SB-Art Global.
Sadewa membaca surat penawaran yang Bhumi berikan beberapa waktu lalu. Skala menengah. Sebuah tender untuk renovasi total villa seorang pejabat. Meski begitu, Sadewa tak pernah memilih rezeki yang datang. Ia selalu mengambil proyek sekecil apapun itu. Ia menulis disposisi, mengambil ponsel lalu memotretnya. Setelah itu ….
To: Bhumi
Send a picture.
Siapin meeting besok dengan klien ini.
Setelah itu Sadewa beranjak, mengambil kunci mobil.
Langkah kakinya seketika terhenti saat melihat ruang di sebelahnya kosong.
“Kali ini aku mohon sama kamu. Tolong, biarkan aku pergi.”
“Tolong jangan pernah muncul di hadapanku lagi, Chayra.”
Sadewa menghela nafas. Meski kalimat terakhirnya begitu kejam, tapi dirinya tak sanggup melupakan kenangan selama kurang lebih tiga puluh tahun. Harus darimana ia melupakannya?
Tak ingin larut dalam kesedihan. Sadewa gegas menghampiri Bhumi di ruangannya, tepat di bawah tangga.
“Man.”
“Oit?”
“Kita harus cari pengganti Chayra.”
Bhumi terdiam. Ia hanya mendongak sembari menatap sorot mata Sadewa yang berdiri di seberang meja.
“Kenapa nggak sekalian perempuan itu aja lo jadiin PR?”
“Siapa?”
“Siapa lagi? Rinjani lah!”
Ssdewa berdecak sebal. Bhumi kalau bicara memang tak pernah disaring.
“Lo yang bener aja, sih! Itu bukan spesialisasi dia—yang ada bukan bikin citra perusahaan baik, malah rusak.”
“Kalau begitu, Raina aja. Anaknya Paman Kris sama Imo Naomi.”
Sadewa menatap Bhumi penuh curiga. Raina tidak sedekat itu dengannya, walau paman Kris asisten sekaligus sahabat dekat sang ayah. Tapi ia tidak begitu mengenal karakter Raina.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Ya, bukankah lebih baik orang dekat? Lo pekerjakan Chayra juga karena tunangan lo ‘kan?”
“Sembarangan lo! Dia salah satu yang berkontribusi bangun perusahaan ini, ya, asal lo ingat!”
“Iya, iya. Tapi nggak ada salahnya ‘kan rekrut Raina?”
“Silakan aja, lo yang atur.”
Sadewa malas berdebat. Ia menyerahkan sepenuhnya pada Bhumi. Tanpa basa-basi, Sadewa berlalu.
“Eh. Lo mau kemana?”
“Baliklah. Gue mau istirahat dulu.”
Bhumi berdecak. Hanya karena jarak rumahnya dekat dengan kantor—Sadewa bisa pergi seenak jidat. Alhasil, semua deadline pasti ia yang kerjakan.
Sepuluh menit kemudian ….
Sadewa memarkirkan mobil sport berwarna merah keluaran terbaru di lobi. Ia memiliki parkiran khusus di dekat pintu masuk, jadi tak perlu susah-susah ke basement.
Ketika kakinya turun, ia langsung disambut dengan senyum dan sapaan hangat.
“Siang, Mas Dewa.”
“Siang, Pak.”
Sadewa membalas sapaan dan senyuman itu. Meski ia tampak dingin, tapi tak pernah lupa ajaran ibunya tentang tata krama dan sopan santun. Melewati lobi menuju lift di sisi kiri resepsionis, Sadewa gegas menahan pintu dengan sebelah kakinya. Ketika ia hendak masuk. Suara notifikasi pesan berbunyi. Jadi, ia tak sempat melihat seorang gadis yang ada disana.
Di lain sisi, gadis itu adalah Rinjani. Tubuhnya limbung ketika Sadewa masuk. Jantung pun hampir copot. Namun, ia berusaha tak bersuara dan membuat curiga. Ia mundur ke pojok, tepat di belakang sisi kanan pria itu.
‘Kenapa dia ada disini? Apa dia mau nyamperin gue?’
Rinjani bermonolog dan semakin takut karena sejak masuk, Sadewa tidak memencet nomor lantainya. Apa pria itu sedang menguntit?
‘Tuh ‘kan? Dia mau ke lantai yang sama.’
Rinjani melihat angka yang berganti di sisi lift. Hanya tinggal tiga lantai menuju unit yang terletak di lantai sepuluh.
Ting!
Suara denting pintu lift berbunyi. Sadewa masih sibuk mengetik di ponselnya. Merasa ini kesempatan yang bagus. Rinjani lebih dulu keluar. Namun sialnya, ketika ia hampir lolos dari pintu lift, Sadewa melangkah tanpa memperhatikan orang di depannya. Alhasil, mereka bertabrakan.
“Eh, maaf, Mbak.”
Merasa dirinya yang salah karena bermain handphone. Sadewa pun minta maaf. Tetapi, Rinjani tak menjawab malah enggan bersuara. Jika itu ia lakukan, sama saja membongkar identitasnya.
Rinjani berjalan lebih cepat ketika lolos. Saat ia hendak berbelok ke sebelah kiri. Sadewa memanggil.
“Mbak, tunggu!”
‘Astaga. Apa gue ketahuan?’
Rinjani memejamkan mata dan mengepal tentengan itu. Lagi-lagi Rinjani tak menyahut. Ia berhenti namun tidak berbalik.
“Keycard Mbak jatuh. Ini ….”
Sadewa mengambil kartu unit itu lalu tak sengaja melihat nomor unit yang tertera disana.
1018
‘Tetangga gue nih. Tapi kok nggak pernah lihat, ya.’
Sadewa lalu memberikan pada sang empunya. Saat itu, Rinjani sama sekali tak menoleh. Ia mengulurkan tangan kanan ke belakang tanpa membalikkan badan. Disaat berikutnya, gadis itu melesat dengan cepat. Tak ambil pusing, Sadewa hanya mengedikkan bahu.
Setelah Rinjani masuk ke dalam unit. Ia mengintip dari peephole. Pria itu tidak berhenti di depan pintu, melainkan melewatinya.
“Astaga, dia punya unit disini?”
Jantung Rinjani jadi semakin berdebar. Sungguh kebetulan yang aneh. Selama dua tahun tinggal disana. Mereka sama sekali tidak pernah bertemu. Bahkan Rinjani tak sekalipun melihat batang hidungnya. Tapi mengapa sejak malam itu mereka jadi sering bertemu secara tidak sengaja?
“Jangan-jangan dia beli unit disini setelah tahu alamat gue?”
Rinjani hampir melupakan bahwa dirinya sedang lapar. Ia berspekulasi seolah tengah memecahkan hipotesis penelitian.
“Tapi mana mungkin?”
Rinjani mengerang frustasi sambil membuka kupluk yang menutupi kepalanya. Tak ingin ambil pusing, ia pun melangkah menuju meja makan. Perutnya mulai meronta kelaparan.
Setelah makanan tersaji dan hendak menyuapkan ke mulut, suara notifikasi berbunyi. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
From: +62 822-1122-2211
Besok jam 8 standby di kantor. Kita meeting sama klien.
Seketika, nafsu makannya menghilang. Rinjani menghempaskan sendok ke meja dengan keras.
“Ya Tuhan, tolong tambahkan stok sabarku ….”
Rinjani menghela nafas dan mulai mengeluh. Belum bekerja saja, ia sudah tertekan. Bukan karena job desk, melainkan karena mentor yang menyebalkan.
“Semangat Rinjani! Lo kuat, kok. Di sakiti sama Emir aja lo kuat. Masa cuma gara-gara mentor lo nyebelin jadi menciut?”
Rinjani berusaha mengafirmasi diri. Setelah itu, ia menyuap makanan ke mulut. Karena tak sempat membalas padahal pesan sudah dibaca, nomor asing itu memanggil.
Glek!
Rinjani hampir tersedak. Ia mengambil air putih lalu mengangkat telepon itu dengan cepat.
“Kamu baca ‘kan pesan saya?”
Tanpa basa-basi, suara diseberang sana menuntut.
“A–Itu … iya, Pak.”
“Kalau kamu tahu sopan santun, seharusnya kamu jawab!”
“I-iya, Pak. Tadi saya lagi ….”
“Besok jam delapan. Jangan telat!”
“Baik …”
Belum sempat selesaikan kalimatnya, Sadewa sudah menutup ponsel itu.
“... Pak.”
Lanjut Rinjani meski suara panggilan terputus sudah terdengar.
Sesaat hening. Rinjani melanjutkan makan siangnya. Seporsi spaghetti ternyata tak bisa menutupi rasa laparnya. Apa karena kesal dengan pria itu jadi perutnya meronta-ronta?
Sekali lagi terdengar suara hembusan nafas. Melihat bagaimana takdir mempertemukan mereka terus-menerus. Rinjani seketika terbesit ide yang menarik.
“Baiklah.”
Rinjani menyeringai. Senyumnya tersirat makna.
“Daripada kucing-kucingan kayak begini. Lebih baik gue buat Pak Sadewa jatuh cinta. Hitung-hitung mengobati luka di hati gue, ya, nggak?”
***