"Saya ini semestamu, Rin!" -Mahameru
***
Pohon pisang yang daunnya beberapa ranggas karena dipergunakan sebagai bahan pembukus pakanan yang dijual. Jantungnya juga dijadikan sebagai bahan dasar gulai yang enak dinikmati. Ternyata pohon pisang memiliki banyak fungsi dan laur biasa. Memang, semesta ini diciptakan dengan tidak main-main oleh Tuhan.
Laki-laki berumur sepuluh tahun itu tengah berlari-lari mengitari sawah yang masih berwarna hijau. Terik matahari tak menghalangi cengiran yang terbit di wajahnya. Ia sudah tak sabar melihat gigi gingsul temannya yang berpipi tembam. Ia juga ingin menyubitnya.
“Rinjani!”
“Mahameru!” balas Rinjani dengan bersungut. “Saya sudah karatan menunggu kamu!” infonya.
“Memangnya kamu itu besi yang mempunyai sifat korosif?” tanya Meru. Laki-laki itu memang cerdas.
Rinjani memberengut, “Pelajaran IPA saya nilainya sembilan puluh, tapi saya tidak mengerti apa yang kamu maksudkan.”
Mahameru tersenyum, kemudian mengelus rambut berkuncir dua gadis kecil di hadapannya ini, “Setidaknya bahasa yang kamu gunakan sudah seperti bahasa saya.”
“Dasar membawa pengaruh!”
Mahameru hanya bungkam, ia pandangi wajah gadis kecil yang sedikit lebih pendek darinya itu. Ada lesung pipi yang tipis, yang hanya bisa dilihat kalau Rinjani tersenyum lebar. Namun, Mahameru selalu berhasil memunculkan lesung pipi itu. Dia tidak pernah ingin apa yang menjadi kebahagiaan bagi Rinjani menjadi memudar. Dia juga tidak ingin kalau dirinyalah yang menjadi penyebabnya.
“Saya punya kertas.” Mahameru mengulurkan tangannya untuk mendapatkan perhatian dari Rinjani. Walaupun sebenanrya dia tahu bahwa gadis kecil itu selalu tertarik dengan apa yang akan ditunjukannya.
Rinjani memutar bola matanya, “Saya juga punya di rumah,” jawabnya dengan datar. Padahal semua orang bisa melihat rasa ingin tahu yang tertuang dalam ekspresi wajah berpipi tembamnya itu.
Mahameru tertawa, lalu memberikan kertas yang ada di tangannya. “Nih, buka!” pintanya.
Rinjani menerima kertas itu dengan kesal, kesal karena disuruh menunggu terlalu lama. Ia membuka kertas yang disodorkan Mahameru. Kertas dari buku yang sepertinya disobekkan. Lalu, ia membaca tulisan dengan ukiran yang indah. Ukiran tangannya Mahameru.
Rinjani, coba pandang wajah Mahameru selama lima menit.
“Apa tulisannya?”
“Rinjani, coba pandang wajah Mahameru selama lima menit.”
“Itu perintah semesta, ayo lakukan!” seru Meru riang.
Rinjani mengernyit. “Semesta bagaimana? Inikan tulisan kamu?” tanyanya bingung.
Mahameru tertawa.
***
“Saya ‘kan semestamu, Rinjani.”
Mahameru tengah memandangi deburan ombak yang menyapa pembatas antara jalan dengan pantai. Batu-batu tersusun menyanyikan musik merdu yang berpadu dengan suara burung cermai. Ditambah dengan partitur yang tanpa sengaja dimainkan oleh binatang laut. Dan jangan pernah lupa dengan peran pedagang kaki lima yang menjadikan terompet dagangannya sebagai bunyi paling nyaring di semua tempat.
