“Kamu sudah bisa duduk?”
Sadewa semakin dingin memandang Rinjani yang terlalu lama berbasa-basi.
“I-Iya, bisa, Pak.”
Setelah Rinjani duduk, Sadewa memberikan salah satu dokumen penawaran. Sebuah proyek skala menengah. Renovasi total villa di kota hujan. Jika ditanya mengapa Rinjani harus ikut terlibat dalam meeting kali ini. Sadewa berharap gadis itu tahu bagaimana cara kerja firm mereka. Berhubung gadis itu sangat extraordinary—Sadewa ingin mengantisipasi kemungkinan buruk terjadi.
“Jam sepuluh nanti kamu ikut ketemu klien.”
“S-saya, Pak?”
Rinjani menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, kamu. Memang ada orang selain kamu disini?” ketus Sadewa. Rinjani spontan menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah itu menggeleng pelan.
“Nanti kamu berangkat sama Dila, ya. Saya dan Bhumi akan menyusul.”
“B-Baik, Pak.”
“Ada yang mau kamu tanyakan?”
“Untuk saat ini belum ada, Pak.”
Rinjani menghela nafas diam-diam sambil membasahi bibirnya yang kering. Di sisi lain, Sadewa mengamati gerak-gerik Rinjani. Pertama kali bertemu, Sadewa merasa ada yang unik dalam diri gadis itu. Namun, ia tak mau terlibat jauh dengan seorang perempuan. Apalagi, luka di hatinya masih menganga—Chayra pun tak ada kabar. Entah dimana wanita itu saat ini?
“Ngapain diam aja? Kamu sudah boleh pergi!”
Rinjani terkejut. Padahal hari masih pagi, tapi jantungnya seolah tak diberi jeda untuk relaksasi.
“B-baik, Pak.”
Rinjani menuruni anak tangga. Langkahnya begitu tergesa hingga membuat Sadewa yang melihat dari dalam ruangan meringis. Takut-takut terpeleset dan terguling.
‘Dasar ceroboh!’
Lebih lanjut, pandangannya tak berhenti memandang. Dari dinding kaca yang sudah dalam mode satu arah, Sadewa berdiri, menatap Rinjani yang mulai duduk di sisi Dila. Ia akui, Rinjani memang sosok yang menawan, ceria, dan mudah bergaul dengan orang disekitarnya. Tapi ada satu hal yang tidak ia sukai. Kecerobohan dan sifat pemberaninya.
“Lagi ngapain lo?”
Bhumi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Sehingga membuat Sadewa jadi salah tingkah. Melihat ke arah yang sama seperti sang sahabat, Bhumi pun mulai menggoda pria itu.
“Ciee yang diem-diem mulai curi pandang.”
Bahu bertemu bahu, Bhumi menggoda sampai-sampai membuat wajah Sadewa merona.
“Apaan sih, lo!”
Sadewa gegas berbalik dan kembali ke kursinya. Disaat yang sama, Bhumi mengikuti langkah kaki sahabatnya.
“Ngapain lo kesini?” tanya pria itu langsung mengalihkan topik perbincangan.
“Belum juga duduk, udah di gas aja. Heran!”
Bhumi berdecak. Sifat dingin pria itu memang tak pernah menghangat. Bahkan saat bersama Chayra pun Sadewa selalu seperti itu.
“Sekarang gue tahu kenapa lo ditinggal sama Chayra?”
Mendengar nama Chayra disebut, Sadewa langsung mendongak. Ia menatap wajah Bhumi dengan harap-harap cemas. Tak mengeluarkan sepatah katapun, Sadewa memainkan pena di meja.
“Mungkin karena lo terlalu apatis, dingin, dan nggak punya hati. Lo itu kayak ro—”
“Psssst!”
Sadewa berdesis seolah meminta Bhumi diam. Bukan hanya telinganya yang kini memanas, tapi hati pun demikian.
“Ngomong cepetan, lo mau apa kesini? Kita jam sepuluh ada meeting.”
“Iya, gue tau! Sabar kek!”
Bhumi menggeleng heran. Dinasehati, Sadewa malah membentengi diri.
“Ini CV-nya Raina. Jam delapan empat lima dia mau datang.”
“Mesti banget hari ini? Lo ‘kan tahu hari ini kita ada meeting.”
“Iya, gue lupa info ke dia.”
“Ya udah, kalau nggak lo kasih Reza aja. Dia yang interview.”
“Nggak bisa, Raina mau ketemu lo katanya.”
Kening Sadewa mengernyit. Mendadak perasaannya jadi tidak enak. Meski memiliki paras cantik seperti ibunya, Sadewa tahu bagaimana karakter wanita berusia 25 tahun itu. Sungguh membuat merinding.
“Feeling gue jadi nggak enak. Reschedule aja.”
Bhumi langsung tergelak. Ia tahu apa yang dipikirkan pria tersebut.
“Oke.”
***
Dalam perjalanan Rinjani hanya menatap ke arah jendela. Ini adalah hari pertamanya magang dan harus langsung ikut meeting dengan klien. Suasana hening, karena ia tak tahu banyak tentang Dila. Malah mereka baru saling mengenal tadi pagi.
“Rin,” panggil Dila mengawali obrolan.
“Oh, iya, ada apa Bu?”
Rinjani menurunkan tangan kiri lalu menoleh ke arah Dila.
“Jangan panggil saya ibu-lah. Saya masih muda.”
Dila berusaha mencairkan suasana dan menolak tua.
“Eh, iya—Bu, eh.”
Rinjani jadi gugup.
“Memang usia kamu berapa?”
“Dua puluh tahun, Bu—”
“Tuh ‘kan! Saya baru dua puluh tujuh lho, Rin. Panggil Mbak aja, ya.”
Rinjani terkejut. Dengan wajah tegas dan jarang senyum, ternyata Dila sosok yang easygoing. Juga, kalimat yang terlontar terlalu lembut didengar.
“Baik, Mbak.”
Rinjani terkekeh. Kala itu, Dila menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata. Setelah memulai obrolan singkat, suasana di dalam mobil jadi tidak canggung. Baik Dila dan Rinjani saling menyahut satu sama lain. Ternyata, mereka memiliki kecocokan.
“Oh, iya, Rin. Denger-denger kamu asal Malaysia, ya?”
Rinjani mengangguk cepat.
“Iya, Mbak.”
“Kok pilih kuliah disini sih? Kenapa nggak sekaligus di luar negeri aja—maksud Mbak di Eropa atau sekitarnya mungkin?”
Rinjani menghela nafas. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya mengejar sang kekasih dan berujung pengkhianatan ‘kan?
“Karena dekat aja, Mbak. Dan ayah Rin juga pernah tinggal disini. Jadi, sekalian aja.”
“Oh begitu.”
Dila mengangguk.
“Kamu bisa nyetir?” tanya Dila berharap bergantian saat arah balik dengan gadis itu.
“Bisa, Mbak. Tapi Rin nggak punya sim internasional.”
“Ah! I see.”
Perjalanan terus berlanjut sampai kurang dari satu jam mereka berhasil sampai di lokasi. Padahal, jarak tempuh seharusnya satu jam lewat lima belas menit.
“Akhirnya sampai.”
Dila sedikit menunduk sambil memastikan bahwa nomor villa yang mereka tuju tidak salah. Kondisi villa berada sedikit menanjak dari dataran rendah dan posisi bangunan jadi tampak miring sedikit. Setelah itu, ia mengambil ponsel dan mengatakan pada Sadewa bahwa mereka sudah sampai.
To: Bos Sadewa
Pak, kami sudah sampai, ya.
Tak sampai lima menit, Sadewa membalas.
From: Bos Sadewa
Saya sepuluh menit lagi sampai. Kalian duluan aja.
Dila mengangguk lalu menarik perseneling dan meletakkannya di huruf P.
“Yuk, kita coba masuk.”
Rinjani mengangguk. Jujur saja ia gugup karena baru pertama kali terjun langsung ke lapangan. Sebelumnya, ia hanya belajar teori saja di kampus. Melalui program mbkm ini, Rinjani berharap memiliki pengalaman yang menyenangkan.
Di area fasad yang tampak seperti kubus, ada taman kecil dan lahan gersang yang tidak berfungsi. Rinjani mengangguk, seolah tahu bahwa itu akan menjadi bagian dari tugasnya.
Tiga kali bel di tekan. Akhirnya, seorang pria membukakan pintu.
“Siapa?”
“Kami dari SB-Art Global ….”
Rinjani yang tengah mengedarkan pandangan ke sekeliling villa, langsung menoleh ke belakang saat mendengar suara yang tak asing di telinga.
‘Emir?’
Titik pandang mereka bertatap di udara.
‘Rinjani?’
Emir balas menatap namun tak berani memanggil nama itu. Alhasil, ia hanya mengucapkan dalam hati saja.
“Ada tuan rumahnya atau anda putra bapak Basuki?” tanya Dila membuyarkan lamunan pria itu. Dila pun tak menyadari ada atmosfer canggung di antara mereka.
Basuki?
Rinjani hampir tak percaya. Apa proyek yang akan mereka kerjakan adalah villa milik keluarga Vlora?
Rinjani menoleh ke arah Dila. Ingin sekali menarik tangan wanita itu lalu mengajaknya pergi saja.
“Saya putri pemilik villa ini.”
Suara seorang wanita menyela dari belakang. Lalu, tepat di sisi Emir, Vlora tersenyum sinis.
Boom!
Seketika tubuh Rinjani melemah. Tubuhnya hampir limbung. Namun, ia bertahan. Kedua tangan sudah mengepal erat. Terlebih, saat melihat Emir muncul dengan tubuh atas polos bersama celana jogger panjang. Sementara gadis lain yang muncul di belakang hanya mengenakan bathrobe diatas lutut.
“Rinjani?”
***