Well, perkenalkan perempuan inj adalah Arianna Denovan Greyson!
Tidak tidak tidak!
Kalian salah jika mengira dia sahabatku, salah besar!
Pada kenyataannya dia adalah musuh abadiku, pernah dengar kenali musuhmu sebaik kau mengenali dirimu?
Tapi anehnya, semakin kita saling mengganggu semakin kita peduli satu sama lain dan dia orang yang paling mengenaliku dengan baik.
Kalian bingung? Aku sendiri bingung sebenarnya apa yang salah dari hubungan anehini.
Masalahnya sebenarnya adalah dia Ara, manusia keras kepala dan satu satunya orang yang selalu membuatku kehabisan akal.
Akan menjadi Adik Iparku.
Ah, Kenapa harus si penggangguAra ini?
"Mou! Jawab aku!"
Dan sejak tadi gadis itu hanya menjerit dan terus berjalan mondar mandir didepanku seperti orang gila.
"Ara! Kau membuatku pusing!"
"Oke fine! Kau kalah taruhan denganku jadi kau harus menuruti keinginanku!"
Aku memutar bolamataku malas, bisakah ia membiarkanku sedikit bernafas?
"Maaf, taruhan apa yang sedang kau bicarakan?"
Mata biru yang dihiasi bulu mata lentik itu seketika meletot kesal kearahku.
"Jangan bilang kalau kau lupa! Mou b******k! Kau membuatku jadi perawan mengenaskan karna taruhan itu! Arg! Kau pasti sudah melakukan ratusan posisi bercinta dan aku! Aku! Aku! Oh My God!"
Sekarang model gila itu menjerit jerit dengan mata melotot dengan jari yang terus mengacung kearaku.
Aku mengerjap dan membuang tatapanku, gadis ini tidak boleh tahu jika kakaknya meniduriku dalam keadaan mabuk.
Maksudku kami.
Oh yah, dimana Revan saat ini?
"Ara, kau hanya perlu mengatakan apa yang kau inginkan padaku!"
Kesalku membuat gadis itu berhenti meracau dan melempar tubuh sexy nya keatas tempat tidur.
"Mou?"
Aku menghela nafasku memejamkan mata sejenak sebelum menoleh kearah Ara yang menatapku dengan serius.
Bersiaplah Amoura sebentar lagi Ara akan menghancurkan segala pertahananmu. Aku benar benar benci saat seorang Ara mulai serius.
"Apa yang terjadi? Kenapa? Kenapa kau menghilang begitu saja sebelum Ujian? Kenapa kau dan keluargamu tiba tiba pindah? Ada apa?"
Aku menggit bibir bawahku dan kembali membuang tatapanku.
"Kenapa? Aku juga tahu, meskipun kita tidak pernah bertaruh kau tidak akan melepasnya kau dan aku sama. Memiliki mimpi dan tujuan yang sama. Sebenarnya ada apa Mou?"
Perempuan satu ini terlalu mengenalku, begitu mengenaliku dengan baik.
Jadi, aku harus apa sekarang?
Aku juga belum tahu apa hubungan orang tuaku dan orang tua Revan, juga belum tahu kenapa mereka terutama Dad Revan bisa mengenaliku secepat itu.
"Amoura!"
Aku tersentak dan mendapati tatapan yang sangat sulit kuartikan dimata indah yang mulai berembun itu.
"Kau melamun, kau berubah Mou! Katakan padaku! Apa yang terjadi? Ada apa denganmu? Ada apa dengan keluargamu? Kenapa dengan perusahaan Ayahmu? Kenapa kau menghilang? Kenapa kau meninggalkanku!?"
Gadis ini benar benar, aku benci melihatnya menangis karna itu akan membuatku juga ingin menangis. Lihat! betapa anehnya kami bukan?
"Tidak, Ara. Tidak sekarang, kau akan tahu nanti."
Luka itu begitu dalam dan meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang dari sisa sisa hidupku.
Aku menyeka air mataku dengan kasar.
Ya tuhan!
Kenapa keluarga Revan sangat tahu cara merentuhkan pertahananku?
Terakhir kali aku dan Ara dalam keadaan seperti ini saat gadis itu masuk rumah sakit karnaku.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh tahu saat ini juga?"
Aku mendelik tajam saat ia mulai menarik narik bajuku seperti anak kecil.
"Kau masih terlalu kecil!"
Ara seketika melotot garang, wajahnya cantiknya kembalu berubah menyebalkan.
