MORNING COFFEE

1135 Kata
Rinjani mengawali hari dengan menarik nafas panjang. Usai bersih-bersih, ia mengenakan pakaian terbaik—yakni; setelan rok tiga perempat, kemeja putih berlapis vest warna nude. Kali ini, rambutnya tak dicepol. Rinjani membiarkan mahkotanya tergerai panjang dan dijepit setengah. “You’re so gorgeous, Rinjani.” Ia memandang cermin seraya membenarkan ujung kemeja. Saat melihat jarum jam masih menunjukkan pukul 7.30 waktu setempat, Rinjani meluruhkan bahu. Ternyata dirinya terlalu cepat bersiap-siap. “Sigh! Masih banyak waktu ternyata. Ke coffee shop dulu deh.” Ia lantas meraih shoulder bag dan bersiap-siap turun ke bawah. Rinjani tak perlu buru-buru. Pasalnya jarak unit ke kantor hanya sepuluh menit. Keluar dari lift, Rinjani berbelok menuju coffee shop di bawah apartemennya. “Selamat pagi, Kak.” “Pagi,” sahut Rinjani sambil melihat menu di papan atas. “Mau pesan apa?” Rinjani sejenak berpikir. Rasanya tidak sopan jika ia datang hanya membawa satu cup kopi. Tapi mau mentraktir seluruh orang disana—ia tak tahu berapa jumlahnya. Alhasil, ia memprioritaskan pesanan untuk sang mentor dan wakilnya. Serta beberapa staf di bagian project designer. “Sepuluh cup hot cappuccino dan dua americano.” Sang barista tertegun. Masih pagi—orderan yang ia terima sudah begitu banyak. “Oh, baik, Kak. Ditunggu, ya.” “Oke.” Sambil menunggu, Rinjani mengambil baki untuk mengangkut beberapa toast. Dan ia tak perlu khawatir total harga yang akan ditagihkan. Lagi pula, ini hari pertamanya magang. Ia harus memberi kesan yang baik untuk senior dan rekannya. Lima belas menit kemudian … Turun dari taksi online, Rinjani tampak kesusahan. Ia membawa paper bag serta tas dengan susah payah. “Boleh saya bantu, Kak.” Seorang satpam menawarkan bantuan begitu menghampiri pintu masuk utama. “Oh, boleh banget, Pak. Terima kasih, ya, Pak.” Satpam itu membawa salah satu jinjingan dan membukakan pintu untuk Rinjani. Setelah melewati pintu, ada lobi dengan sofa tunggu serta meja resepsionis. Selanjutnya ia harus melewati satu pintu kaca yang bisa terbuka jika menempelkan kartu identitas pegawai. “Kakak nggak ada tanda pengenal?” Satpam tersebut ingat sekali bahwa gadis itu yang kemarin datang untuk wawancara. Apa kartunya belum ada? “Sepertinya Pak Reza belum berikan.” “Tapi Kakak udah diminta masuk hari ini?” “Iya, Pak Sadewa sendiri yang meminta.” Satpam itu pun mengangguk lalu menempelkan kartu identitasnya. Setelah pintu kaca otomatis terbuka. Ternyata workstation masih sepi. Namun, saat menoleh ke kiri—sebuah pantry. Ada tiga orang yang tengah sarapan. “Ini taruh dimana, Kak?” “Oh, di meja sini saja, Pak.” Rinjani menunjuk meja bar yang ada di sisi kiri mereka. Sementara workstation dan ruang kerja lain ada di sebelah kanan. “Baik.” Satpam itu pun hendak berlalu. Namun, Rinjani menahan. “Pak, ini buat Bapak.” Satpam ber-name tag Agus itu berbalik. “Oh, nggak perlu, Kak.” “Eh, nggak apa-apa, Pak.” Agus menatap ketiga orang yang ada disana. “Terima kasih, Kak.” Setelah Agus berlalu, masih ada waktu sekitar sepuluh menit. Tapi mengapa orang-orang masih belum berdatangan? Apa jam kerja mereka fleksibel? Rinjani masih tak tahu budaya organisasi yang ada disana. Tapi, ia berusaha menjadi anak magang yang baik. “Ibu … Bapak … ini kopi boleh diambil,” ucap Rinjani dengan senyum ramah. “Oh, terima kasih,” balas salah seorang wanita ber-name tag Melisa salah satu staff administrasi. “Kamu anak baru?” tanya Dila. “Iya, Bu. Saya anak magang program MBKM.” “Oh, bagian apa?” timpal Danny. “Landscape design, Pak.” “Jadi satu bagian dong sama kita.” Danny dan Dila saling menoleh. “Bapak Ibu memang bagian apa?” “Architectural designer.” “Wah, mohon bimbingannya Pak … Bu …, saya Rinjani.” Rinjani menunduk beberapa kali dengan senyum yang tak biasa. Tak lama beberapa staf berdatangan menuju pantry untuk mencuci tangan dan saling bertegur sapa. Saat itu pula Rinjani yang mulai akrab dengan ketiga orang tadi, menawarkan kopi. Tak lupa ia sudah memisahkan untuk Sadewa dan Bhumi. Beberapa menit setelah keakraban terjalin—Sadewa dan Bhumi pun datang. Seluruh pegawai di pantry langsung menyambut mereka tanpa sungkan. Padahal bos sudah datang, tapi mereka masih asyik di pantry. “Selamat pagi, Pak Dewa, Pak Bhumi ….” “Pagi, guys …!” sahut Bhumi. Tanpa menoleh, Sadewa berjalan tegak lurus menuju tangga. Namun langkah kakinya terhenti. Mencium aroma kopi yang begitu menyengat membuat Sadewa hampir lupa bahwa kantornya merupakan perusahaan arsitektur, bukan coffee shop. Ketika ia berhenti, Bhumi yang masih menggoda Rinjani, kontan menabrak punggung sahabatnya. “Ck. Kalau mau berhenti ngomong dong!” Sadewa tak menggubris. Ia langsung berbalik dengan cepat dan menatap salah seorang gadis di antara pegawai disana. Tanpa mengucap salam, Rinjani mengangkat salah satu tangan seraya melambai. Senyumnya tampak lebar. Namun, tatapan dingin itu membuat senyumnya meredup dan tubuhnya gugup. Alhasil, ia menurunkan tangan itu perlahan. “Hmmmmm,” dehem Rinjani menutupi kegugupannya. “Rinjani … ikut saya!” Para staf saling berpandang. “B-baik, Pak.” Sadewa melanjutkan langkah kakinya tanpa menoleh lagi. Sementara Bhumi membubarkan perkumpulan yang ada di pantry. “Ayo mulai kerja, guys!” Kedua tangan Bhumi bergerak seakan mengusir anak ayam. Mereka akhirnya berhamburan menuju workstation. Rinjani yang mendapat panggilan, menarik nafas panjang. Ia mengambil dua cup americano untuk sang mentor. Entah pria itu suka atau tidak. Terpenting, ia sudah berniat baik. “Pak Bhumi, ini kopi buat Bapak.” Bhumi tersipu malu saat Rinjani menyodorkan kopi untuknya. Tanpa segan, ia menerima itu dibersamai kerlingan mata. “Kalau begitu saya ke atas dulu, ya, Pak.” “Semangat, Rinjani. Kalau Sadewa gigit, bilang saya, ya.” Rinjani tersenyum garing. Ia membawa shoulder bag dan satu kopi americano di tangan kanan. “Terima kasih, Pak.” Langkah Rinjani gegas menaiki anak tangga, melewati ruang PR dan mengetuk pintu ruang CEO. “Masuk!” titah Sadewa. Kedua tangan yang penuh dengan gelas kopi—membuat Rinjani kesulitan. Ia pun menekan kenop pintu dengan sikunya. “Masih pagi, Rinjani. Sabar. Take a deep breath….” “Duduk!” Baru menyembulkan kepala, suara perintah Sadewa sudah membuatnya sakit kepala. “Ba-baik, Pak.” Sebelum duduk, Rinjani menyodorkan kopi di tangan kanannya ke arah Sadewa. “Morning coffee buat Pak Sadewa.” Rinjani tersenyum manis berharap Sadewa melupakan sedikit kejadian malam itu dan memulai hubungan baru yang lebih baik. “Saya nggak ngopi dua kali.” Sadewa menatap Rinjani tajam. Apa itu artinya pria itu menolak pemberian Rinjani? ‘Susah payah gue bawain.’ Namun itu hanya ada dalam batin saja. Rinjani tak mungkin berani mencaci maki mentornya secara terang-terangan. “Oh begitu, ya, Pak. Kalau begitu biar saya minum saja.” Bodoh! Mengapa ia harus mengambil resiko sih? Sudah tahu punya asam lambung berlebih. Ia malah mengambil porsi kopi banyak di pagi hari. “Kamu sudah bisa duduk?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN