Part 8

1030 Kata
           Aku melangkah keluar dari ruangan Revan dan tanpa kata duduk tepat disamping Clara, Jangan tanya apa yang kulakukan dengan sekretaris Revan. Aku hanya tidak nyaman berada dalam satu ruangan dengan Revan setelah kejadian konyol itu. "Kau sedang apa Clara?" "Bekerja." "Ada yang bisa aku bantu?" Clara menoleh dan menatapku dengan kening berkerut menandakan gadis itu tidak nyaman dengan tawaranku. Baiklah aku tahu dia tidak nyaman denganku. "Tidak perlu, Bianca yang seorang Sekretaris dan seharusnya membantuku saja tak pernah benar benar bekerja." Aku menoleh kearah meja Bianca. Entah kemana pemiliknya berada yang pasti mejanya sangat bersih dari jangkauan tumpukan kertas. Aku akhirnya diam seraya memainkan tablet Revan. Dari pantulan kaca meja aku tahu Clara terus mencuri curi melihat layar yang menyala pada benda ditanganku "Ada apa?" "Kenapa kau tidak menemani Tuan Revan didalam?" "Aku tidak mau " Tepat saat aku mengatakan itu pintu ruangan Revan menjeblak terbuka, ada khekawatiran disorot matanya. "Tuan Revan? Kau baik baik saja?" Itu Clara tapi sepasang mata tajam itu menatapku dengan lekat lekat seolah memastikan jika ini benar benar aku. "Ada apa?" Tanyaku denga kening berkerut, Revan mengulurkan tangannya. AIa mungkin gila mengelus pipiku didepan Clara yang aku yakini sudah kehilangan jiwanya. "Apapun yang terjadi jangan buka pintu Penthouse ku. mengerti? Zoe akan memberitahumu sandi barunya." Revan melangkah begitu saja meninggalkanku yang benar benar bingung apa yang terjadi padanya. "Siapa kau?" Dan sekarang Clara berniat membuatku semakin pusing? Aku hanya menatapnya malas berdepat tapi ia menggenggam lenganku cukup erat. "Apa sebenarnya hubunganmu dengan Tuan Revan?" "Aku tidak tahu, aku sendiri bingung." Sahutku untuk mencegah Clara semakin cerewet aku memasuki ruangan Revan manengambil tasku. "Kau tidak berbohong Amora?" "Sudah kubilang aku tidak taju, aku sendiri bingung." Aku memang tidak tahu dengan jelas hubunganku dengan Revan dan aku Sendiri bingung dengan ucapannya tadi. Sebaiknya aku pergi menemui Bibi Lucy. **        Lonceng berbunyi saat aku memasuki Restaurat tempat aku bekerja dulu, beberapa orang tampak memperhatikanku. Sebenarnya aku enggan ketempat ini memgingat manager Stev memarahiku seharian sebelum aku mengundurkan diri lebih tepatnya dipecat. "Amoura?" Baru saja aku duduk manis, suara melengking Rebeca langsung menyambutku . "Ya, ini aku." "Apa yang kau lakukan disini?" "Aku datang sebagai tamu, bisa panggilkan Bibi Lucy?" Aku sangat bersyukur hanya mengenakan Rok pensil berwarna putih, kemeja hijau tosca dan Flatshoes bukan sepatu berhak yang akan membuatku terlihat menonjol. "Amoura?" Aku mengalihkan perhatianku dari buku menu dan mendapati Bibi Lucy yang menatapku dengan khawatir. "Yatuhan, aku benar benar merindukanmu!" "Terimakasih sudah merindukanku, Bibi." Bibi Lucy menggenggam erat tanganku, Wanita ini benar benar sangat baik padaku "Kau baik baik saja?" "Aku baik baik saja Bibi, Kau sedang sibuk?" "Tidak, aku baru saja bersiap pulang." "Kalau begitu kita makan siang, Aku yang akan membayar semuanya." Bibi Lucy menatapku dengan terkejut, tapi aku tidak tersinggung sama sekali. Wajar saja mengingat membeli makanan untukku saja dulu itu sangat sulit. "Tapi.." "Tidak apa apa, Bibi! Ayo, kita pesan. Jika Bibi tidak keberatan, bawalah beberapa makanan untuk Cucumu." "Kau berlebihan, Amoura." "Tidak, Bibi! biarkan aku membalas sedikit dari banyaknya kebaikan yang pernah Bibi berikan padaku." Dengan enggan Bibi Lucy mengagguk, ia benar benar terlihat ragu tapi itu tidak masalah padaku. Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Revan karna memberiku kartu yang bisa kugesek kapan saja. Tidak. Ini tidak seperti apa yang orang pikirkan Ini murni bayaranku sebagai asistennya. Dan aku juga akan menyisihkannya untuk membayar hutangku yang semakin menumpuk bahkan jika memang kami akan menikah aku akan tetap menggantinya. ***    Aku mengerjapkan mataku mendengar sesuatu yang aneh, mulai dari suara bel yang ditekan berulang ulang hingga suara suara aneh lainnya. Menatap botol wine milik Revan yang beberapa waktu lalu membuatku benar benar penasaran dan menyentuh pipiku yang masih terasa panas. Apa aku mabuk? "Amoura? Kau mendengarku?" Aku menghela nafasku saat mengenali suara tersebut melirik jam yang menempel didinding yang menunjukkan pukul 03 : 48 Dini hari. Apa Revan lupa membawa ponsel dan tidak menelponku? "Revan?" "Ya, Ini aku." Ternyata benar itu Revan, aku bergegas membuka pintu dan mendapati Revan bersandar dengan bahunya dijalan masuk. "Revan?" "Ya Sayang. Aku disini" "Apapun yang terjadi jangan buka pintu Penthousku. mengerti? Zoe akan memberitahumu sandi barunya" "Revan? " Aku melihat seringaian itu, Bukan seringaian jahil atau tatapan tajam Revan hanya ada tatapan senduh dan Aroma yang begitu menyekat. "Kau mabuk?" "Tidak, Amoura. Aku tidak mabuk!" Aku melangkah mundur dengan perlahan, benar benar menyesal mengabaikan ucapan Revan dikantor. "Kenapa kau menjauh? Kemarilah!" Aku berbalik dan memekik saat lengan kokoh itu sudah melilit dengan sempurna diperutku. Aku ingin berteriak dan meronta namun tubuh Revan benar benar melilit seluruh tubuhku. "Jangan lari dariku Amoura! " "Revan!" "Tidak lagi.." "Hei!" Aku berteriak kesal saat dengan mudahnya Revan membawaku kekamarnya. Ada apa dengan pria b******k berotak c***l ini? Apa dia akan meniduriku? "Revan!" Aku menjerit dengan mata mebulat saat Revan membantingku keatas tidur sebelum menarik bajukj dengan satu sobekan panjang. Revan b******k! Aku akan membunuhnya jika ia benar benar meniduriku dalam keadaan mabuk. "Tidak apa apa, Amoura. Kita hanya akan bermain sebentar." "Revan!" Aku memekik saat Revan membalas ucapanku dengan merobek Celana yang kugunakan hingga berakhir mengenaskan dilantai. Jemari jemari panjang itu mulai menjelajahi tubuhku yang semakin sialan panas! Apa yang harus aku lakukan b******k? "Revan, kau mabuk. Kau tidak boleh melakukan ini sebelum aku setuju untuk menikah dengamu!" Dan Revan tidak mendengarku, Membekap mulutku dengan bibirnya dan menciumku dengan liar. Aku mengerang tertahankan merasakan tangan hangat itu menangkup dadaku dengan jemarinya. Revan b******k! "Tidak apa apa,  kita akan bersenang senang!" "Revan!" Aku menggeliat memberontak merasakan sentuhan Revan diperutku memaksa dengan tangan kirinya membuka kedua kakiku sementara tangan kanannya menggenggam kedua tanganku dengan erat diatas kepalaku. Revan gila! Dan aku lebih sinting menikmati senua sebtuhan pria itu ditubuhku! Brengsek! Apa kau mabuk Amoura! Revan semakin menciumku dengan liar saat aku kembali mengerang dalam mulutnya, Aku menggeram merasakan tangannya mulai menyentuhku dibawah sana. "Sabar, Amoura." Aku menahan nafasku menatap kedua mata Revan yang penuh dengan kilat gairah, Aku menahan nafasku bahkan sulit berkedip saat benda keras dibawah sana berusaha memasukiku. Brengsek! Aku sialan basah! "Rev-an!" Aku kesulitan bernafas, begitu penuh saat Revan mulai menggerakkan miliknya dengan hentakan keras dan Cepat. Yatuhan, Revan gila dan aku lebih gila melakukan ini saat mabuk! "Relax, Amoura." Bibir itu kembali menciumku dengan dalam, menjamah setiap jengkal tubuhku sementara miliknya bergerak dibawah sana menghujam rahimku. "Revan." Brengsek. Brengsek. Brengsek. "Mereka datang." Aku menggit bibir bawahku merasakan gelombang yang membuat perutku menegang dan Revan yang makin menggila dibawah sana hingga aku menjerit kesetanan. "Revan." Dan semuanya berakhir setelah Revan menggila dan mengerang rendah sebelum benar benar jatuh tertidur dengan wajah tanpa dosa sialan tampannya. Brengsek! Seseorang bunuh aku sekarang juga! **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN