“Hai, semua!” Dila dan Danny yang sedang berdiskusi menoleh dengan cepat. “Lho, kok kamu disini, Rin?” tanya Dila, bingung. “Bukannya baru keluar dari rumah sakit?” timpal Danny. Rinjani tersenyum lalu melangkah, meletakkan shoulder bag-nya di meja, lalu berdiri di sisi Dila, memandang ke arah sebuah worksheet yang sedang dipresentasikan pada rekannya. “Aku bosan di kosan, Mbak.” Dila menggelengkan kepala. Tiba-tiba jantungnya berdenyut, entah kenapa. “Ya, sudah, kamu duduk dulu. Setelah presentasi di depan Pak Sadewa, Mbak kasih tahu jobdesc kamu, ya.” “Siap, Mbak.” Di tempat lain…. Sadewa menghela nafas kasar. Duduk di kursi kebesaran, ia memandang layar ponsel, membuka serta menatap memori yang hanya bisa dikenang dari sana. Entah dimana keberadaan Chayra. Sejak malam itu, san

