Part 22

1031 Kata

***       Semburat kemerahan itu mulai menyapa langit dan aku masih bersandar didada bidang Revan dengan mata yang sembab karna menangis. Menangisi hidupku yang benar benar menyebalkan. Sering kali aku bertanya tanya. Kenapa harus aku? Kenapa aku tidak saja mempunyai kehidupan yang normal? "Kau lapar?"    Suara berat itu menyapa indra pendengaranku, aku mendongak menatap mata biru seindah samudra yang menatapku dengan lembut dengan jemari sejak tadi mengelus rambut dan punggungku menenangkan. "Aku mau pulang."     Kerutan samar itu mulai terukir dikeningnya membuat priaku itu makin terlihat tampan. Aku tahu aku tahu, tidak seharusnya aku dan Revan disini. Maksudku bersantai di Villa yang jelas saja milik keluarga Revan. Sementara suasana disekitar rumah Revan masih sangat menge

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN