Part 9

1088 Kata
Aku sedang Memasak. Apa? Apa yang kalian harapkan? Berharap aku berteriak histeris seperti orang Gila? Menyerang dan mencaci maki Revan? Atau tiba tiba menghilang? Ayolah.. aku Bukan Drama Queen. Yang membuat semuanya terlihat dramatis. Aku sudah dewasa, dan hal seperti itupun harus aku sikapi dengan dewasa. Memang. Aku sangat kesal. Meskipun aku hidup dinegara bebas aku tidak mau tidur pengalaman pertamaku terjadi saat aku terkebih kami berdua dalam keadaan mabuk. Dan aku masih mempunya akal sehat apalagi setelah Zoe menceritakan segalanya saat aku keluar dari kamar Revan. Entah dari jam berapa pria itu berdiri menunggu disana dan entah dimana ia sekarang aku tidak peduli. "Amoura."     Aku menata Waffle diatas piring, menggumam tidak jelas menyahuti panggilan Pria yang aku yakini sedang menatapku dengan tatapan bersalah. Aku akui baru kali ini aku bertemu pria b******k semanis Revan. "Maafkan, aku." "Aku maafkan."    Sahutku membawa dua piring Waffle, Secangkir kopi dan Jus untukku kemeja makan. Percayala jika aku tidak takut asam lambungku  aku akan memilih membuat kopi untuku dengan aroma yang sangat menggoda itu. "Semudah itu? Aku pikir-" "Bersiaplah, Aku tidak ingin membahas itu."    Sahutku menarik kursi aku sempat mendengar decakan pelan dari pria itu sebelum kembali masuk kekamarnya. Aku benar benar tidak ingin membahas hal semalam dan hal yang bersangkutan didalamnya. Karna itu sialan memalukan! ***    Aku melangkah mendekati meja Clara yang sudah tampak rapih dan siap bekerja dimejanya. Gadis itu hanya menatapku dengan datar seperti biasa. "Diman Tuan Revan?" "Aku tidak tahu."    Sahutku, Clara mengagguk sebelum kembali menatapku cukup lama. Aku pikir sikap Clara kemarin cukup wajar mengingat Revan melakukan itu dihadapannya. Bagaimanapun Revan adalah Bos kami dan Clara tidak bersikap seperti Bianca yang bekerja hanya untuk menarik perhatian Revan. "Baiklah, 40 menit lagi. Tuan Revan, aku, kau dan Bianca akan  pergi ke tempat pertemuan."     Aku hanya mengagguk sebelum memasuki ruangan Revan, Soal Revan. Okey! Aku meninggalkannya,  aku rasa itu tidak apa apa dan mungkin saja aku harus terbiasa untuk tidak bergantung pada Revan. Semoga saja Zoe tidak mendapatkan tumpahan lahar sang maha Revan. "Amoura!?"    Aku nyaris terjatuh dari kursiku saat pintu menjeblak dengan kasar dan Revan masuk dengan nafas setengah memburu. "Selamat Pagi, Tuan Revan. 15 menit lagi kita akan berangka!t"    Baru saja Revan akan membalas ucapanku Clara sudah berdiri diambang pintu dan memberi hormat padanya. "Amoura, kau sudah membaca Proposalnya?" "Ya, Clara." "Kalau begitu mari kita bersiap. Tuan Revan, Manager Hans sudah menunggu di Loby."    Revan hanya mengagguk sebelum kembali menatapku yang menyusun beberapa Dokument penting. "Letakkan itu dan bawa tabletku, semua yang kau perlukan ada disana."    Ucapnya membuatku tersadar ada tablet miliknya diatas mejaku dan sejak kapan benda itu ada disana? Persetan. Aku meraih tabletnya dan berjalan mengekorinya bersama Clara dan Bianca yang lagi lagi menatapku dengan Sinis. Maaf. Tapi aku sedang malas berurusan dengan orang sepertinya. Tidak penting.   Baiklah, aku tahu aku tahu. Diantara Bianca dan Clara hanya aku yang berpenampilan layaknya pengemis yang memakai barang bagus. Jelas saja. Itu berpengaruh dan ada artinya. Aku bagaikan Pasir didalam tumpukan gula. Belum lagi, aku hanya beberapa kali terlihat disini. Sangat wajar ketika mereka memperhatikanku apalagi dengan Revan dan satu lagi sosok pria tampan berwajah malaikat dengan senyum sok manisnya ada disekitarku. "Aku benar benar iri padamu Revan, kau dikelilingi oleh gadis gadis cantik dan sexy!"     Aku mengedikkan bahuku, mungkin yang ia maksud Bianca dan Clara karna aku sama sekali tidak cantik ataupun Sexy. Bianca tersenyum bangga dan Clara hanya tersenyum tipis menutupi wajahnya yang memerah. Dan sialnya pria itu kini menatapku dengan serius tidak ada senyum menggoda dan binar Jenaka pada tatapannya. "Revan. Aku ambil satu, boleh?" "Kau bicara apa, Hans?"     Ucap Revan tajam penuh peringatan saat pria yang ternyata bernama Hans itu masih menatapku dengan tatapan sama. "Ayolah, jangan pelit pada sahabat paling tampanmu ini!"    Dan aku beruntung pria itu sudah tidak menatapku saat Revan melangkah meninggalkan Loby menuju Limousin yang sudah menunggu kami. "Hai! Kita belum berkenalan, Clara dan Bianca aku sudah mengenal mereka. Aku Hans!"    Aku tersenyum tipis sebelum membalas tangannya yang terulur. Bahkan didalam mobil ia masih berkicau. "Amoura."    Gumamku, sebelum menyalakan tablet Revan dan membuka beberapa File yang perlu kupelajari. "Sudah berapa lama kau bekerja dengan Revan? Aku baru pulang dari Paris dan baru melihatmu." "Belum sebulan."     Aku kembali menggumam, membuat Revan menoleh dan menatapku dengan kening berkerut walau hanya sebentar. "Revan, apa dia selalu seperti ini?"    Revan berdecak, aku tahu. Dia sedabg kesal, akupun akan kesal jika mempunyai karyawan secerewet dirinya. Entah dia Sahabat, atau sepupunya yang jelas dia terlihat cukup dekat dengan Revan apalagi ketika pria itu memanggilnya tanpa embel embel apapun disana. "Diamlah Hans, Aku akan menurunkanmu disini jika mulutmu tidak berhenti bicara seperti bebek!"    Clara dan Bianca nyaris tertawa dan aku hanya Diam. Entahlah, aku hanya sedang malas untuk bercanda. "Kau benar benar kejam!" "Dan aku tidak peduli"    Benar benar tak berperasaan, membuatku makin bingung bagaimana bisa pria ini bersikap manis jika dihadapanku? Begitu terbuka tanpa memikirkan ego nya sebagai Pria akan terlukasedangkan ia begitu kejam pada orang disekitarnya. ***     Neraka. Aku. Revan. Hans. Clara. Bianca dan Orang orang yang kuyakini para petinggi gedung tinggi menjulang ini benar benar sibuk. Apalagi Setelah Rapat panjang melelahkan. Bianca sudah menyerah sejak tadi dan beberapa kali menggerutu karna kuku yang dicatnya rusak, sedangkan Clara hanya serius memeriksa tumpukan kertas diatasnya dengan kening berlipat lipat. Dan aku sangat terkejut saat Hans sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun yang tidak berguna kecuali Omelan dan kata kata pedasnya. Aku? Tanganku sudah berwarna hitam walaupun tak sehitam tangan Clara karna terus membolak balik kertas. Revan? Pria itu memainkan Tabletnya dan sekali kali mencoret Dokumet yang puluhan lebih penting dari apa yang kami kerjakan. "Hentikan itu Amoura!"    Perintah Revan tanpa menatapku, aku hanya menoleh sekilas padanya tidak peduli dan melanjutkan Pekerjaanku. "Aku bilang hentikan." "Ini belum selesai."    Gumamku, Reven menggeram dan menghempaskan tumpukan diatas mejaku hingga bertebaran dilantai sehingga menarik perhatian Clara, Bianca dan Hans. "Hantikan, Mereka bisa menyelesaikannya." "Tapi ini belum selesai."    Revab menggeram sebelum meletakkan Tabletnya menatap puluhan orang yang tampak begitu cemas dan juga sibuk dengan kertas yang jauh lebih bayak dari mereka periksa. "Dengar! Aku tidak ingin membuang waktuku disini, perusahaan ini benar benar tidak tertolong. Perusahaan ini akan diambil alih oleh perusahaan kami dan di bawah pinpinan Hans Anthonio. Simpan Dokument yang sudah diperiksa dan singkirkan yang tidak berguna!" "Baik Tuan!"    Dia benar benar gila, dan Pria gila itu kini menatapku dengan tajam. Apalagi saat menatap tanganku yang penuh tinta. "Ayo, kita harus kembali!" "Tap-" "Persetan, Amoura! Kalau aku melihatmu menyentuh kertas sialan itu akan menyeretmu pulang!"      Aku hanya mengagguk pelan dan bergegas mengenakan sepatuku yang sempat aku lepaskan tadi. "Cepat, kau bekum makan siang."    Oh.. aku bahkan lupa ini sudah waktunya untuk makan siang. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN