Pagi ini para senior membagi junior dari tiap kelas menjadi beberapa kelompok, junior dari setiap kelas dibagi menjadi lima kelompok. Satu kelompok terdiri dari lima orang dan dibimbing oleh satu senior. Dan Ellva sudah berdo'a sedari tadi semoga saja senior yang menjadi pembimbing kelompoknya bukanlah senior kaki gajah itu.
“Kelompok pertama, kelompok Merak, dengarkan baik-baik siapa saja nama yang akan kakak sebutkan untuk kelompok ini.” Senior yang menjabat sebagai Ketua Osis mulai mengeja nama-nama dari pada siswa dan siswi dari setiap kelas.
“Bianca, Serry, Vicky, Haikal dan Amzad.” Senior yang bernama Ragan itu mulai mengeja nama-nama dari kelas Elva, kelas 10 bintang 3.
“Yang sudah aku panggil namanya, pisahkan posisi kalian!” Perintahnya. Nama-nama yang dipanggil memisahkan diri mereka masing-masing menuju tempat yang sudah ditetapkan oleh para senior yang sudah mengambil posisi didepan papan nama kelompoknya masing-masing. Dan pada pandangan ketiga aku melihat senior bernama Zevan berada di barisan yang sama dengan papan nama bertuliskan Burung Bangau, ia sedang mengemasi barang-barang bawaannya, juga dengan toa yang ia selempang kan di bahu kirinya, mungkin untuk meneriaki para junior yang melanggar aturan lagi nantinya. Sungguh tidak bisa dibayangkan, posisinya berada kini menjelaskan bahwa dia adalah salah satu pembimbing di kelas Ellva juga, dan itu sudah menjadi salah satu mimpi buruk di pagi ini, semoga saja Ellva bukan termasuk dalam kelompok Burung Bangau itu. Karena kalau tidak, maka mimpi buruk itu akan menjadi mimpi buruk yang paling panjang sepanjang hidup Ellva hari ini.
“Hi, Ellv. Kamu sudah datang?” Clyde menepuk pundak Elva dari belakang, sepertinya dia baru saja datang. Clyde memakai celana jeans dengan atasan biru muda se siku, tidak lupa ada tas yang ia gendong dibelakang punggungnya, dan dari penampilan tas itu Ellva bisa menebak bahwa bekal yang Clyde bawa bukanlah bekal sembarangan, karena tas itu sungguh penuh dan mengembang.
“Iya. Aku datang lumayan pagi hari ini. Apa isi tasmu?” Ellva sedikit memancing Clyde supaya sedikit menceritakan bekal apa saja yang ia masukkan ke dalam tasnya.
“Hemm...pokoknya cukup untuk bekal kita berdua seharian. Hehe.” Ia tertawa sambil menepuk-nepuk tas punggungnya.
“Wah, kak Zevan pembimbing kelas kita. Asyik!” Clyde tertawa riang, pandangannya tertuju ke arah dimana senior kaki gajah Zevan si pujaan charmingnya berada.
“Semoga aku dan kamu ada di kelompok itu yah.” Tunjuknya kearah yang sama dengan pandangannya ketika pertama berdiri di sampingku tadi, dan tentu saja bibir gadis itu tersenyum sumringah.
“Aku? disana? dengan dia sebagai pembimbingku? heh, jangan berharap!” Ellvs tentu saja menolak dengan apa yang Clyde utarakan, bukan atas usulannya untuk menjadi satu kelompok bersama dengannya. Tapi untuk kelanjutan perkataannya menjadi anggota dari pembimbing dengan ketua bernama Zevan itu.
“Ellv, kamu kenapa sih sebegitu tidak sukanya kepada kak Zevan. Dia itu orang yang baik, kamu harus percaya dengan hal itu.” Clyde menggerakkan kepalanya juga telunjuknya mengisyaratkan agar aku tidak boleh mengatakan hal seperti itu.
“Iya, itu kan menurut pandanganmu. Tapi, dalam penglihatanku, aku belum melihat setitik pun perlakuan baik dalam dirinya yang bisa mengubah penilaianku padanya. Kalau kamu bisa menunjukan itu padaku, maka aku akan merubah semua penilaianku padanya. Bagaimana?” Ellva tersenyum menantang, gadis itu sedikit memelototkan matanya pada Clyde.
“Ehm, oke. Aku akan menunjukannya padamu Ellva sayang. Dalam waktu 24 jam ini, aku akan merubah penilaianmu padanya. Deal?” Clyde mengulurkan tangannya pada Ellva, meminta kesepakatan atas perkataannya itu.
“Deal.” Jawab Ellva dengan mantap.
“Kelompok tiga, kelompok burung bangau. Anggota dari kelompok ini yaitu...”
“Dengarkan baik-baik Ellv, aku harap nama kita terpanggil disini.” Clyde menggoyang-goyangkan bahu Ellva semangat, sepertinya dia sudah tidak sabar mendengar namanya disebutkan oleh ketua osis bernama Ragan itu. Ellva hanya bisa berdo’a dalam hati semoga tidak ada namanya dalam list kelompok burung bangau di dalam kertas senior itu.
‘Jangan aku Ya Tuhan, jangan aku!’ Gumamnya dalam hati.
“ Dewara, Fakih, Arizal, Ellva, dan Clyde. Silahkan atur posisi kalian.”
Degh!
“Apa-apaan ini?” Baru saja Ellva memanjatkan do’anya. “Tapi, ke…kenapa aku ada dalam kelompok ini?” Ellva masih melongo tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh senior itu.
“Aku? ...” Tunjuknya pada diri sendiri.
“Yes. Apa aku bilang. Kita pasti satu kelompok kan? do’amu manjur Ellv, hehe. Ayo kita kesana, bergabung dengan yang lain.” Clyde menarik lengan Ellva dengan paksa, menyadarkannya dari kejadian tiba-tiba yang tidak bisa di terima dengan suka cita oleh Ellva. Mungkin lebih tepatnya Ellva harus menerimanya dengan suka rela.
“Semua Bangau berkumpul!” Teriakan dari toa si kaki gajah mulai berdendang.
“Iya, siap.” Empat orang teman Ellva yang lain termasuk Clyde di dalamnya menjawab dengan serempak. Sepertinya hanya gadis itu saja yang tidak bahagia dengan pembimbing kelompok ini.
“Baiklah, selamat pagi dan selamat datang semuanya. Kalian ada di kelompok Burung Bangau, dan kita sekarang berada dalam satu tim. Aku akan mengabsen nama kalian semua. Kita punya lima orang anggota, tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Dan aku sebagai pembimbing kalian. Aku Zevan Azelio, kalian bisa panggil aku dengan nama Zevan atau apapun. Bisakah aku tahu siapa nama kalian masing-masing? Silahkan mulai dari kamu!” Zevan menunjuk Fakih yang berada di posisi paling ujung dari semuanya, dan Ellva masih dengan keadaan shock dan tidak bisa menerima apapun yang terjadi pagi ini.
‘Sepertinya mimpi buruk ini benar-benar akan menjadi mimpi buruk paling panjang seumur hidupku’
***
Angin segar mulai terasa mengembuskan riuhnya, cuaca dingin pun mulai terasa menusuk-nusuk kulit luar gadis dengan panjang rambut sepunggung itu. Pepohonan tinggi membumbung, hijau dan segar. Tanah coklat yang masih khas daerah pegunungan terhimpit diantara ilalang hijau disekitar batang pohon teh yang tertata dengan sangat rapi, juga suara burung yang mencuit dibalik pepohonan yang entah disebelah mana ia bersembunyi, membuat perasaan gusar yang sedari tadi mendera Ellva hilang perlahan, hawa yang sangat jarang bisa Ellva dapatkan didaerahnya, membuat suasana hatinya mulai membaik tiba-tiba. Ellva memandang temannya Clyde yang tidur dengan sangat pulas disampingnya, sesekali ia mengeratkan jaketnya, mungkin ia juga mulai merasakan cuaca dingin pegunungan yang mulai menusuk-nusuk kulitnya. Bus ini terasa melaju dengan lambat, atau memang karena Ellva tidak merasakan ketenangan dari perjalanan ini sedari tadi. Ehmm, entahlah ...
“Clyde, bangun! kita sudah sampai.” Ellva sedikit mengguncangkan badan Clyde disampingnya. Membuat gadis itu terusik dan mulai membuka matanya perlahan. Ia terlihat mengucek-ngucek matanya yang biru.
“Kita sampai?” Tanyanya. Matanya memandang keluar jendela.
“Heem, yuk. Kita turun!” Noya mengambil tasnya dari bagasi diatas kepalanya, lalu menggendongnya. Menarik Clyde disebelahnya yang masih terlihat linglung.
Bus telah menepi disalah satu lapangan tanah yang disediakan pihak perkebunan untuk para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini, Ellva dan dan teman-teman angkatannya turun dari bus, para senior mulai mengabsen para anggotanya. Ellva menghampiri temannya yang lain, lima orang teman kelompoknya tentunya.
“Dingin sekali cuaca disini. Benar kan Ellv?” Clyde terlihat menggigil. “Apa kau juga merasakannya?” Clyde berjalan disamping Ellva dengan perlahan, jaketnya ia eratkan beberapa kali. Setengah rambutnya sudah ia tutupi dengan upluk berwarna kuning yang dikenakannya.
“Memang. Tentu saja.” Jawabku singkat.
“Tapi tidak terlihat sama sekali kalau kau merasakan hal yang sama denganku. Hemmm, ini benar-benar dingin kau tahu?” Clyde terdengar sedikit mengejek.
“Enak saja. Kau tidak melihat sarung tangan yang kupakai ini? Ini adalah bukti bahwa aku juga merasakan hal apapun yang kau rasakan. Huh!” Ellva meninju lengan Clyde kecil, respon penolakannya atas kata-kata yang diucapkan gadis berambut pirang itu.
“Oke, oke. Aku tahu. Aku hanya bercanda Ellv!” Clyde tertawa kecil, jari telunjuk dan tengahnya membentuk angka V. Ellva mendengus pelan.
“Hi. Clyde, Ellv, percepat sedikit! Kak Zevan sudah menunggu kalian.” Suara Dewara terdengar beberapa meter dari tempat keduanya terakhir berhenti, tangannya melambai kepada mereka.
“Oh, sial. Aku lupa. Ayo Clyde, mereka menunggu.” Ellva mengait lengannya sekali lagi, dan Clyde pun menjawab teriakan Dewara kepada keduanya.
“Oke, We’ll go there.”