“Jangan terlalu bangga pada dirimu, yang ternyata buruk tak terkira.”
***
“Semua mahasiswa baru jangan dulu keluar dari ruang kelas!”
“Diam di tempatnya masing-masing!”
“Heh itu, jangan keluar!”
Suara ribut langsung menggema seantero ruangan kelas setelah beberapa menit yang lalu dosen untuk mahasiswa baru keluar dari kelasnya. Sekarang, di sekeliling kelas sudah dikepung oleh senior-senior mereka di Farmasi. Mahasiswa baru yang ada hanya menunduk dengan wajah pucat, takut pada senior-senior mereka.
“This is the jungle,” desis Rinjani. Ia mengedarkan pandangannya tanpa takut, dan matanya langsung menemukan tiga senior wanita yang tadi mencegatnya. Memasang wajah sengak yang sangat ingin Rinjani cakar. Ia menarik napasnya, tenang.
“They are the animals in the jungle,” desis Rinjani lagi, kemudian ia tersenyum sinis.
“Heh lo!” Seniornya yang laki-laki, yang sepertinya tetua di Farmasi menunjuk salah seorang mahasiswa baru yang memakai kacamata lebar dan super tebal. Baju yang rapi, tas yang besar dan sekarang bergetar-getar karena ditunjuk. “Lo! Cupu, maju!” Dengan langkah gontai dan kaki yang gemetar dia maju untuk menemui yang memanggilnya. Suasana kelas menegang.
Rinjani sedikit meradang saat mendengar dengan seksama istilah apa yang seniornya gunakan untuk memanggil teman kelasnya tadi. Walaupun mereka belum saling mengenal, tapi mereka akan menjadi teman selama empat tahun ke depan, ‘kan?
“Lo laki-laki?”
Mahasiswa baru itu mengangguk. Rinjani menyimak dengan seksama.
“Siapa nama lo?”
“Devan, Kak.” Suara Devan bergetar.
Senior itu tertawa sinis, “Keren nama lo, tetapi enggak penampilan lo yang super culun,” hinanya. “Heh! Lo bisa nggak menampilkan yang agak kerenan dikit.”
Devan mengernyit, tidak mengerti.
Senior itu mendengkus. “Maksud gue, lo punya bakat nggak selain penampilan super cupu lo?”
Devan mengangguk.
“What?”
“Dancing, Kak.”
Sontak saja seluruh senior mereka tertawa terbahak-bahak, Devan semakin memperdalam kepalanya yang menunduk. Menekuri lantai, berharap waktu lekas berlalu. Rinjani hanya melihatnya tajam, ini bukan hutan, ini zaman purba dengan manusia yang super bar-bar.
“Yakin lo?”
Senior mereka yang lainnya mendorong Devan hingga tersungkur, hampir mencium kaki senior wanitanya yang memakai baju pendek. Rata-rata mahasiswa baru yang perempuan berteriak kencang, kaget bukan main.
“Damn!” desis Rinjani. Dia mati-matian menahan tangannya agar tidak segera mematahkan tangan senior yang sok-sokan itu.
“DIAM!”
Kali ini senior perempuan yang berteriak nyalang. Rinjani menatap senior itu tajam.
“Lo semua adalah mahasiswa baru di sini! Jangan sok-sokan, jangan songong.” Mata senior itu mengedar ke seluruh ruangan dan bertemu dengan mata tajam rinjani.
Rinjani ikut menatap dan memicingkan matanya. Mereka berdua bersitegang dalam tatap untuk waktu yang lama. Rinjani memiliki mata itu, mata yang tajam dan tatapan yang dalam. Mata jenaka yang sering ditampakkannya di depan Mahameru dan Elo sudah hilang.
“Dan gue dengar kabar ada salah satu mahasiswi baru yang super songong di sini, dan sekali lagi lo semua harus tahu dia berani mengancam Bianta, Osi dan Nira, senior kalian semester tiga!” Mata senior itu semakin tajam membalas tatapan tajam Rinjani. “Lo semua tahu nama dan jabatan gue?”
Semua mahasiswa baru menggeleng, Rinjani hampir tertawa. Sok tenar.
“Nama gue Jeasy, gue semester lima!”
Rinjani ber-oh ria di dalam hatinya, satu tingkat sama Elo. “Terus jabatannya?” bisiknya pada diri sendiri. Teman yang duduk di sampingnya hanya menoleh dengan tatapan keheranan.
“Dan, gue minta sama lo yang udah berani ngancam senior buat ngaku dan minta maaf di sini.”
“Gue mau dia cium kaki gue, Kak!” sambar Bianta. Osi dan Nira mengangguk demi menyetujui saran ketua geng mereka tersebut.
Mengadu? Pengecut, batin Rinjani, menatap tajam pada Bianta. Gadis menor itu hanya membalas tatapan Rinjani sekilas, lalu membuang mukanya.
“Cepet lo ngaku!” teriak Jeasy nyalang. Semua mahasiswa baru kian menunduk. Devan masih terduduk di lantai. “Atau temen kalian yang bernama Devan gue buli!”
Devan yang menjadi sasaran dan disebut langsung pucat pasi dan ingin pingsan. Namun, semua mahasiswa baru masih diam dalam ketakutan dan kebingungan.
“OH, KALIAN DIAM!?” sergah Jeasy. “LO DIAM WAHAI ANAK BARU YANG SONGONG? MANA NYALI LO, HAH? CI- ….”
“Di sini …,” sahut Rinjani.
“Gede juga nyali lo,” balas Jeasy diiringi dengan desas desus teman-teman seniornya yang lain.
Rinjani tertawa, “Hanya untuk mencari satu mahasiswa baru yang katanya kurang ajar, semua senior harus dikerahkan? Saya merasa tersanjung, Kak Bianta,” desisnya sembari melirik ke arah Bianta dan dua temannya, ia tetap memasang wajah tenang. Semua seniornya terperangah mendengar omongannya barusan.
Prok! Prok! Prok!
Terdengar tepuk tangan sarkas dari Jeasy. “Waw! Ini Si Maba songong yang berani ngancam lo, Bi?”
Bianta mengangguk, mukanya amat sengak. Merasa bahwa kemenangan sudah ada di tangannya karena berhasil memprovokasi Jeasy. Kakak tingkat perempuannya itu memang terkenal amat badung serta menjunjung tinggi senioritas. Maka, ketika dia mengadu ada junior yang berani mengancam senior, maka akan dapat dengan muda Bianta menyulut emosi Jeasy. Dan atas dasar itulah mereka sekarang berada di sini.
“Maju lo!”
Rinjani mengangkat dagunya, menampilkan senyum super sinis yang dia punya. “Untuk apa saya maju?” tanyanya dalam. “Mengotori langkah kaki saya untuk menemui Kakak?”
“Dia adik Kak Elo, Kak, makanya dia berani sengak banget sama senior!” kompor Nira.
“Kalian enggak perlu repot-repot ngadu sana sini sampai membuat senior kepo turun ke kelas angkatan baru untuk bertemu saya kok, Kak,” balas Rinjani. “Dipanggil sekali juga saya nyaut,” ejeknya. “Atau mungkin kalian yang ternyata ketakutan, ya?”
“b*****t, gila ini cewek berani bener!”
“Dia adiknya Elo, wajarnya.”
“Salut juga gue sama nyalinya dia.”
“Dia kayaknya enggak tahu seberapa ngerinya si Jeasy kalau udah ngamuk.”
“Enggak kebayang sih gue.”
Rinjani tertawa lagi, “Saya bukan tipe-tipe adik yang berlindung pada kakak, junior yang berlindung sama senior kok, Kak,” jawabnya. “Saya beda level sama kalian, hehe,” sambungnya dengan tetap menggunakan nada mengejek.
Jeasy membelalakkan matanya, ia terkejut dengan respon tanpa takut yang ditunjukkan Rinjani, “Gue salut sama nyali lo,” pujinya. “Sekarang gue perintahkan lo maju ke sini. CEPAT!” bentaknya sudah naik pitam.
Rinjani menggeleng, “Enggak mau, Kak, apaan, sih? Kalau Kakak yang butuh, ya, Kakak yang ke sini,” tantangnya.
“ANJING! KEREN NIH CEWEK!”
“KEREN PALA LU! Enggak ada sopan-sopannya nih anak.”
“Loh? Memangnya kita ada?”
Rinjani mengulum senyumnya demi melihat muka pias Bianta dan gengnya, muka marah Jeasy, muka kaget, kagum, sebal dan kesal senior-seniornya yang lain. Dan jangan lupa wajah kaget dan terheran-heran yang keluar sebagai ekspresi teman-temannya.
“Lo denger enggak? Maju!” ujar senior Rinjani yang laki-laki, yang sama sekali tak ia ketahui namanya.
Rinjani menoleh untuk melihat seniornya itu. Laki-laki dengan kemeja flannel warna merah kotak-kotak tanpa dikancing dan di dalamnya laki-laki itu memakai kaos warna hitam. Untuk bawahannya kakak tingkatnya itu menggunakan celana jeans yang sedikit robek di bagian dengkul, berkacamata dengan senyum yang disinis-siniskan. Dih, memangnya saya bakal takut, ya? batin Rinjani, ia menahan bibirnya agar tidak keceplosan menertawai muka sok sengak laki-laki itu.
“Kak … aduh …,” rengek Rinjani sembari memutar bola matanya bosan.
“MAJU, ANJING!”
“GUK! HAHAHAHA!” ejek Rinjani membuat teman-temannya semakin menatap kagum ke arahnya. “Mohon maaf, Kakak memerintahkan saya untuk maju?”
Senior itu mengangguk.
***