“Saya hanya mau mencoba untuk menikmati rasa yang kamu sukai, Meru.”- Rinjani
***
Kedai tempat mereka makan es krim cukup ramai, akhir pekan memang membuat hampir semua tempai menjadi padat. Ada dua jenis tempat di kedai ini, di luar dan di dalam. Rinjani dan Mahameru lebih memilih untuk memakan es krimnya di luar. Sembari memandangi pejalan kaki yang membawa tas yang entah apa isinya. Atau, melihat anak-anak pulang sekolah kesorean, memandangi ekspresi pias di wajah mereka. Takut dimarahi ibu karena pulang terlambat.
Kedai ini bernuansa klasik. Kursi dan mejanya terbuat dari karyu yang dipelitur warna coklat. Wadah eskrimnya juga terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa, begitu pula sendoknya. Lagu-lagu yang diputarkan adalah lagu-lagu lembut di zaman dulu. Terkadang hanya instrumen sendu. Kedai ini sangat cocok untuk membuat tenang otak yang meradang. Juga sangat pas untuk membuat padam api pada hati yang runyam.
Mata Rinjani mengelilingi sekitarnya, menatap segala hal yang bisa membuat otaknya berinspirasi. Tersenyum pada ibu-ibu yang baru saja turun dari angkot, berjalan, lalu masuk ke gang yang ada di samping kedai ini. Mahameru hanya memandanginya. Mengukir jelas wajah gadis yang dicintai dengan sepenuh hati di relungnya.
Lihatlah Mahameru, gadis di hadapanmu ini benar-benar gadis yang periang, luar bisa, mandiri walau terkadang manja. Lihatlah kilau mutiara di matanya yang berbinar, tegakah kamu membuat kilau mutiara itu pecah bergantikan air mata? Relakah kamu membuat keriangannya tumbang menjadi nelangsa yang akan menggerogoti hatinya?
Mahameru menggeleng. Tidak. Dia tidak mau hal-hal itu terjadi. Namun, ia harus apa?
“Kenapa, Meru?” tanya Rinjani saat melihat laki-laki itu menggeleng. Sebenarnya, dia sudah menyadari bahwa ada yang berbeda dari wajah Mahameru. Namun, ia enggan mengakuinya dan enggan memikirkan lebih jauh tentang apa yang mengganjal itu.
“Tidak ada.”
Rinjani menaikkan alisnya, kemudian ia mengangguk, “Oh, ya sudah,” jawabnya. Kemudian ia kembali sibuk dengan es krim yang baru sampai ke hadapannya ini.
Mahameru hanya memandangi Rinjani menyendoki es krim rasa kopi dengan mangkuk besar di depannya. Mengarahkan sendok itu agar tepat sasaran menemui mulutnya. Mengecap perlahan, lalu ia sadar akan sesuatu. Air mukanya berubah.
“Tidak suka, Meru!” adu Rinjani.
Mahameru tersenyum, gadis ini benar-benar menggemaskan rasanya ingin dia cubit. “Karena rasanya tidak seperti rasa vanila?” tanyanya dengan memajukan badannya sedikit condong ke depan agar dapat melihat wajah Rinjani dengan lebih jelas.
Karena siapa tahu ….
“Kok tahu?”
Mahameru mengerjapkan matanya karena lima belas detik barusan adalah dia yang begitu dalam menatap mata Rinjani.
Mahameru tersenyum, “Itukan kopi, Sayang, makanya jangan mencoba hal yang sudah pasti tidak kamu suka. Bau kopi saja kamu pening, sekarang malah sok-sokan makan es krim rasa kopi.”
Rinjani menunduk menekuri lantai keramik yang juga berwarna coklat dengan motif random yang menjadikannya lebih estetik. “Saya hanya mau mencoba untuk menikmati rasa yang kamu sukai, Meru,” ujarnya lirih. Tampak murung akhirnya mendekam di wajah gadis itu.
Mahameru menatap Rinjani yang tertunduk lesu. Laki-laki itu tersenyum. “Hei, jangan murung. Bukannya kita saling melengkapi? Kamu menyukai vanilla dan saya penikmat kopi, tidak ada salahnya,” ujarnya seraya mengelus rambut jalin udang milik Rinjani
“Iya, tapi kamu bisa makan makanan yang rasa vanilla, dan saya muntah saat mencoba makanan yang rasanya kopi,” balas Rinjani sembari mendorong mangkuk es krimnya mendekati mangkuk es krim milik Mahameru.
Mahameru menggeleng, kemudian menyendok es krim yang ada di mangkuk yang diberikan Rinjani tadi, “Kenapa jadi sendu begini?” tanyanya sembari mengecap es krim yang sudah ia ambil tadi.
Rinjani tersenyum, kemudian mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Mahameru. Ia menenggelamkan matanya di lautan pandang milik laki-laki itu. Mencoba menyelami rahasia paling dalam milik seorang yang selama ini menemaninya. Dan akhirnya … dia berhasil membaca sesuatu.
“Kalau saja kamu tahu, saya ini sudah membaca raut wajah kamu, Meru. Kamu sedari tadi murung, memandangi saya dengan mata sayu. Kenapa?” tembak Rinjani telak menyuil perasaan Meru. “Apa yang membuat laki-laki yang penuh dengan solusi seperti kamu menjadi murung seperti ini?”
Kamu begitu mengenalku, Rinjani, batinnya. Meru terdiam, ia semakin memandang dalam pada bola mata hitam milik Rinjaninya. Membaca semua luka yang mulai terpahat di netra jenaka itu. Tidak, dia tidak ingin mencetak ekspresi luka di wajah Rinjani. Namun, kenapa semesta memberikan ia jalan untuk melakukan hal jahat itu?
“Meru? Apa pertanyaan saya sesusah itu untuk kamu jawab?”
Mahameru tersentak dan mengerjapkan matanya. Ia menarik dan membuang napasnya berkali-kali. Mengumpulkan segala energi yang justru semakin pergi. Merangkai banyak kata yang malah ia lupa. Menghadirkan segala berani, dan justru berani itu hilang.
Mahameru menarik dan mengembuskan napasnya sekali lagi. Matanya liar memandang ke manapun, asal tidak pada mata Rinjani. Mata itu, mata yang selama ini ia jaga agar tidak mengeluarkan beningnya. Mata yang selama ini ia suka, karena selalu tampak jenaka. Mata yang selalu membuatnya jatuh cinta, bahkan saat tak bisa memandangnya secara langsung. Akankah sebentar lagi mata itu menjadi sendu karenanya? Perkiraan itu justru membuatnya semakin takut. Akankah dia menyakiti mata itu?
“Meru?” tanya Rinjani lagi. Ia berusaha untuk melakukan kontak mata dengan Mahameru, walau laki-laki itu kentara sekali ingin menghindarnya.
Mahameru memantapkan hatinya, mau tidak mau, sekarang atau nanti, hari ini pasti akan terjadi. “Rin.”
Mendengar nada panggilan Mahameru yang tampak serius, Rinjani menegakkan kepalanya kembali. Ia turut berfokus untuk menatap laki-laki dengan mode serius di depannya ini.
“Iya, saya sudah tahu kalau kamu cinta sama saya,” balas Rinjani. Gadis itu mencoba menghilangkan segala pikiran negatif yang menembakki kepalanya. Bola matanya bergerak-gerak tak tenang. Mana bisa tenang kalau pikiran itu terus hidup dan mengakar ke mana-mana.
“Memang.” Meru lagi-lagi menarik napasnya sejenak. “Ada yang ingin saya bicarakan,” sambungnya. “Beberapa hal … eungh … mungkin ….” Lidahnya tiba-tiba menjadi kaku.
“Yang bahagia, ‘kan?” balas Rinjani penuh harap. Pupil matanya membesar, ingin mendengarkan kalimat bahagia yang biasanya Mahameru sediakan untuknya. “’Kan?” ulangnya.
Mahameru menggeleng. “Saya akan pergi,” ucapnya dalam satu tarikkan napas. Setelah itu, dia tidak bisa mendeskripsikan lagi bagaimana gejolak hatinya sekarang ini.
Rinjani mengangguk, “Iya, sebentar lagi kita akan pulang.”
“Pergi jauh dari kamu.”
Rinjani tersentak, egonya tersantuk. Tubuhnya menegang, otaknya mengerang. Ia menggeleng keras. “Saya tidak mendengar,” kilahnya.
Rinjani buru-buru memutar kursinya, melihat ke belakangnya. Melihat segala hal yang tidak ada Mahameru di dalamnya. Ia hanya menggeleng-geleng, berusaha untuk tidak mendengar kalimat-kalimat mengandung rasa perih yang akan diucapkan Mahameru setelahnya.
“Rin …?” panggil Mahameru, tetapi Rinjani hanya bergeming.
Mahameru mengusap mukanya gusar. Tidak. Seharusnya tidak begini. Seharusnya sekarang ia sedang memujuk Rinjani untuk mengganti es krim rasa kopinya menjadi rasa vanilla, rasa yang amat disukai gadis jenaka itu. Bukannya malah membahas hal berat yang membuat mereka akhirnya memiliki sekat. Membahas hal perih yang membuat hati mereka pedih.
“Rinjani …?”
Rinjani tetap bergeming. Ia berusaha mengenyahkan suara Mahameru yang terngiang-ngiang di telinganya. Pergi? Apa yang dimaksud laki-laki itu dengan semua kalimat pergi yang mungkin sekarang sedang laki-laki itu rangkai? Rinjani memilih diam. Dia terlalu asik memandangi jalanan yang lengang, walau sesekali satu dua kendaraan lewat dengan pelan atau bahkan kencang.
“Rinjani, saya serius,” lirih Mahameru kalut.
Rinjani tetap menggeleng-geleng. Juga tetap pada posisinya yang membelakangi Mahameru.
“Kedai kopi ini jadi tidak bagus,” ujar Rinjani dengan suara serak dan tercekat karena menahan tangis. “Es krim kopinya jadi lebih pahit. Tiba-tiba saja saya tidak suka es krim rasa vanilla. Pulang, ah, pantai lebih baik. Buku-buku banyak yang belum saya baca. Oh, iya! Semesta memang suka mengajak bercanda,” racaunya. Berharap ia menghilang dan kata-kata yang baru diucapkan Mahameru juga hilang.
“Jauh.”
“Satu tambah satu sama dengan dua. Hari ini saya sedang bahagia. Dua tambah dua sama dengan tiga. Tiba-tiba saja saya merasa luka. Hahahaha. Nanti sewaktu pembagian raport saya akan mendapatkan ranking satu dengan nilai matematika dan kimia yang sempurna. Wah!” Ia melambaikan tangannya yang gemetarasn. “Ah, hai, ibu! Halo, adik! Wah, dunia ini indah sekali ya, tapi …,” racaunya terpotong, “Tapi … tapi … tapi … kenapa ada bagian di hati ini yang sakit? Kenapa?”
“Rin …,” panggil Mahameru. “Saya mohon ….”
“Apa? Semesta, kenapa ada suara-suara manusia, sih? Di mana dia? Saya jadi takut.”
“Selama dua tahun, Rin. Saya mohon, tanggapi saya dengan baik.”
“Semesta, memangnya kalau saya bilang tidak ingin, tidak boleh, tidak setuju, Meru harus tetap di sini dan segala kalimat pencekalan lainnya, Mahameru akan mengangguk? Lalu bilang, Rin, saya hanya bercanda. Kalau memang begitu, maka akan saya respon dia dengan baik!” seru Rinjani. Air mata gadis itu sudah mengumpul di kelopak matanya. Ia menengadahkan kepala, tak ingin menangis.
Mahameru menggeleng, ia sadar bahwa ia tidak bisa mengiyakan segala yang Rinjani tidakkan barusan. “Rinjani, dalam dua tahun dari sekarang temui saya di Gunung Rinjani pada dini hari.”
Rinjani bergeming, senyap. Itu janji Meru. Ia memutar badannya cepat. Menatap tajam pada wajah pias laki-laki itu.
“Saya mau mendakinya bersama kamu!” raung Rinjani. Suaranya tercekat, atmosfer di kedai es krim ini tiba-tiba menjadi lebih mencekam.
“Rinjani ....”
“APA!?” bentak Rinjani. “Kamu sudah berjanji, Meru! Kamu mau ingkar?”
“Rin, saya mohon.”
Rinjani menggeleng lemah. Memejamkan mata. Menahan tangisnya, tetapi air mata itu sudah keluar dengan rela.
Ia menarik napasnya sedalam mungkin dan mengembuskannya sesuai ingin, “Tugas kamu adalah membahagiakan saya, tidak ada kata ‘pergi’ di dalamnya. Harusnya kamu sudah tahu, tanpa saya beritahu,” lirihnya. Gadis itu menatap lekat pada lantai yang menunjukkan segala kenangan mereka selama ini.
“Rin, dengarkan saya dulu ....”
“Saya mau pulang,” potong Rinjani. Gadis itu menegakkan badannya yang layu, diikuti oleh Mahameru. “Sendiri. Kamu di sini saja, siapa tahu kamu bisa berubah pikiran,” cegahnya saat melihat Mahameru juga tegak.
Rinjani menatap dalam pada mata Mahameru, mungkin untuk terakhir di hari ini. Setelah itu, ia mengambil dirinya dan berjalan melewati laki-laki yang sudah sangat kusut ekspresinya.
“Jangan menangis,” ujar Mahameru. Hanya itu yang mampu diucapkan oleh mulutnya.
“Air mata saya sudah terjatuh. Banyak.” Rinjani berjalan kencang menjauhi Mahameru yang terguncang.
Laki-laki itu hancur bukan kepalang. Ia benturkan kepalanya ke meja kedai, menarik perhatian pengunjung lain. Semesta yang sudah ia bangun lima belas tahun ke belakang sudah hancur. Lebur hanya dalam lima menit, pada kalimat yang mengandung kata pergi. Wajahnya buruk, hatinya remuk. Dia sudah berhasil membuat mata yang selama ini ia jaga menjadi menangis hingga memerah.
Mahameru mencoba berdamai dan menikmati semua resiko atas keputusan yang ia ambil hari ini. Namun, kata-kata damai itu hanyalah penenang sesaat. Bahkan, tidak sampai lima menit. Saat ia mengingat kembali raut wajah luka yang ditampilkan Rinjani, kedamaian itu hilang. Dan, dia bukanlah robot yang tidak mempunyai perasaan. Perpisahan tidak akan pernah bisa dinikmati.
Ia lantas berdiri, mencoba tegak di kakinya yang seperti kehilangan tulang. Berjalan gontai di antara orang yang berlalu-lalang. Memaksakan kakinya tetap melangkah, meski dia pun tak tahu akan ke mana. Hilang. Hilang sudah jenaka yang menjadi permata baginya. Lenyap. Telah lenyap kebahagiaan yang selama ini ia hadirkan. Mahameru tidak menyesal, entah satu atau dua hari lagi. Namun, keputusan pergi itu sudah bulat.
***