Merasa tubuhnya terhimpit, Rinjani pun berbalik. Tapi sepertinya itu ide yang buruk. Karena saat mereka berhadapan, tatapan langsung beradu tajam, deru nafas seolah bertukar. Baik Rinjani maupun Sadewa hanya membeku. Diam-diam Rinjani melirik otot bisep yang tampak sempurna, ketika tangan itu masih bercokol di atas kepalanya. Sungguh pemandangan yang langka, melihat mentornya hanya mengenakan kaos ketat dan celana jogger. Belum lagi, dengan rambut setengah basah. Malam itu, Rinjani merasa beruntung dan tak henti-henti mengagumi ciptaan Tuhan-nya. ‘Ya Tuhan, jantungku mulai nggak aman.’ Dalam beberapa detik, mereka saling bertatap. Rinjani bisa merasakan jantungnya yang berdetak setiap kali terkikis jarak. ‘Ciptaan Tuhan yang paling sempurna.’ Rinjani bermonolog. Saat berikutnya, ia