"Well, kau kalah taruhan jadi kau harus menuruti permintaanku!"
Gadis itu bergegas bangkit bersidekap dengan kepala terangkat begitu angkuh dihadapanku.
Ck, sombong sekali bocah ini!
"Ayo bersiap Amoura, kita akan belanja!"
"Hei! Aku sedang hamil!"
"Aku tidak peduli!"
Jadi, aku Amoura akan terjebak bersama perempuan gila bernama Ara?
Well, bersiaplah Amoura!
**
Aku memutar bola mataku malas melihat Ara menurunkan kacamata gelapnya dengan elegan, tidak peduli ratusan pasang mata yang menatapnya dengan tatapan kagum dan penuh minat kelaparan.
Oke.
Kami memang pergi berbelanja.
Bukan untuk Ara.
Tapi untukku!
Lihat! Aku bahkan tidak tahu dia mempunyai pengawal yang saat ini menenteng puluhan kantung belanja.
Dan yang kulakukan hanya duduk manis dan membiarkan bibir sexy Ara memerintah untuk segera dilayani, meminta ini itu.
Bukankah seharusnya aku menjalankan hukuman karna taruhan gila itu?
Entahlah.
Siapa yang tahu isi kepala cantik seorang Ara?
"Ara, kita sudah membeli sepatu berhak tadi. Lagi pula aku sedang hamil!"
Ara hanya mendelik kearahku dan mengeluarkan kartu yang akan siap digesek kapanpun olehnya.
"Diam! Awas saja kalau kau mengatakan ini pada Revan!"
Revan?
Aku bahkan tidak mau mengingat saat pria itudan Ara beradu mulut sebelum menyerah dengan senyum penuh kemenangan Ara, tentu saja syaratnya aku tidak boleh kelelahan dan membeli sepatu berhak atau tuan Revan yang terhormat itu akan menyita segala fasilitas Ara.
Benar benar.
"Kau mau makan apa? Kau harus makan yang banyak agar keponakanku tumbuh cepat dan sehat!"
Dan Ara terus meracau selama kami berjalan memasuki sebuah Restoran mewah.
"Aku ke toilet sebentar."
Aku bergegas bangkit meninggalakan Ara yang menceramahi pelayan dan meminta ini itu seperti biasa. Dia memang cerewet, aku tidak tahu bagaimana tersiksanya agensi yang memiliki model seperti dia.
Aku memutar keran air diwastafel setelah membasuh wajahku, mengeringkan tanganku dan bergegas keluar sebelum merasakan tangan lebar yang membekap mulutku.
"Hmp!!"
Aku memberontak! Berusaha melepas tangan kokoh yang membekap mulutku hingga aku kesulitan bernafas.
Yatuhan, apa akan terulang lagi?
Lagi?
Kenapa?
"Tenang, Amoura. Ini aku."
Bisikan pelan itu bagaikan melodi kematian yang seketika membuat seluruh tubuhku membeku, aroma ini, hembusan nafas ini, aku jelas mengingatnya.
Aku menahan salivaku susah payah tidak peduli saat air mata itu kembali saling berdesakan dan berjatuhan tanpa perungatan.
Bagaimana mungkin.
Bagaimana mungkin aku lupa?
"Don't miss me, huh?"
Jemari panjang itu terulur disepanjang leherku menyusuri kalung berbandul cincin disana.
"Kau menyimpannya dengan baik."
Aku tidak sanggup menoleh bahkan untuk sekedar bernafas, bisikan rendah yang selalu terdengar menakutkan itu membuat degup jantung semakin menggila.
"Tenang, Amoura. Aku juga masih menyimpannya dengan baik."
Leherku seolah tercekik saat tangan lebar itu memutar tubuhku perlahan, memaksaku menatap sepasang mata abu abu yang selalu menghantui mimpi buruk disepanjang malam dinginku.
"A-apa yang kau lakukan?"
Seringaian itu, seringaian yang membuat seluruh tubuhku seolah menjadi lumpuh seketika.
"Aku datang menjemputmu, menoleh sebentar dan berjalan jalan kemasa lalu. Bagaimana? Kau tertarik, Amoura?"
Aku mengulum bibirku yang bergetar merasakan mataku yang kembali berembun dan terus menjatuhkan butiran panas menyebalkan disana.
Kenapa?
Disaat seperti ini.
Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?
Apa ini saatnya?
Dia..
"Victor.."
Mungkin..
..mantan
Atau..
.. bahkan masih tunanganku.
**