Mahameru menarik dan mengembuskan napasnya dengan setenang mungkin. Senja, ramai dan lagak tawa anak kecil adalah perpaduan paling seru untuk merasakan lelah yang selama ini terhimpun dengan baik. Di bawah pohon ketapang, kursi kayu yang dipotong dan disatukan seadanya, dua cup dalgona dari abang ganteng, serta lima tusuk makanan yang disesapi dengan riuhnya ombak. Menjadi lukisan tidak sengaja yang kerap memesona. Ditambah Rinjani, semuanya menjadi sesempurna itu.
Suara kendaraan yang melenguh dengan sayup, senda gurau sepasang yang sedang membahas masa depan, suara bayi yang menangis sebab kepanasan, atau diam yang riuh di antara dua orang yang sedang mengumpulkan nyali untuk memulai obrolan. Semua tampak tidak sengaja yang menjadi takdir luar biasa. Semua terlihat alami dengan tangan Tuhan yang menyajikannya dengan sempurna. Dicukupan dengan Rinjani, semuanya menjadi semenarik itu.
Rinjani menoleh dengan sengaja demi menatap wajah Mahameru yang sedang menatap jauh ke ujung laut, ke arah matahari tenggelam. Tidak ada senyum tipis di garis pipi laki-laki itu, tetapi senyum Mahameru selalu hidup dan hangat untuknya. Jika anugerah memiliki Mahameru adalah anugerah terindah, maka istilah itu jelas benar adanya.
“Kalau saja saya hitung berapa kali kamu melakukan hal-hal ini berulang kali, mungkin saja saya sudah mendapatkan rekor dunia, ya?” tanya Rinjani sembari menolehkan kepalanya lagi untuk menatap ke arah yang Meru tatap. Kertas yang diberikan laki-laki itu masih ia genggam. Kertas dengan tulisan yang sama seperti yang sering Meru berikan untuknya.
“Tidak perlu.”
“Karena?”
Mahameru menoleh untuk menatap pipi Rinjani, karena dia tahu bahwa mata gadis itu sedang tidak menatap ke arahnya. “Karena penghargaan terbaik yang mampu dunia beri sama kamu itu bukannya tentang rekor-rekor itu,” jawabnya sembari mengulas seberkas senyum di pipinya. Siapa tahu sebentar lagi Rinjani akan menoleh.
Benar saja, gadis itu menoleh dengan cepat.
“Lalu?” tanya Rinjani sembari memiringkan kepalanya.
“Semesta sudah menghadiahkan saya untuk menjadi rekor duniamu.”
Rinjani tertegun, mencoba memahami makna kalimat yang disampaikan oleh Mahameru. Laki-laki itu selalu memiliki kalimat multitafasir di setiap percakapan mereka.
“Lalu, saya adalah?”
“Isi dunia saya, semesta saya. Kamu adalah pantai, laut, gunung, telor asin, ketoprak, roti pisang coklat, kopi pekat, hujan, kerikil, bakso bakar, soto babat, tangisan anak bayi, lampu merah, trotoar juga … rumah dan segala-galanya.”
“Jawabannya tetap sama, ya?”
“Karena saya mencintai kamu dengan menjadi Mahameru yang selalu sama dan kamu adalah Rinjani yang menjelma menjadi semesta yang saya punya. Semuanya akan selalu sama.” Mahameru menjawab teguh, ia juga membawa tangan Rinjani untuk merasakan deguban jantungnya saat ini.
Rinjani tertegun, ia merasakan deguban jantung laki-laki itu berbeda kali ini. Lebih menggebu dan bertalu-talu.
“Karena kamu Rinjani dan saya Mahameru.”
“Balasannya juga tetap sama.”
“Mengulang percakapan yang sama dengan kamu itu adalah kebahagiaan yang berbeda, Rinjani.”
Rinjani menaikkan sebelah alisnya, “Alasannya?”
“Karena saya selalu jatuh cinta.” Mahameru mengembuskan napasnya dengan pelan. “Sekali lagi, karena kamu Rinjani dan saya Mahameru.”
Rinjani bungkam dengan mengulum senyumnya. Jawaban-jawaban yang diberikan oleh Mahameru selalu mampu membuat hatinya menjadi taman bunga yang diramaikan oleh terbangnya kupu-kupu. Kemudian, tanpa sengaja keadaan menjadi hening begitu lama.
“Meru, ombak itu lucu, ya?” Tiba-tiba saja Rinjani menyeletuk.
Meru menghadapkan pandangannya ke wajah Rinjani. Menatap gadis itu lama, lalu barulah ia bertanya, “Kenapa?”
“Karena ombak berdebur-debur.” Rinjani tersenyum. Memaknai perkataannya sendiri.
Mahameru mengerutkan keningnya, “Lucunya ada di bagian mana, Rin?” tanyanya.
“Karena kamu tertawa.”
Mahameru tergelak, lucu sekali gadis di sampingnya ini. “Saya tertawa itu karena kamu, Rin, kamu itu lucu.” Saat semua orang memanggilnya dengan panggilan Jani, hanya Merulah yang memanggilnya dengan sebutan Rin.
“Berarti saya adalah ombak?”
“Kenapa begitu?”
“’Kan saya bilang kalau ombak itu lucu. Saya lucu, berarti saya adalah ombak.”
“Alasannya?”
“Itu tadi alasannya, saya menggabungkan dua frasa yang kamu dan saya utarakan. Biar jadi satu, hehe,” ujar Rinjani di akhiri dengan tawanya yang berciri khas.
Mahameru tersenyum. “Berarti saya adalah gunung,” ucapnya.
Rinjani menoleh ke arah Mahameru dan terjadilah kontak mata di antara mereka berdua. Mata Mahameru tampak sedikit berbeda, jika saja Rinjani sadar lebih cepat.
“Karena?”
“Gunung adalah impianmu, ‘kan?”
“Rinjani.”
“Namamu.”
“Gunung Rinjani.”
“Saya.”
“Kenapa?”
“Impianmu.”
Rinjani mengalihkan pandangannya, menyembunyikan pipinya yang menghangat. Mungkin sekarang pipinya sudah bersemu merah seperti tomat. Mahameru selalu seperti permen yang didalamnya berisi cairan manis yang siap meledak saat digigit, mengejutkan dan menyenangkan.
“Semu merah itu sudah saya lihat, Rin, tidak perlu kamu sembunyikan,” goda Mahameru. Ia masih heran, kenapa semesta bisa-bisanya menciptakan gadis semenggemaskan Rinjani ke dunia ini?
Rinjani hanya menggeleng-geleng tak jelas, menambah kadar manisnya di mata Mahameru. Kemudian dia menggumam-gumam, entah apalah yang dia ucapkan. Lalu, ia sekilas menatap laki-laki yang ada di sampingnya ini. Setelah itu memalingkan wajah dengan segera dan langsung bungkam seribu bahasa.
“Meru?”
“Ya?”
“Apa makna hidup? Apa alasan kamu tetap hidup?”
Mahameru sedikit tersentak, kemudian langsung berusaha untuk menguasai emosinya. Siap untuk menjawab pertanyaan Rinjani yang selalu tiba-tiba.
“Sebab makna hidup adalah tawa dan air mata yang tidak pernah abadi. Sekarang kita tertawa, bisa jadi di menit berikutnya kita menangis. Tidak ada yang menetap paling lama, bahkan untuk percaya diri yang kita punya. Tidak ada yang tidak berubah, bahkan untuk kudapan makan siang yang sempat kita rencanakan di pagi harinya. Semua akan berubah,” jawab Mahameru dengan ringkas. Ia tahu, Rinjani akan memahami kalimat yang barusan diucapkannya.
“Kalau menerima?”
Mahameru menarik dan mengembuskan napasnya, mengumpulkan kalimat untuk menjawab pertanyaan selanjutnya. Rinjani yang menggemaskan itu selalu memiliki banyak pertanyaan yang luar biasa.
“Sebab makna paling dalam dari menerima adalah membahasnya dengan tawa atau melupakannya dengan sengaja, tidak memiliki tuntutan paling aneh dan berupa-rupa, atau tidak memberikan tekanan paling menyebalkan yang bahkan kita sendiri pun sukar menaklukannya.”
“Iyakah begitu? Masa? Kata siapa?”
Mahameru mengangguk, “Sebab menerima adalah membiarkan rasa rindu yang dahulu berhasil di tutup rapat-rapat, di sembunyikan jauh-jauh, berusaha tak terlihat, berusaha tak terbaca oleh siapa saja. Namun hari ini, lesakan rindu itu harus kembali diakui, sakit yang memperparah rasa ingin bertemu itu harus dimunculkan lagi.”
Rinjani mengangguk, “Oh iya, benar saja, hari ini saya merindukan kamu. Setelah sekian lama saya berhasil berpura-pura tidak mengingat kamu.”
Mahameru nyaris terjatuh dari tempat ia duduk, rasa aneh muncul karena kalimat yang barusan Rinjani ucapkan, “Saya ada di sini, ‘kan? Saya ada di samping kamu, Rin.”
Rinjani mengedikkan bahunya, “Tidak tahu, Meru, saya merasakan kamu begitu jauh.”
Hening. Setelah kalimat itu tidak ada lagi yang berani mengambil suara.
***
“Rin …?”
“Ya?”
“Kita akan selalu sama-sama, ‘kan?”
Gadis berumur dua belas tahun itu mengangguk, “Iya, asalkan kamu jangan pernah meninggalkan saya.”
***
“Meru,” panggil Rinjani setelah sekian lama keheningan menyembunyikan suara mereka.
Mahameru menoleh lagi, “Hmmm?”
“Kenapa senja itu indah?”
Mahameru termenung sejenak, ia selalu ingin menampilkan jawaban terbaik dari setiap pertanyaan yang Rinjani lontarkan, “Karena ia akan selalu kembali.”
Rinjani mengangguk, “Fajar, bagaimana?” tanyanya kemudian.
“Sama, cuma fajar lebih sedap.”
Rinjani mengulum senyumnya, kemudian berdeham beberapa kali, “Seperti mie, kenapa?”
“Karena dia mengetuk matamu supaya bangun, supaya menyaksikan ia muncul. Fajar mengartikan kenaturalan dari matahari, kecantikan dari bumi.”
“Berarti fajar mendeskripsikan saya?” tanya Rinjani.
“Iya, ‘kan kamu adalah semestanya saya.”
“Oke, Gunung!”
Mahameru menghembuskan napasnya, kentara sekali ada lelah yang terimbuh dengan keluarnya karbon dioksida itu. Senja akan segera tiba, perpisahan mungkin juga akan ada. Ia memandangi Rinjani yang tengah menyipitkan matanya. Senja membuat matanya kesilauan, tetapi Mahameru belum menemukan bagaimana caranya menghalau silau pada gadis itu dengan tidak mengurangi pesona senja yang menerpanya.
Senja kali ini sama dengan senja-senja yang mereka berdua nikamti sebelumnya. Semburat yang indah menerpa sesiapa saja yang berani menantang dengan menatapnya. Orang-orang berlalu-lalang, ada yang berhenti sebentar demi mengabadikan senja hari ini. Berselfie ria, atau hanya sekedar mengambil foto paling estetik dari senja. Di kemudian hari dijadikan latar untuk kutipan atau kata-kata mutiara yang membangkitkan semangat dan energi positif lainnya.
Langit menjadi lebih kelam, yang duduk mulai beranjak. Mereka yang terdiam mulai bergerak. Namun, Rinjani justru memejamkan matanya, merasakan hembusan angin pantai yang menenangkan hati dan pikirannya. Menetralkan otaknya yang panas, apalagi kalau bukan karena tugas matematikanya?
***