“Rinjani?”
Vlora menyebut nama itu hingga membuat Dila menoleh ke belakang.
“Kamu kenal, Rin?” tanya Dila.
Namun, Rinjani tak menjawab. Tubuhnya gemetar tak karuan. Melihat Vlora dan Emir berpakaian seperti itu membuat otaknya berpikir jauh. Ketika itu pula, jantung terasa berdenyut hebat. Rinjani tak sanggup. Air mata hendak menerobos keluar. Ia harus segera bersembunyi. Ia tak ingin Vlora menertawainya.
“Mbak Dila, Rin mau ambil yang ketinggalan di mobil dulu, ya.”
Rinjani mengalihkan isu dan mengabaikan pertanyaan Dila. Wanita itu pun hanya bisa mengangguk dengan berbagai pertanyaan yang memenuhi otaknya. Sementara Emir bagai patung tak bernyawa. Lidahnya kelu, tak bisa menahan kepergian gadis itu.
Dila membuka kunci mobil dari kejauhan. Tatapan ketiga orang itu pun mengekori Rinjani yang tengah menuruni anak tangga. Setelah itu, mereka kembali pada tujuan utama.
Rinjani berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia berharap pandangan Vlora dan Emir tidak mengikuti kemana langkah kakinya pergi. Saat itu, Rinjani tidak betul-betul ingin ke mobil. Justru, ia melewati mobil itu dan berjalan entah kemana. Pikirannya terlalu kacau. Air mata yang sempat tertahan, kini bercucuran.
“Eh, itu bukannya si Rinjani, ya?”
Dari arah berlawanan, ketika Bhumi menginjak pedal gas untuk menanjak—ia melihat sosok Rinjani melangkah dengan tergesa di depannya, dalam jarak satu meter. Sesekali kaki gadis itu tergelincir saat menginjak batu kerikil. Akan tetapi, Rinjani hanya menatap lurus tanpa mempedulikan sekitarnya.
“Iya.”
“Dia mau kemana, ya?”
“Dari tadi ‘kan gue sama lo. Ya … mana gue tahu!” ketus Sadewa, dingin. Tapi tatapannya tak lepas dari gadis itu.
Saat mobil dan pijakan kaki Rinjani sejajar, Bhumi membuka kaca sisi Sadewa lalu memanggilnya.
“Rinjani, mau kemana?”
Rinjani tak menoleh sama sekali. Ia terus melangkah kemana kakinya membawa. Awan yang mulai menghitam pun tak lagi ia hiraukan. Dunianya terasa hancur. Kekasih yang selama ini ia puja, ternyata bermain kotor dibelakangnya.
“Eh dia nggak jawab lho.”
Bhumi panik lalu menghentikan mobilnya. Titik pandang mereka melihat dari kaca spion di sisi Sadewa. Gadis itu sama sekali tak menghiraukan sekitarnya. Langkah kakinya terus melaju.
“Kita ke Dila dulu, tanya apa yang terjadi.”
Sadewa acuh. Otaknya merespon dengan logika. Mungkin saja, Rinjani hanya ke warung untuk membeli kebutuhannya?
“Tapi ….”
“Udah cepetan!”
Tiba di teras, Bhumi memencet bel dan langsung disambut oleh Emir.
“Siapa?”
Alis Sadewa terangkat.
‘Lelaki ini?’
“Ayo putus!”
Memori Sadewa seketika berputar. Ia menoleh ke sekitar berusaha menemukan sosok Rinjani. Dugaannya ternyata salah. Apa mungkin Rinjani pergi karena menghindar dari pria ini?
“Kami dari SB-Art Global, tadi rekan kami sudah datang untuk meninjau.”
“Oh, iya, silakan masuk, sudah ditunggu.”
Emir mempersilakan. Tidak seperti tadi, kini Emir sudah mengenakan kaos polos yang membentuk tubuh tegapnya. Bhumi membuyarkan lamunan Sadewa.
“Man, ayo masuk!”
Emir sudah menghilang dari pandangan mereka. Saat langkah kaki hendak meluncur, suara gemuruh petir terdengar. Awan semakin gelap. Kota hujan itu mulai menunjukkan jati dirinya.
“Lo duluan aja. Gue ke mobil sebentar,” kilah Sadewa.
Sebagai mentor, ia tak ingin terjadi sesuatu pada anak didiknya.
“Oh, oke.”
Setelah Bhumi lenyap dibalik pintu. Sadewa gegas ke mobil, mengambil payung dan mencari keberadaan Rinjani. Rintik hujan yang semula kecil, kini berubah seperti tentara air yang membasahi bumi.
“Kamu kemana, Rinjani …,” gumam Sadewa yang mulai khawatir.
Langkah kakinya menapaki jalan bebatuan yang sedikit menurun. Pandangannya sedikit sulit, karena derasnya air yang jatuh serta kabut yang mengaburkan.
Di tempat lain, Rinjani berteduh di bawah pohon. Kendati demikian, daun yang rimbun tak bisa menahan air yang menyerbu dari atas.
Tetesan rintik hujan, membasahi tubuhnya. Sesekali mengenai wajah yang langsung menyamarkan air mata.
“Sungguh menyedihkan sekali kamu, Rinjani.”
Rasa sesak yang menyumbat saluran nafas tak mampu tertahan. Sesekali Rinjani memukul dadanya. Namun, semakin ia pukul rasa sesak itu kian menyerbu.
Karena tak sanggup lagi—Rinjani pun mengerang. Suara tangisnya pecah namun tertelan suara air hujan.
“Kamu tega, Emir!”
Isak tangis tak tertahankan. Rinjani pun berjongkok, meringkuk memeluk kakinya. Kepala ia tenggelamkan. Dan tubuhnya mulai berguncang. Larut dalam tangis yang menyesakkan, Rinjani mengulang memori yang membuatnya sadar mengapa Emir selingkuh di belakangnya.
“Aku nggak mau lakukan ini before married, ya, Emir.”
Kala itu mereka baru berusia tujuh belas tahun. Duduk di bangku sekolah menengah atas, Emir merasa masa pubertasnya mulai mendominasi. Ditambah lagi, hidup di negara sekuler seperti Turki. Emir yang hanya tinggal bersama sang nenek, merasa bebas tak ada batasan. Namun, lain halnya dengan Rinjani yang memang dididik dengan budaya timur. Ia akan selalu memegang teguh norma-norma yang ada. Martabat dan kehormatan keluarga baginya yang paling utama. Sejak saat itu, Rinjani sadar bahwa sikap Emir mulai berubah.
Kini, semua kecurigaannya terbukti ketika Emir tiba-tiba meminta putus dan mencium Vlora di tangga kampus. Lebih dari itu, mereka berada di satu villa dengan pakaian yang tidak wajar.
Di antara rasa sakit yang mendera serta memori yang berputar-putar. Ponsel Rinjani bergetar. Ia merogoh sling bag lalu melihat nama yang tertera di layar tersebut.
Mentor Dingin
‘Pak Sadewa?’
Di dalam villa, Dila dan Bhumi merasa canggung karena Sadewa juga Rinjani tak kunjung tiba. Mereka sudah duduk di sofa sejak sepuluh menit lalu, kali ini mereka disambut oleh orang kepercayaan keluarga Basuki. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam. Sementara Vlora dan Emir entah pergi kemana.
“Apa sudah bisa kita mulai?” tanya pria bernama Hendra tersebut.
Bhumi dan Dila saling bertatap.
“Tunggu sebentar, ya, Pak Hendra. Saya coba hubungi rekan saya dulu.”
Bhumi beranjak seraya mengarahkan ponselnya ke telinga. Disaat yang sama dering ponselnya terdengar sibuk.
Bhumi melihat hujan diluar sedang deras hingga menimbulkan rasa khawatir berlebihan.
Sementara itu, Sadewa terus menyusuri jalanan yang mulai menurun. Saat ia tengah menghubungi Rinjani, suara dering ponselnya menunjukkan ada panggilan masuk.
“Bhumi?”
Sadewa mengusaikan panggilannya pada Rinjani lalu segera menghubungi Bhumi agar tak khawatir.
“Lo dimana sih, Man?”
“Kalian meeting duluan aja. Gue lagi cari anak magang itu dulu.”
“Memang dia kemana?”
“Ya gue mana tau, ketemu aja belum!”
Sadewa mendengus kesal. Bhumi memang selalu mampu membuatnya emosi.
“Ya udah. Hati-hati, Man.”
Tak lama setelah panggilan itu usai, Sadewa samar-samar melihat seseorang berjongkok di bawah pohon. Dengan jarak pandang tertutup kabut, Sadewa yakin sekali itu gadis yang sedang ia cari. Langkah kakinya tergesa, menapaki jalan penuh kerikil.
Disaat yang sama, Rinjani melihat sepasang sepatu berhenti di hadapannya. Dan tubuh pun terasa hangat karena tetesan air tak lagi mengenai dirinya. Ia lantas mendongak.
“Are you okay?” tanya pria itu dengan tatapan teduh.
‘Pak Sadewa? Apa ini cuma halusinasi gue aja?’
Rinjani tak mengira bahwa pria dingin itu akan menemukannya disana. Beberapa kali Rinjani mengerjapkan mata—berusaha tersadar dari halusinasinya.
“Are you okay?” tanya pria itu sekali lagi.
Ketika pertanyaan tersebut terulang kembali, Rinjani mencoba berdiri dan ingin memastikan langsung. Setelah tegak berpijak, jemarinya mulai bergerak, mencoba menyentuh wajah yang tak pernah ada dalam benak.
“Pak Sa-dewa?”
“Kamu ngapain disini?” tanya Sadewa dengan nada penuh emosi.
Bukan menyesal, Rinjani justru tertawa pelan. Apa Sadewa betul-betul khawatir atau sekadar bentuk dari tanggung jawabnya sebagai mentor? Rinjani tak bisa berpikir. Ketika ia berdiri, pandangannya terasa gelap. Rasa perih yang mendera mulai merambah ke ulu hatinya. Apa karena meminum dua gelas kopi di pagi hari?
“Ayo, kita ke balik ke villa!”
Sadewa hendak berbalik. Namun, Rinjani menahan ujung kemeja pria itu dengan segera.
“Pak … to-long …,” lirih Rinjani hingga membuat Sadewa menoleh kembali.
Saat yang sama, Rinjani terkulai lemah.
“Rinjani!”
***