Namanya Perpisahan

1716 Kata
“Apa saya masih dituntut untuk percaya dengan janji?” Hari Mahameru pergi Hujan. Pagi yang indah ini digerayangi oleh hujan yang membuat pilu. Ah, ini hari apa? Apa saya harus lupa ingatan dengan segera? Membenturkan kepala ke dinding mungkin adalah pilihan yang baik. Saya membenci stasiun, saya tidak suka pada pelabuhan, saya anti bandara, saya tidak senang dengan terminal. Apapun yang menjadi tempat bertemu, sekaligus menjadi tempat berpisah. Berpisah yang tidak kembali, apalagi. Hari ini, dengan hati yang luar biasa patah dan luka, saya kehilangan teman bercerita. Meru pergi dengan tangan yang melambai dan air mata yang terurai. Meru tidak mau memberitahu kepada saya ke mana ia akan pergi. Tadi malam ia datang ke rumah, membawa martabak rasa vanila. Dia hanya tersenyum, mengelus sejenak puncak kepala saya. Lalu pamit, meminta saya untuk menutup pintu rumah dan tidak perlu mencarinya. Apa bisa? “Mana bisa, Meru?” *** Gadis berbaju tidur dengan motif bunga sakura itu tengah meringkuk jeri di dalam selimutnya. Mencoba menghangatkan dirinya, padahal yang dingin adalah hatinya. Gusar. Perasaan tidak tenang. Takut. Semuanya, semuanya terhimpun dan mendobrak pertahanan hatinya. Matanya terpejam, tetapi pikirannya melayang. Tubuhnya terdiam, tetapi jiwanya hilang. Tidak ada perpisahan yang bisa dilalui dengan baik-baik saja. Bahkan, tidak ada yang menginginkan perpisahan, ‘kan? “Jani, ada Meru!” seru Elo dari luar kamar Rinjani. Rinjani bergeming, menarik napas, lalu membuangnya kasar. Hangat. “Siapa Meru? Jani nggak kenal!” teriaknya dari balik selimut. Gadis itu meringkuk di atas kasur yang terlapisi sprai dengan warna hijau muda dan dengan karakter daun maple yang membuatnya tenang, tetapi tenang itu sekarang justru pergi. Rinjani mengeluarkan kepalanya dari balik selimut. Membuat matanya menilik pada gambar di atas meja di samping ranjangnya. Gambar ia dan Mahameru saat mereka kelulusan SMP dua tahun yang lalu. Gambar yang melukiskan tawa dan bahagia mereka. Dulu. “Rin jadi cantik kalau pakai kebaya warna merah muda!” seru Mahameru, menahan tawa. “Terus kenapa kamu menggembungkan pipi? Menahan tawa? Saya dandannya menor, baju ini kebesaran, bilang saja, Meru!” “Iya.” Tawa Mahameru pecah saat melihat Rinjani melepaskan sepatunya, berniat menimpuk Meru yang sudah berlari menjauh. Rinjani melengos. Gadis yang sedang menghadiri acara pelepasan di SMP-nya itu hanya cemberut, mendengar hujatan dari Mahameru. Ia duduk di bangku yang sudah ada namanya. Dia dan Meru datang terlalu pagi. Harusnya ia datang agak siang, pasti teman-temannya dandan lebih menor darinya. Laki-laki yang baru saja mengejeknya terlihat melambaikan tangan dari jauh, menyuruhnya mendekat ke panggung. Di tangan Mahameru sudah tergenggam kamera. Laki-laki itu ingin mengajaknya berfoto? Untuk apa? Untuk mengabadikan kemenorannya hari ini? Dengan enggan Rinjani mendekat, masih menampilkan wajah cemberutnya. “Jangan cemberut, bibir kamu jadi memble.” “MERU!” “Foto, yuk?” “Tidak mau.” “Kalau merajuk nanti bibirnya tambah memble, merah pula.” “MERU!” Meru mendekat, merangkulnya, meminta tolong pada sejawatnya untuk mengambil foto mereka berdua. 1 … 2 … 3 … Ceklek! “Rin,” panggil Meru lembut. Panggilan yang sukses membuat buyar kenangan yang baru saja melintas di otak Rinjani. Ia mengerjapkan matanya dan berusaha menghapus air mata yang dari tadi sibuk mengalir dan berkontribusi untuk membasahkan bantal tidurnya. “Rinjani ….” “Saya nggak dengar!” terik Rinjani parau. Tok tok! Terdengar ketukkan pintu yang pelan di balik pintu yang tertutup rapat. Rinjani menangis, lagi-lagi ia harus menangis. Tak pernah sanggup rasanya dia harus menemui hari ini. Hari perpisahan yang selalu hadir dengan menyebalkan. “Apa kamu tega membiarkan saya pergi tanpa memandangi mata kamu?” tanya Mahameru lemah. “Apa kamu tega tetap pergi dengan mata saya yang banjir?” jawab Rinjani penuh emosi. “Rin, saya mohon kamu jangan seperti anak kecil begini.” “Anak kecil menangis karena kehilangan balonnya, Meru. Dan saya …,” jawabnya terpotong karena napasnya tersaha hilang. “Saya … saya menangis karena kehilangan seseorang yang lebih lucu dan lebih berwarna dari lima balon!” “Kita bisa videocall, telponan, chattingan, Sayang.” “Haha!”sahut Rinjani tertawa sumbang. “Kamu … kamu bilang kita bisa melakukan semua itu, sementara kamu saja tidak memberitahu saya ke mana kamu akan pergi. Ini jenaka sekali, Meru! Seperti sedang di panggung lawakkan,” sindirnya. Mahameru mengembuskan napasnya kasar, “Rin ....” “Kalau kamu mau pergi, ya sudah, sana pergi jauh-jauh!” usir Rinjani. “Cari perempuan yang tidak menangis jika kehilangan balonnya, cari perempuan yang bisa memberikan pelukan perpisahan kepada kamu, cari perempuan yang bisa menemani kamu minum kopi tanpa mengeluh dan muntah-muntah, cari perempuan yang …,” sambungnya terpotong karena lagi-lagi ia tersedak dengan air matanya sendiri. “Rin!” Rinjani menggeleng, “Perempuan yang tidak mengunci pintu kamarnya saat kamu ingin menemuinya, cari perempuan yang bukan saya! Saya anak kecil, jenaka, hadirnya saya hanya untuk membuat kamu tertawa. Bukannya bersedih, ‘kan? Sudah, sana pergi!” “Rin, kenapa malah berkata seperti itu?” tanya Mahameru panik. “Meru, kenapa malah berbuat seperti ini?” “Satu jam lagi saya harus berangkat, Rinjani, izinkan saya melihat mata kamu. Sebentar saja, saya mohon,” lirih Mahameru. Ia tahu, saat ini sikap keras kepala Rinjani sedang hidup dan dalam mode tidak tergoyahkan. Rinjani menggeleng keras, “Mata Abang mirip dengan mata saya, pandangi saja mata Abang!” “Rin ....” Saya tidak mau menyaksikan kamu pergi, Meru. “Rin, saya mohon, izinkan saya sebentar saja.” Saya tidak mau menjumpai perpisahan, Meru. Saya tidak mau melihat kamu melangkah jauh tanpa saya. “Rin, waktu terus berputar, Sayang. Saya mohon sekali saja.” Ayo, ucapkan kata pembatalan, Meru. Katakan pada saya kalau kamu tidak jadi pergi. “Rinjani Maheswari Nazzarda, Mahameru Erla Arlanta amat menyayangi kamu. Biarkan saat ini kita berjarak dulu.” Saya masih menunggu kalimat pembatalan dari kamu. Hening. Sudah lima menit, tidak ada kata-kata yang keluar dari balik daun pintu. Dua puluh menit. Rinjani tercenung ketika suara mesin mobil yang perlahan menjauh. Ia segera bangkit dari kasurnya dan menuju jendela, membukanya dan berlari ke balkon kamarnya. “Mahameru …,” liri Rinjani. Satu tetes air matanya turun kembali, kemudian disusul oleh tetes-tetes air mata berikutnya. Di udara hanya tertinggal asap mobil yang sudah melaju. Entah ke stasiun, bandara, pelabuhan, terminal, Rinjani sama sekali tidak tahu. Dia hanya paham bahwa saat ini adalah arah mobil itu tidak akan pernah berbelok dan menjumpainya lagi. Deru mobil itu sudah membawa pergi jauh orang yang amat ia sayangi. Kamu benar-benar memilih pergi, Meru, batinnya. Ia menghapus air matanya yang kian meluruh. Dia tergugu, terduduk memandangi jalanan yang ramai, yang sudah menelan bulat-bulat mobil yang membawa Mahamerunya. Setidaknya, hari ini tidak ada pelukan perpisahan, ucapan terakhir dan segala hal yang melambangkan perpisahan. Artinya, ia dan Mahamerunya tidak terpisah. Rinjani tersenyum. “Meru pergi bukan untuk meninggalkan kamu, Jani,” ujar Elo. Ia terpukul saat melihat adiknya hanya duduk termenung menghadap jalanan yang selalu ramai. Rinjani menatap kosong udara yang ada di depannya, “Kata pergi itu bersambungan dengan kata meninggalkan, Bang,” sahutnya lemah. “Meninggalkan berasal dari kata tinggal, Dek. Ada hati Meru yang tertinggal di sini. Kamu.” “Artinya Meru tidak punya hati? Kenapa ia tak bawa saja hatinya? Membawa Jani, mendaki Gunung Rinjani,” jawab Rinjani, kemudian ia mengembuskan napasnya pelan. “Daripada meninggalkan Jani di sini, tanpa apapun dari dirinya,” lirihnya. “Meru meninggalkan surat sama jaket yang tadi dia pakai.” “Warna biru dongker?” “Jaket yang selalu dia pakai saat sama kamu.” “Surat?” “Iya.” “Buang saja, Bang. Jani tiba-tiba saja tidak bisa membaca apa-apa.” Rinjani berdiri dari duduknya, lalu gadis itu berjalanan melewati Elo dan tertelungkup di kasurnya. Pahit. Berapa tahun kita bersama, Meru? Hidup saya adalah hidup kamu dan nyawa kamu adalah nyawa saya, begitu katamu. Memandang wajah kamu, maka saya akan bahagia. Kamu memandang wajah saya, dirimu akan tenang. Lalu, semesta membiarkan kamu pergi tanpa mengerem dan memutar balik. Tidak pernah ada di dalam bayangan saya, orang yang begitu berarti di hidup saya akhirnya pergi pula. Sudahlah Mama dan Papa saja yang pergi, kamu juga ikut-ikut pergi. Apa kamu akan sama seperti Mama dan Papa yang pergi dan tak pernah kembali, Meru? Tanpa dia tahu, hari itu adalah pertemuan terakhir mereka. *** “Mamaaaa!” Lengkingan suara gadis tiga belas tahun itu menggema seantero ruangan, di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya. Pemilik mata teduh yang sama dengannya, Elo. Rinjani kecil mengguncang tubuh Mamanya yang sudah terbujur kaku, “Mama, buka mata, Mama! Mama nggak boleh menutup mata terlalu lama, nanti gelap, Ma!” lirihnya. Elo hanya diam, ia sangat terpukul, apalagi melihat adiknya yang meracau sedari tahu kabar meninggalnya orang tua mereka dua hari yang lalu. Dia memegangi punggung Rinjani yang saat ini sudah bergetar hebat. Tidak ada patah hati yang bisa dikelolah dengan baik. Apalagi untuk patah hati yang disebabkan oleh kehilangan orang yang dicinta untuk selamanya. “Jani ....” lirih Elo. “Abang, bilang sama Jani kalau Mama sama Papa cuma bercanda,” sabut Rinjani sembiri menggigit bibirnya sampai berdarah0da-darah. “Jan …, sabar, Dek,” liri Elo. “Bang! Suruh Mama dan Papa membuka matanya, Jani nggak mau dibercandain begini.” Rinjani mencengkram kerah kemeja hitam kakaknya, menuntut penjelasan yang ia harapkan. Padahal, hasil yang sangat jelas sudah terpampang di depannya. Rinjani kembali memeluk jasad Mamanya dengan erat, “Mama janji mau belikan Jani eskrim seratus bungkus, ‘kan? Semenit lagi film Upin dan Ipin, Ma, katanya mau nonton bareng Jani?” kicaunya tak jelas. Kehilangan dua orang yang amat berharga di hidupnya sangat membuat batinnya terguncang. Terlebih untuk umur yang masih tergolong belia seperti umur Rinjani sekarang. Rinjani menatap jasad Papanya yang juga terbujur kaku, “Papa, katanya mau ke Taman Fantasi? Naik bianglala sama kora-kora. Kincir angin juga seru, Pa? Sama Bang Elo, nanti Jani di tengah-tengah biar bisa meluk kalian berdua,” lirihnya. “Rin ....” Itu suara tenang milik Meru. “Jangan menangis.” Rinjani menoleh dan ingin mengadu pada Mahameru, “Meru ingat kalau Mama sama Papa janji akan segera kembali waktu mereka mau naik pesawat, ‘kan?” tanyanya. “Iya.” Mahameru mengangguk. Rinjani mengalihkan penglihatannya kepada kedua jasad orang tuanya lagi, “Nah, Ma, Pa, Meru saja ingat. Masa Mama sama Papa lupa?” “Saya tidak akan meninggalkan kamu, Rinjani.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN