Otak Rinjani merespon dengan lambat. Sampai ketika ia mengulang kembali pertanyaan itu dalam benaknya, temboloknya langsung tercekat. Alhasil, ia pun tersedak. “Uhuk!” “Eh, eh, kamu nggak apa-apa, Sayang?” Anjani yang dirundung panik langsung memberi segelas air minum. “Minum dulu, minum dulu,” pinta Anjani seraya memberikan gelas. Tubuhnya pun agak condong untuk mengusap punggung gadis disana. Wajah Rinjani terlihat merah. Entah karena tersedak atau tersipu oleh pertanyaan dan perlakukan Anjani terhadapnya. “Ma-maaf, Bi. Tadi Bibi bilang apa?” Rinjani mencoba memastikan telinganya tidak salah dengar. “Eung itu … kamu mau nggak, jadi calon menantu Bibi?” “...” Rinjani hanya menatap kosong tanpa berkata apa-apa. Ternyata ia tidak salah dengar. Barusan Anjani melamarnya. Tapi k

