Sadewa berdiri di sisi gadis yang tengah terbaring lemah di sebuah ruang IGD. Setelah menemukan Rinjani jatuh pingsan, ia langsung membawa ke rumah sakit terdekat yang jaraknya hanya lima menit. Sebelum itu …. “Pak … to-long …,” lirih Rinjani. Sadewa merasa ujung bajunya tertahan, lalu melihat ke bawah dan mendapati jemari halus itu menggenggamnya. Ini pertama kali ada seorang perempuan selain Chayra berada dalam jarak yang begitu dekat. Sadewa sangat terkejut. Ia lantas menoleh. Memandang wajah gadis itu semakin pucat, ada kekhawatiran dalam sanubarinya. Sadewa memang tak bisa mengekspresikan diri. Ia terkesan dingin dan cuek, namun sebagai manusia ia tetap memiliki hati nurani. “Kamu kenapa?” “Sa-kit, Pak.” Rinjani semakin menguatkan genggaman ketika perutnya terasa melilit. Belu

