SEBUAH UNGKAPAN PERASAAN

1358 Kata

“Sebelah? Sebelah mana?” tanya Sadewa seraya mengangkat sebelah alisnya. Rinjani langsung membeku. Dasar bodoh! Baru saja ia keceplosan! Tidak mungkin dirinya memberitahu Sadewa tahu kalau mereka tinggal bersebelahan ‘kan?” “Eung … itu, Pak ….” Rinjani gugup ketika Sadewa menatap dengan sorot mata tajam. “Kos-kosan di sebelah apartemen ini,” jawab Rinjani berbohong. Ia berharap semoga Sadewa percaya. Ia sendiri tidak yakin di kawasan elit seperti ini ada yang menjejakkan kamar kosan. Maklum saja, hidup Rinjani hanya bolak-balik kampus, kafe, dan apartemen. Terakhir kali saja, ia nekat melangkahkan kaki ke bar. Jadi, ia tidak tahu pasti apakah ada tempat yang dimaksud. Bibirnya komat-kamit, berharap Sadewa mengacuhkan omong kosongnya. “Memangnya ada, ya?” tanya Sadewa agak tidak perc

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN