JODOH PASTI BERTEMU

1436 Kata

“Ngapain kamu kesini?” tanya Sadewa dengan ekspresi tidak senang. Sadewa yang tengah bersandar di kursi, langsung bangkit dengan kedua siku menopang dagu. “Itu, Pak ….” Rinjani sudah berdiri tepat di depan meja dengan jarak satu setengah meter. Ia tampak gugup dan jemarinya saling berselisih di bawah sana. “Itu apa?” “Saya ….” Bibir kaku, lidah pun kelu. Rinjani memejamkan mata sebelum akhirnya menyatakan isi hatinya. “Kenapa Bapak marah sama Mbak Dila sih? Dia ‘kan nggak salah apa-apa, Pak? Lagi pula, apa salahnya kalau saya masuk hari ini? Saya lebih tahu kondisi tubuh saya. Jadi, harusnya Bapak seneng dong punya anak magang yang gigih kayak saya!” Bukan minta maaf, Rinjani malah mengoceh tanpa rasa takut sedikit pun. Saat itu, Sadewa hanya bisa mendengus. Bibirnya hampir meng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN