“Saya merasakan helaan napasmu kali ini berbeda. Seperti ada duka juga lara. Meru, ada apa?” Rinjani
***
“Aduhhh ….”
Rinjani tampak membolak-balikkan badannya di atas kasur. Ia merasakan tak nyaman malam ini. Seharusnya ia sudah tidur, tetapi matanya sedang berperan antagonis, tidak mau menghadirkan rasa kantuk di dirinya. Selimutnya sudah jatuh ke lantai, bantalnya pun sudah terhempas satu, tetapi kantuk itu tak kunjung muncul. Heran.
Rinjani menarik napasnya panjang, menghembuskannya perlahan. Mencoba bermediasi supaya mendapatkan ketenangan. Ia mengedarkan kepalanya ke sekeliling kamar. Menatapi lemarinya yang berwarna putih, memiliki cermin panjang, ada wajah kusutnya di sana. Lalu bergeser pada meja belajar yang dihuni oleh banyak buku, buku-bukunya. Ada wadah pena yang berisi pena warna-warni, di sampingnya terdapat foto ia dan Meru saat masih kanak-kanak, di sawah. Foto itu diambil oleh Elo dengan menggunakan kamera handphone ayahnya yang jadul, jadi nampak buram. Meja belajarnya bersih dan rapi. Kantuk itu tak kunjung tiba.
Ia lanjut memerhatikan bohlam yang tersimpan di atas nakas. Warnanya kuning –jika itu benar-benar disebutkan untuk warna lampu. Pijarnya redup jika dibandingkan dengan lampu utama di kamarnya. Namun, cukup untuk menerangi tidurnya yang nyenyak malam ini –andai saja. Rinjani bukanlah manusia yang bisa tidur di gelap yang benar-benar gelap. Hingga kebiasaannya ini membuat bingung orang-orang saat dia sedang ikut kemah: SD, SMP dan SMA. Dan pada akhirnya, dengan baik hati gurunya mengizinkan Rinjani membawa senter dengan cahaya yang cukup menerangi dunia –ini adalah istilah yang terlalu dilebih-lebihkan.
Rinjani menurunkan badannya, berjalan menuju jendela lebar yang gordennya berwarna biru, sewarna dengan sprai dan bantalnya. Ia buka kain jendela, lalu menatap keluar. Menatap Kota Kediri yang masih ramai meski sudah malam begini. Kota yang setiap pojoknya menjadi saksi perjalanan dan kebersamaannya dengan Meru. Ah, laki-laki ajaib itu, batinnya.
“Meru sedang apa, ya?” gumam Rinjani. Ia mengembuskan napasnya dan terlihat ada asap yang keluar dari mulutnya. Iya, Kediri malam ini lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.
Rinjani mengedikkan bahunya, kemudian ia berjalan menuju meja yang menyimpan telpon genggamnya, mengambil benda pipih tersebut, membaca pada pesan terakhir yang dikirimkan Mahameru.
Mahamerunya Rinjani: kalau susah tidur, telpon saja saya.
Pesan yang selalu Mahameru sampaikan kepadanya kalau malam sudah tiba. Laki-laki itu tahu betul kalau dirinya memiliki penyakit susah tidur. Jadilah sekarang Rinjani melakukan panggilan pada nomor Mahameru.
Nada sambung pertama panggilannya langsung putus. “Halo, Mahameru di sini hadir untuk Rinjani.”
Rinjani tersenyum mendengar sapaan pertama yang selalu Mahameru sampaikan ketika menjawab panggilannya. Selalu seperti itu sejak bertahun-tahun lalu. Tidak pernah berubah sedari mereka telah memiliki telpon genggam.
“Ada hantu di atas kamar saya, Meru,” ujar Rinjani dengan nada yang seolah-olah sedang takut. Ia menggigit bibirnya sendiri agar tidak keceplosan tertawa.
“Kamu takut?”
“Tidak. Ada kamu soalnya.” Rinjani tersenyum. Betapa suara Mahameru bisa menenangkan kalutnya.
Terdengar helaan napas dan suara yang tertahan di ujung sana, “Saya ‘kan jauh?”
“Hatinya di sini, ‘kan?”
“Tapi tidak bisa menemani.”
“Meru, saya ingin mendaki Gunung Rinjani.”
“Kenapa?”
“Karena bersama kamu.”
Terdengar suara dehaman di sana, Rinjani tersenyum. Selalu tersenyum jika tentang Mahameru. “Saya ‘kan belum mengiyakan. Hmmm.”
“Memangnya tega untuk menjawab tidak?”
“Mahameru lebih seru.”
“Sudah banyak yang ke sana.” Terdengar nada kekecewaan yang keluar dari Rinjani.
“Rinjani juga.”
“Tapi saya belum.”
“Memangnya sudah pernah ke Mahameru?”
“Pernah. Ini saya sedang mengobrol dengan Mahameru.”
“Ke Mahameru yang gunung, Sayang.”
Rinjani menggeleng, lalu ia sadar kalau mereka sedang tidak bertemu. “Tidak mau. Ada kodok di Mahameru.”
“Di Rinjani juga ada.”
“Tapi ada kamu, saya jadi tidak takut,” pujuk Rinjani.
“Besok ke pantai, yuk?” ajak Mahameru berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Pantai yang namanya Rinjani ada tidak?”
“Nanti saya yang buat.”
“Pasirnya putih, ya?”
“Nanti pasirnya pelangi.”
“Hahaha. Sudah, ah. Malam sudah larut, saya sudah mengantuk juga.”
“Liburan semester kita ke Rinjani.”
“Janji?”
“Mengusahakan.”
“Karena?”
“Untuk membahagiakan Rinjani.”
“Selamat malam, Meru.”
“Selamat jatuh cinta setiap hari, Rinjani.”
TUT!
Telpon terputus. Rinjani senyum-senyum sendiri. Mendengarkan suara Mahameru memang mampu membuat dirinya tenang. Lalu, ketika sudah tenang ia akan cepat mengantuk. Ia pandangi foto laki-laki yang ada di layar telponnya. Laki-laki yang tengah nyengir menampilkan gigi taring dan kumis tipisnya. Laki-laki itu adalah Mahamerunya.
***
Hari menjelang pagi, menemui siang dan menyapa sore. Rinjani tengah bercengkerama dengan tugas yang barusan diberikan oleh gurunya. Ditemani Mochi, kucing anggora kesayangannya. Tak lupa di atas meja itu tersedia setoples kue kering, kue yang dibuat oleh tangannya sendiri. Mochi mengelus-elus kakinya, mengajak bermain.
Dengan leluasa tangan Rinjani mengambil kue kering yang beberapa hari lalu ia buat, rasa coklat dicampurkan dengan rasa kopi. Mau tahu rasanya? Rasanya seru sekali, seperti ada permainan yang meledak di mulut dan tersalurkan hingga ke perutmu. Kemudian, rasa itu berputar sebentar di lambung dan melanjutkan prosesnya sebagai makanan.
“Tidak sekarang, Mochi.” Rinjani menggeleng, sedang ada banyak hal yang harus ia selesaikan. Namun, kucing kesayangannya justru tetap mengeluskan ekor pada kakinya. Rinjani mendelik dan nampaknya kucing berwarna putih itu mengerti. Ia langsung duduk menatap tuannya yang tengah serius.
Tangannya dengan lincah mengerjakan tugas matematikanya. Pikirannya sudah melang-lang buana ke manapun tentang kebahagiaan yang selalu Meru hadirkan untuknya. Rinjani ingin segera bertemu dengan laki-laki ajaib itu. Dengan cermat, ia meneliti angka-angka yang dituliskan di buku catatannya, lalu memindahkan rumus-rumus yang tersedia dan memasukkan angka-angka baru yang ia dapat dari soal. Lima soal, masing-masing soal memiliki lima anak, lumayan menguras otak.
“Pyuuh, selesai!” seru Rinjani lega. Dengan segera ia membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja belajarnya. Lalu, membersihkan diri dan bersiap-siap bertemu dengan Mahameru yang selalu membawa kejutan seru-seru. Mochi memberengut karena diabaikan oleh tuannya. Biarlah sesekali kucing itu tidak dia perhatikan, biar tidak manja.
Hanya dia yang boleh menjadi Si Manja, itupun hanya kepada Mahameru.
Rinjani menggunakan kemeja berbunga dengan paduan rok bewarna krem. Mengikat rambutnya seperti ekor kuda dan membiarkan poninya ditiup angin semesta. Ia menggunakan sepatu kets yang juga berwarna krem. Tak lupa dia oleskan bedak tabor di pipi tembamnya, serta mengoleskan lipgloss di bibir mungilnya. Dia tampak segar dan bahagia.
“Mau ke mana, Dek?” tanya Elo, kakaknya Rinjani. Ia sedikit pangling dengan adiknya yang keluar kamar dengan riang. Rinjani memang sering seperti itu, tetapi rasanya akan selalu mengejutkan jika dia melihat adiknya itu di saat-saat yang seperti ini.
Rinjani menyeringai. “Abang harus bisa tebak Jani mau ke mana!” serunya riang. Ia mendekat pada Elo dan mencomot roti bakar yang ada di genggaman kakaknya itu.
“Jani?” Elo mengela napasnya. “Kenapa diambil?”
“Lapar dong!” jawab Rinjani sembari menyeringai lagi. Dia sangat riang hari ini.
“Terserah!” balas Elo. “Mau ke mana kamu?” tanyanya sekali lagi.
“Abang harus menebak, dong!”
Elo menggelengkan kepalanya, ia sudah tahu adiknya akan ke mana jika ia bersuara riang seperti ini. “Meru?”
“Seratus!” Rinjani bertepuk tangan semakin riang. “Abang mau nitip apa?”
“Meru udah ada di depan, tuh,” ujar Elo. Rinjani sedikit terperangah, laki-laki ajaib itu tepat waktu sekali.
“Abang, Jani pamit, ya!” Rinjani mengerahkan tenaga kakinya untuk berlari ke arah ruang tamu, menjumpai laki-laki yang membuatnya selalu rindu.
“Jatuh nanti, Jani!” peringat Elo. Adiknya selalu tidak bisa mengontrol diri jika sudah mendengar adanya Meru. Namun ia tahu, pada Mahamerulah Rinjani bisa menemukan bahagianya.
Mahameru tersenyum saat melihat Rinjani menghampirinya dengan cengiran yang tak lepas dari wajah gadis itu, “Rinjani, kamu menunggu lama?” tanyanya saat Rinjani sudah ada di depan wajahnya. Kenapa gadis ini tidak habis cara menjadi menggemaskan, sih? batinnya.
Rinjani tertawa, “Saya selalu menunggu untuk perjumpaan kita, Meru.”
“Sudah pr matematikanya?” Mahameru mengerlingkan matanya saat menatap pupil menggemaskan milik Rinjani.
“Sesuai apa kata kamu, kalau ingin jalan-jalan sama kamu syaratnya adalah saya harus mengerjakan semua yang harus saya kerjakan.”
“Rinjani yang cerdas!” Meru mengelus kepala Rinjani dengan lembut. “Ayo, motor saya sudah terlalu rindu sama kamu.”
Rinjani mendongak untuk menatap Mahameru yang tingginya sudah keterlaluan, “Pemiliknya bagaimana?” tanyanya.
“Lebih-lebih.”
“Saya juga.”
“Apa?”
“Rindu diajak jalan-jalan sama pemilik motornya.”
Mahameru tertawa dan Rinjani jatuh cinta. Ia memperhatikan lekuk wajah laki-laki itu. Tidak pernah ada bosan yang menghampiri otaknya untuk memandangi paras tak biasa laki-laki itu. Selalu luar biasa dan mengagumkan.
***