Dan, nampaknya barang yang ia gunakan bermerk dan berharga mahal. Ketiga wanita itu tersenyum sinis saat menatapnya. “Kenapa lo bengong, Nazzarda!?” Rinjani mengernyitkan dahinya, orang-orang ini mau apa? “Nama saya Rinjani Maheswari Nazzarda. Saya bisa dipanggil Rinjani, Kak.” Rinjani tersenyum tak tulus mengakhiri perkenalannya. Dalam doanya terselip harapan bahwa dia tidak salah berbicara. “Gue mau manggil lo Nazzarda, masalah!?” sentak gadis yang berdiri di tengah-tengah. Rinjani mengernyit lagi. Lah? Bukannya kalau orang normal itu mengajak berkenalan, kemudian akan ikut memanggil kenalan barunya sebagai mana mestinya. Lalu, kenapa orang-orang aneh ini bisa ada di sini? Apa mereka bertiga harus diajarkan cara berkenalan dengan baik dan benar terlebih dahulu. Dan Rinjani berhasil membiarkan dirinya kebingungan. “Nazzarda nama keluarga saya, nama belakang Kakek dan Papa saya. Sepertinya alangkah tidak sopan jika kakak-kakak memanggil saya dengan nama Nazzarda?” papar Rinjani tenang. Sepertinya ini adalah salah satu senior yang diwanti-wanti oleh Abangnya. Senior yang bossy dan sok-sokan. Sekali lagi dia berharap bahwa pilihan katanya tepat dan cermat sehingga tidak menimbulkan efek-efek lebih menyebalkan setelahnya. Terdengar tepuk tangan menggema. Baiklah, sepertinya Rinjani menyadari bahwa dia sudah salah sikap. “Lo mahasiswa baru program studi farmasi, ‘kan?” Rinjani mengangguk. “Eggak kenal siapa gue?” Rinjani menggeleng. Dia melihat mbak-mbak yang bertanya tadi justru mengerlingkan matanya geram. Nampaknya ego gadis itu tersentil saat menerima jawaban yang diberikan oleh Rinjani, mahasiswa baru yang berani menjawab perkataannya dengan lugas. Rinjani tahu kalau dia sedang menghadapi calon masalah besar pertama untuk dunia perkuliahannya. Andai ada kamu di sini, Meru, batin Rinjani. Namun, ia menggeleng seketika. Takut untuk mengingat nama itu lagi. “Mahasiswa baru kok songong?” ujar gadis yang di sebelah kiri. Maju, memburu dan menyudutkan Rinjani ke dinding kampus. Rinjani mendesah. Sial. Gedung ini masih sepi. Elo terburu-buru karena ia praktikum pagi. Dia berpikir keras untuk memperhitungkan semua kemungkinan buruk yang bisa saja menimpanya dalam waktu cepat. Melirik sana dan melirik sini demi mendapatkan ide untuk menyelamatkan dirinya sendiri. “Heh, lo itu cuma mahasiswa baru yang baru aja nongol di Pamung seminggu yang lalu. So, lo enggak boleh berlaku songong sama senior!” sentak yang di tengah. Rinjani perhatikan bibirnyalah yang paling merona. Baiklah, gadis ini ia tandai. Rinjani tersenyum. Untunglah selama ini Mahameru selalu mengajarinya untuk tetap tenang dalam menghadapi masalah. “Lalu, apakah ada aturannya kalau senior diperbolehkan untuk bersongong ria?” balasnya telak. Wah, Rinjani sungguh berani. Ia bertepuk tangan dalam hati. Tiba-tiba rambutnya dijambak oleh gadis di samping kanan. Rinjani membelalakkan matanya karena kaget, heh gadis yang menjambaknya ini juga memakai bulu mata palsu pula!? Ia meringis, sakit, karena rambutnya terasa ingin lepas dari akarnya. Ini adalah proses penyambutan bagi mahasiswa baru? Rinjani hanya membiarkan rambutnya terjambak sembari tersenyum tipis. “Heh, kenapa lo senyam senyum?” Satu … Dua … Tiga … “Heh!” Suara laki-laki menggema, mendekat ke arah keributan kecil di sudut gedung. Rinjani tersenyum. Jambakkan di rambutnya dilepas paksa. Membuat ranbutnya terurai. Berantakkan. Dewa keberuntungan sedang berpihak padanya kali ini. “Eh, Kak Elo!” balas gadis yang akan diketahui bahwa namanya Bianta gugup. Rinjani menatap gadis itu penuh selidik. Gadis dengan bibir paling merona. Gadis itu menjulurkan tangannya. “Lama enggak ketemu, Kak, apa kabar?” Bianta tersenyum. Elo turut mengulurkan tangannya. Bukan untuk menyambut tangan Bianta, tetapi untuk menarik tangan Rinjani. Ia meletakkan adiknya itu berdiri di sampingnya. Saat merasakan bahwa tangan Elo menariknya, Rinjani dengan sengaja tersenyum amat manis dan menatap tiga orang yang nyalinya berkemungkinan besar sudah surut sampai titik terakhir. “Mungkin lo enggak sadar kalau nama gue juga ada Nazzarda di belakangnya, ini Rinjani, adik gue. Lo jangan ganggu!” ujar Elo dingin. Lalu, ia mengajak Rinjani berlalu. Meninggalkan tiga wanita dengan bibir merona tersebut dengan ekspresi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Abang, sebentar.” Rinjani melepaskan tangannya, lalu berbalik ke tempat tiga gadis yang masih mempertahankan ekspresi cengoknya. “Kak, saya cuma mau memberitahu kalau kakak itu baru satu tingkat di atas saya dan teman-teman mahasiswa baru lainnya, belum jauh. Mungkin, kita masih satu umur atau satu tahun kelahiran. Ilmunya juga mungkin sama, atau justru saya yang berlebih? Ahaha ….” Rinjani tertawa. Ketiga wanita tadi hanya menatapnya dengan tatapan mata sebal. “Maka dari itu, saya harapkan kakak sekalian tidak terlalu songong sama maba[1], karena siapa tahu kakak nanti membutuhkan kami. Saya berkata seperti ini bukan karena saya adiknya Abang Elo, tetapi karena saya Rinjani yang diajarkan untuk kuat. Saya bisa membalas apapun yang kakak perbuat. Ini bukan ancaman, tetapi peringatan.” Rinjani tersenyum. “s**t!” desis Bianta. “Semoga kita bisa bersahabat baik, Kak, selayaknya kakak dan adik bukannya senior dan junior.” Rinjani melambaikan tangannya, lalu menyusul Elo yang tertawa melihat tingkah berani adiknya. “Sialan,” desis Bianta. “Sabar, Bi,” pujuk Osi. “Nanti kita balas, Bi,” sambung Nira. *** Rinjani menatap sekelilingnya yang hanya terisi besi karena mereka sedang ada di dalam lift gedung kuliahnya. Karena bengong adalah hal yang menyebalkan, maka ia memilih untuk mengganggu Elo. “Abang … abang …,” panggil Rinjani, tetapi Elo tidak menyahutinya. “Abang … ish?” rengeknya. Elo yang tadinya tengah sibuk menyimak pembahasan di grup pesannya langsung menoleh pada Rinjani, “Ya? Kenapa?” tanyanya. “Yah? Kok Abang cuek, sih?” tanya Rinjani. Elo mengembuskan napasnya, ia tahu saat ini manja adiknya sedang kumat, “Iya, Sayang, kenapa?” tanyanya lembut. Rinjani tersenyum, “Buah … buah apa yang enggak pernah tidak?” tanyanya. “Hah?” jawab Elo bingung. “Apa, sih, Jan?” tanyanya. “Buah … yaaa …,” jawab Rinjani, kemudian ia tertawa. “Hah? Buaya?” tanya Elo memastikan. “Iya!” seru Rinjani kegirangan. “Ada-ada saja kamu, Jan.” “Hehehe,” jawab Rinjani. “Abang enggak jadi praktikum?” sambungnya karena heran. Tidak mungkin Abangnya tiba-tiba ada karena ingin menyelamatkannya, ‘kan? “Lupa.” “Hah?” Rinjani mengernyit. “Lupa?” “Iya, lupa, Abang ‘kan praktikum hari Rabu, sekarang masih hari Senin,” jawab Elo santai. “Peh, Abangku saiki rodok edan, yo![2]” sungut Rinjani. Elo tertawa terbahak-bahak. Adiknya sangat tidak cocok kalau menggunakan bahasa Puncu. Aksennya aneh. “Ya ampun! Abangnya Jani wes edan betulan, rek.[3]” Elo semakin menguatkan tawanya. “Pacar baru, El?” tanya seorang laki-laki yang berpapasan dengan kakak beradik itu saat bertemu di lift. “Wuih, Gubernur FMIPA sekarang pacaran sama maba,” sahut satunya. Elo tertawa. “Saya a- ….” “Iya, pacar gue,” potong Elo. “Buk- ….” “Pacar baru gue.” “Elo gila!” pekik Rinjani. Abangnya hanya tertawa, sementara dua temannya memasang wajah bingung. “Saya adiknya Bang Elo, Kak. Tolong jangan bilang sama siapa-siapa kalau Bang Elo sudah gila. Saya malu, Kak.” Sontak seisi lift tertawa mendengar pengakuan Rinjani, sementara ia memasang wajah kesal pada Elo. “Harusnya lo iyain aja, kasihan Abang lo udah dicap jomlo karatan di kampus.” Rinjani menggeleng keras, “ENGGAK!” sergahnya. “Buset, adik Elo garang banget elah!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN