Senior Kaki Gajah
“Hiu! jalan jongkok dua putaran, sekarang!!!” Suara salah satu senior menggema di lapangan, tangannya menunjuk tepat ke arah Ellva.
Hari ini Ellva merupakan siswi di salah satu SMA ternama di Bekasi, salah satu sekolah favorit tepatnya. Dan suatu kegiatan wajib yang tak pernah hilang dari hari pertama masuk sekolah adalah adanya kegiatan Masa Orientasi Siswa. Kegiatan yang sudah mendarah daging di kalangan para senior setiap sekolah, baik itu Negeri ataupun Swasta.
“Loh, kenapa? aku kan tidak melakukan kesalahan apapun." Ellva melakukan pembelaan.
“Aku tidak menyuruhmu untuk membantu temanmu tadi, disini dan saat ini tidak ada yang namanya pahlawan, diharamkan! Kau mengerti?”
‘Oh my God, aku lupa dengan aturan itu, kenapa mata senior itu bisa detail sekali, padahal tadi aku hanya membantu teman senasibku untuk mengikat tali sepatunya. Dahsyat, benar–benar mata burung hantu!’ Gumam Ellva dalam hati.
“HIU, SEKARANG!!!” Teriakan itu kembali menggema, dan kali ini volumenya lebih keras dari pada auman singa di film Narnia. Mengerikan!
“Oh iya, siap Kak!” Senyum Ellva mengembang dengan garing. Noya mulai berjalan jongkok dengan tangan terkepal ke belakang, selangkah dua langkah dan selanjutnya dua putaran itu terlewati menghabiskan seluruh energi yang tersedia dalam tubuh gadis itu, seluruh mata menatap Ellva dengan kasihan, dan tatapan itu mengatakan seolah-olah harus lebih berhati-hati lagi pada dirinya sendiri dalam menghadapi aturan para senior, padahal kalau Ellva pikir menolong sesama manusia itu wajib dilakukan, tapi kenapa Noya harus mendapat hukuman atas hal yang sangat terpuji seperti itu.
“Jangan ada lagi hal seperti itu terjadi, masalah tolong-menolong ada saatnya. Tapi bukan dalam hal seperti ini! mengerti kalian?” Senior yang tadi menghukum Ellva memberikan arahan dan arahan lagi kepada teman-teman sepenanggungan ku. Tongkat penunjuk yang sedari dipegangnya diayun-ayunkan ketika ia berbicara, menambah sedikit keganasan di wajahnya yang tampan namun sangat juga terlihat sangat jutek.
“Sekarang semua kembali ke kelas masing-masing. Dan ingat jangan sampai ada yang melanggar seperti si ‘Hiu’ tadi. Faham semua?” senior itu sedikit menatap Ellva dengan pandangan sinis dan menghadapkan tongkatnya kepada gadis itu, lalu kemudian kembali mengarahkan pandangannya kepada seluruh teman-temannya, Ellva merengut takut, dan kepala teman-temannya pun juga menunduk dengan perasaan yang sama. Mereka semua kemudian bubar menuju kelas masing-masing meninggalkan lapangan luas yang dipakai para senior untuk mengapel pagikan para pelajar baru, Ellva berdiri dan bergabung dengan temannya yang lain, tapi sungguh kakinya terasa kram bukan main, serasa mati rasa. Ellva tidak bisa merasakan kakinya sendiri.
“Astaga, kakiku.” Gumam Ellva sembari meringis.
Ellva berjalan pelan ke pinggir lapangan, menyandarkan tubuhnya yang mulai lemas, lalu dia urut kakinya perlahan. Ellva meringis kesal.
“Kenapa tubuhku bisa selemah ini?” Ellva sedikit mengutuk dirinya sendiri. Gadis itu menghela napas mencoba untuk merilekskan badannya yang terasa mulai lunglai. Rasa haus menderanya tiba-tiba.
“Hemm...aku haus!”
“Hei, kamu perlu bantuan?” Terdengar seseorang mencoba menawarkan bantuannya pada Ellva.
“Jangan membantuku kalau kamu tidak mau berakhir sepertiku!” Ellva mencoba menasehatinya sambil terus mengurut kakinya, tak ada minat untuk melihat siapa sebenarnya yang sedang berbicara padanya, Ellva hanya ingin mengurangi sedikit kesempatan kepada calon pelajar baru untuk dihukum para senior.
“Tidak akan, kok! Aku yakin.” Suara itu kembali terdengar, ada sedikit nada tertawa dalam suaranya, membuat Ellva memaksakan diri untuk melihat milik siapakah suara yang keukeuh ingin membantunya dan membuatnya sedikit merasa kesal.
Ellva mengangkat wajahnya dan menyipitkan mata memandangnya, kilauan cahaya matahari sedikit mengganggu penglihatannya.
“Aku bilang tidak usah, aku tidak mau kamu dihukum juga sepertiku. Aku bisa sendiri. Lagi pula tidak ada toleransi bagi siapapun untuk saling tolong-menolong, kau tadi tidak mendengar apa yang dikatakan senior didepan lapangan? dasar!” Ellva sedikit emosi saat berbicara padanya, tapi Ellva masih belum bisa melihat wajahnya dengan jelas, cahaya matahari itu masih menyamarkan wajah lelaki dihadapannya.
“Sudah masuk kelas saja sana, nanti aku juga akan kesana. Aku hanya perlu duduk sebentar.” Tambahnya lagi. Kini pandangan Ellva sudah kembali pada posisi dimana tangannya masih mengurut kakinya yang kram. Cahaya matahari itu benar-benar menyilaukan pandangannya. Dan Ellva tidak bisa tetap memaksakan matanya untuk terus melawan cahaya itu.
Laki-laki itu terdengar menghembuskan napasnya.
“Baiklah, aku akan kembali ke kelas. Ini, setidaknya minumlah sedikit!” Laki-laki itu kemudian berbalik meninggalkan Ellva menjauh, langkah kakinya terdengar seirama, semakin lama semakin menghilang. Ellva melihat sebotol air mineral yang di letakan disampingnya melambaikan aura segarnya kepada Ellva. Ellva meraihnya, lalu meminumnya, oh…rasa panas yang mengganggunya menghilang sejenak, Ellva meliriknya lagi, sepertinya pelajar yang baru saja membantunya tidak terlihat memakai perlengkapan anak baru yang sedang mengikuti masa orientasi siswa seperti dirinya, ia malah terlihat memakai kemeja putih yang dibalut dengan rompi abu-abu khas para pelajar sekolah ini. Namun, siapa dia?
***
Kelas saat ini begitu ricuh, gemuruh suara para pelajar baru bagaikan piring-piring restoran yang beradu antara garpu dan pisau steak. Ellva duduk di mejanya, barisan ketiga sebelah kiri jendela, posisi yang menurutnya nyaman untuk melihat suasana pohon di samping kanan jendela yang tinggi menjulang mencapai kelas lantai dua yang Ellva tempati sekarang. Ellva menunggu senior datang untuk memberikan materi terakhir hari ini, teman sebangkunya belum datang ke kelas, Ellva yakin ia masih menikmati makanannya di kantin saat ini, namun belum selesai perkiraannya mencapai tindak lanjut, muncul sesosok gadis cantik dengan rambut pirangnya dari balik pintu masuk dengan snack yang masih terpajang ditangan kirinya, seseorang yang dipikirkannya akhirnya datang juga. Kadang Ellva merasa bingung, apa yang membuat gadis itu begitu banyak makan, padahal tidak ada sedikitpun tanda-tanda obesitas pada bentuk tubuhnya. Justru sebaliknya, yang terlihat darinya hanyalah seorang gadis cantik dengan bentuk tubuh yang tinggi semampai. Mungkin akan ada banyak perempuan lain diluar sana yang iri padanya, karena keelokan tubuhnya namun dengan porsi makan yang luar biasa aneh untuk tubuh seukuran dirinya.
“Kau mau?” Tawar gadis berambut pirang itu begitu ia duduk disamping Ellva. Manik matanya berkilat cantik dengan bulu mata yang indah.
“Tidak, terima kasih.” Jawab Ellva pendek. Ellva tersenyum memandangnya dan gadis itu membalas senyumannya, ini adalah hari kelima Ellva berteman dengannya, dan rasa penasaran Ellva pun belum hilang sampai detik ini, dari mana datangnya selera makan yang begitu besar dari dalam dirinya. Noya benar-benar tidak percaya. Pernah sekali Ellva bertanya pada jam istirahat di kantin pada hari ketiga gadis itu mengenalnya, dan jawaban yang Ellva dapatkan hanyalah tertawanya yang renyah, serenyah ia saat mengunyah makanannya saat itu, dan ia hanya mengakhirinya dengan kata ‘ini adalah hadiah dari Tuhan untukku’, Ellva hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat itu. Mungkin memang begitulah dia, kelebihan yang dia punya.
“Ellv, besok kamu akan memberikan hadiah kepada siapa?” Suara Clyde menguapkan pemikiran Ellva tentangnya. Logat Inggris Betawinya masih terdengar kental di telinga Ellva.
“Hadiah? Hadiah apa?” Ellva tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Clyde tentang hadiah. Ellva mengangkat bahunya acuh.
“Ehm, biasanya pada hari terakhir acara Mos seperti ini, para senior mengadakan tour ke tempat tertentu, acaranya ditujukan untuk para junior yang ingin meluapkan berbagai hal yang mereka rasakan kepada senior ketika acara Mos berlangsung. Nah, kadang ada saja yang memberikan hadiah untuk para senior favorit mereka, begitu. Lalu ngomong-ngomong senior mana yang kamu favoritkan?” Tanyanya kemudian. Senyumnya sedikit jahil terlihat.
“Tidak ada.” Jawab Noya singkat.
“Aku tidak punya senior favorit, tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuatku nyaman ketika acara Mos berlangsung.”
“Bukannya Kak Zevan itu terlihat charming. Hemm...”
“What? Zevan? senior dengan hukumannya kepadaku waktu itu, yang membuat Mamaku harus mengompres kakiku karena jalan jongkok dua putarannya yang menyebabkan kakiku bengkak seperti gajah.” Ellva mengambil napas sejenak.
“No, thanks. Aku tidak berminat.” Ellva masih tidak bisa melupakan hukuman itu, hukuman senior dengan nama Zevan Azellio yang membuat kakinya bengkak tidak karuan, dan hal itu tidak bisa dia lupakan begitu saja.
“Oh my God Ellva itu sudah lama. Hari pertama kau dihukum dan ini sudah memasuki hari kelima. Lupakan saja lah, aku yakin kak Zevan juga sudah melupakan hal itu.” Clyde mengangkat-angkat alisnya. Lalu tersenyum menyeringai memamerkan barisan giginya dan satu gigi ginsulnya.
“Oh, tidak semudah itu Clyde, dia mungkin bisa saja melupakan kejadian itu karena dia tidak merasakan apa yang kakiku rasakan. Tapi, kakiku yang berubah jadi dua kali lipat lebih besar itu tidak bisa normal kembali begitu saja. Itu ada prosesnya.” Ellva menggigit bibirnya. Ada kepuasan tersendiri dalam hatinya saat mengatakannya. Dan Clyde hanya terkekeh kecil lalu terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak lama setelah itu senior terakhir yang sudah mereka tunggu itu datang juga. Dan, orang yang sedang Ellva dan Clyde bicarakan itu muncul dikelasnya sebagai pemateri terakhir. Benar-benar keburukan yang pas sekali.
“Selamat siang adik-adik!” Senior itu mulai membuka materinya.
“Selamat siang!” seisi kelas serempak menjawab.
“Hari ini Aku hanya ingin memberitahukan satu hal saja, besok silahkan kalian untuk memakai pakaian santai dan jangan lupa juga untuk memakai jaket karena kita akan pergi ke perkebunan teh.” Senior itu tersenyum riang, seolah kabar yang dibawanya akan segera melepaskan kepenatan para junior. Riuh pun mulai terdengar dari para murid di kelas tersebut, begitu juga dengan Clyde yang terasa mulai sedikit antusias.
“Silahkan semuanya untuk membawa bekal secukupnya dan jaga kesehatannya. Faham semua?”
“Siap, faham Kak!” Jawab kelas serempak.
“Baiklah, kalian boleh pulang sekarang.” Jawaban singkat dari junior dikelas itu mengisyaratkan detik-detik kepergian si senior dengan nama Zevan itu. Senior yang mengkaki gajahkan kaki Ellva.