**
"MOU!!"
Aku meringis mendengar jeritan Ara yang melempar koper dan tasnya sebelum setengah berlari ingin menerjangku dengan kuat sebelum Revan menangkap lengannya dan menahan apapun yang ingin dilakukan gadis bar bar itu.
Dia tidak berubah sama sekali.
"Ara! Kau pikir apa yang sedang ingin kau lakukan?"
Dan Ara hanya melambaikan tangan dengan senyum konyolnya.
"Oh, hai!"
"Kau tahu, Amoura sedang hamil!"
"APA!?"
Kenapa orang orang sangat suka berteriak? Aku tahu mansuion ini sangat luas dan megah melebihi istana, tapi ayolah ini bukan hutan dan telingaku masih berkerja dengan baik.
"Mou? Yatuhan! Kau! Jangan bilang ka--"
"Iya, Ara! Amoura hamil anakku dan kami akan menikah."
"Siapa yang akan menikah!?"
Jeritan kesal ibu Revan membuatku makin ketakutan.
"Cucuku tidak akan menikah dengan perempuan tidak jelas seperti dia!"
"Mom!"
"Nenek!"
Ara dan Revan menyela dengan wajah yang jelas berbeda. Revan dengan wajah memelasnya dan Ara dengan wajah terkejutnya. Oh, bersyukurlah mereka adalah keluarganya jika bukan sudah kupastikan jiwa pria yang terperangkap di tubuh sexy nya akan memancing keributan besar.
"Nenek, Amoura Bukan perempuan tidak jelas . Mou--"
"Ara Please.."
Selaku dengan tatapan memohon, tatapan yang jelas saja tidak pernah Ara lihat hingga ia langsung menurut begitu saja padaku. Gadis itu mendengus sebelum duduk dalam diam tepat disampingku.
"Dad, bisa lepaskan tangan Amoura?"
Pinta Revan nyaris menggeram, aku tahu pria itu berusaha menahan dirinya sejak tadi.
Dan kenapa Ayah Revan tidak mau juga melepas tanganku yang makin gemetar?
Persetan Amoura.
Yang lebih penting adalah apa yang akan diucapkan pria paruh baya yang menatapmu dengan penuh kerinduan.
Sungguh!
Aku tidak mengerti, tapi satu hal yang ku tahu dengan pasti.
Ayah Revan tahu siapa aku.
"Dimana Alan, Amoura? Dia masih bersamamu?"
"Ayah tahu siapa Alan?"
Aku benar benar tidak tega melihat wajah Revan yang mulai frustasi, mungkin bingung dengan keadaan saat ini.
"Will! Siapa dia?"
"Jawab istrimu Will, jangan menyembunyikan apapun dari kami!"
"Mom! Nenek! Amoura sedang hamil!"
"Mom tidak peduli, siapa yang tahu itu anak Revan atau bukan?"
"Mom!"
Peringat Revan dengan rahang yang mulai mengeras, Aku menunduk bergegas menarik yang aku saat Ayah Revan melonggarkan tautan tangan kami. Aku benar benar merasa..
..seperti penghancur hubungan rumah tangga orang?
"Kau mau melawan ibu Revan?"
"Cukup!"
Ayah Revan bergegas bangkit, menatap Ibu Revan yang mulai berkaca kaca. Menatap Revan, Nenek, Ara dan terakhir menatapku cukup lama.
"Dia putri Almira."
Ibu Revan tersentak menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan, Air matanya mulai berjatuhan saat ia mengerjap pelan dengan wajah bercampur aduk.
Masih dengan menatapku.
Sebenarnya siapa mereka?
Almira.
Oh s**t!
"Mulai hari ini Amoura akan tinggal bersama kita!"
"Tidak! Sebelum Dad menjelaskan semuanya pada Revan!"
"Revan.."
"Kakak, aku setuju dengan Dad! Siapa yang akan menjaga Mou saat kau bekerja!"
"Apa apaan ini, tidak boleh!"
Sela Nenek Revan dengan tatapan yang sama saat kami pertama bertemu di restoran malam itu.
"Nenek Please.."
Ucap Ara memohon, tatapanku kembali beralih pada Ibu Revan yang masih menatapku dengan lamat lamat.
"Tidak ada yang boleh membantah, Amoura tinggal disini sampai kalian menikah!"
"Mom setuju."
Ucap Ibu Revan tanpa mengalihkan perhatiannya dariku membuat Nenek , Revan dan Ara tersentak.
Masih menatapku sebelum berbalik dengan Ayah Revan yang merangkulnya beranjak dari ruangan, Nenek Revan juga tidak bertahan lama disini, berdecih sinis dan ikut meninggalkan kami.
Aku, Revan dan Ara.
"Well, kau berhutang banyak hal padaku Mou!"
"Kau bereskan barang barangmu, aku akan bicara dengan Amoura."
Ara mendengus kesal melihat Revan menarik lenganku sebelum menelusupkan jemari jemari panjangnya diantara jemariku. Getaran hangat itu menjalar bagaikan obat penenang yang seketika membuatku lebih baik.
Err.. Aku bahkan bisa merasakan berapa tegangnya syaraf syarafku berhadapan dengan keluarga Revan dan Ara tentunya.
"Revan.."
Revan tak menyahut ataupun menoleh, genggamannya menguat seiring dengan rahangnya yang mengeras saat ia membuka pintu yang menunjukkan sebuah kamar yang didominasi warna abu abu dan aroma maskulin yang cukup lembut dan menenangkan di indra penciumanku.
"Ini kamarmu?"
Revan lagi lagi tak menyahut ataupun mengangguk, ia hanya menutup pintu masih dengan tatapan dinginnya.
Pertanyaan bodoh, Amoura.
"Revan A--"
Aku memekik saat Revan mendorongku ke dinding, kedua lengannya menelusup diantara lenganku sebelum menjatuhkan bibir panasnya diatas bibirku. Melumatnya denga liar bahkan sedikit kasar hingga menjadi lumatan lumatan yang makin menuntut. Geraman rendah itu terdengar hingga lumatan lumatan panas Revan perlahan menjadi lumatan lumatan lembut nan menggoda.
Pria ini benar benar panas hingga aku silit mencari nafasku sendiri.
Bernafas, Amoura!
Bernafas!
"Revan."
meraup udara dengan rakus saat saat Revan melepaskan tautan bibirnya, nata Sebiru lautan itu menatapku dalam dalam. Jemarinya kembali bergerak mengelus pipiku dengan lembut, dengan hati hati menyelipkan beberapa helai rambutku yang mencuat ke balik telingaku.
"Amoura."
Bisiknya tepat didepan bibirku yang kembali terbakar saat lagi lagi bibir panas itu menjatuhkan kecupan kecupan lembut di bibir bawah dan atasku bergantian.
Yaampun..
Apa apaan ini!
Revan tak mengucapkan apapun, menatapku lekat lekat sebelum mengecup bibirku sekali lagi. Mata yang diam diam kugami sejak pertama kali kita bertemu tampak senduh menatapku sebelum terpejam perlahan.
Kepalanya bergerak bersandar dibahuku seiring dengan mengetatnya pelukan lengan lengan liatnya ditubuhku.
"Revan.."
Bisikku mengulurkan tanganku menyentuh rambut Revan, menelusupkan jemariku diantara helaian rambut legamnya yang seketikabmengingatkanku pada saat di pembatas waktu itu. Saat Revan dengan gilanya melamarku.
Saat Revan..
Bahu kokoh itu bergetar, membuatku tanpa sadar memeluk leher Revan makin kuat teringat dengan ucapan Zoe waktu itu.
Revan tidak setanggung yang orang orang pikir.
Revan sama seperti manusia lainnya.
Revan b******k menyebalkan yang kini menangis dibahuku.
Dia menangis.
Revan menangis.
Dan itu karnaku.
"Maafkan aku.."
Bisikku penuh rasa bersalah hingga Revan makin mengeratkan pelukanya, mungkin rasa bersalah, bingung dan kekesalannya beradu menjadi satu.
Revan tidak cengeng, dia memang pria dan menangis itu manusiawi dimataku.
Tapi..
Masih pantaskah aku bersama pria dengan masa lalu entah apa yang membuatnya seperti ini?
Aku jalas tahu masa lalu bisa membuat siapapun berubah.
Hanya dua pilihan.
Kau yang menjadi lemah.
Tidak.
Semua orang memiliki sisi lemah.
Tapi tak semua orang mampu membangun sisi yang akan membuat mereka semakin kuat.
Atau malah beku sepertiku, seperti Alan hingga kami nyaris mati rasa karna masa lalu kami.
Terbuang.
Tidak diinginkan.
Terus berlari dan bersembunyi.
"Amoura, aku sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu dan kita akan segera menikah. Persetan dengan masa lalu, aku hanya ingin kau tetap disiku. Mengerti?"
"Terima kasih, Revan. Terimakasih dan maafkan aku untuk semuanya"
Pelukan Revan makin mengerat mengirimkan kehangatan yang lagi lagi membuat air mataku berjatuhan tanpa seisinku.
Revan?
Kenapa?
Siapa kau sebenarnya?
Kenapa kau selalu mudah membuatku menangis karna perasaan ini?
Kehangatan yang nyaris terlupakan.
Kehangatan yang membunuh malam malam dingin yang selalu menghantuiku?
Sekarang masih pantaskan aku menyimpan semuanya senduru?
Setelah sikap dan kebaikan Revan padaku?
Apa ini balasanku?
Brengsek!
"Maafkan aku, Revan."
Persetan dengan perasaan Revan dan perasaanku sendiri.
Setidaknya Revan bersamaku.
Setidaknya aku tidak sendirian.
Setidaknya..
..untuk saat ini.
**