“Lho, kok nangis?” Nayyala berpindah dari kursi ke tepi ranjang. Ia mendekat lalu memeluk tubuh sahabatnya. Rinjani terisak hingga seluruh tubuhnya bergetar. “Nggak apa-apa, nangis dulu aja.” Nayyala cukup paham bahwa patah hati itu menyakitkan. Mungkin itulah fase yang sedang dialami oleh sang sahabat. Beberapa menit berlalu, Rinjani mulai tenang. Isak tangis pun tak lagi terdengar. Ia menjauhkan diri lalu mengulurkan tangan untuk mengambil tisu di nakas. Nayyala langsung mendekatkan kotak tisu itu dan membantu mengeluarkan beberapa lembar tisu. Setelah kondisi mulai tenang, ia pun kembali menginterogasi sahabatnya. “Udah cukup tenang buat cerita?” Rinjani hanya mengangguk. “Ada apa? Kenapa lo bisa kayak begini?” Cukup lama, Rinjani terdiam. Namun, ia berusaha sekuat tenaga mence

