Part 12

1030 Kata
Oh kepalaku! Aku meringkuk disofa seraya memejamkan mata, merasakan tubuhku tubuhku yang benar benar lemas. "Minum?" Aku mengangguk menerima segelas air dari Clara sementara Revan mengusap keningku yang berkeringat dan anak anak rambut diwajahku. "Lebih baik?" "Hm." Aku hanya menggumam, persetan dengan Clara dan Bianca yang melihat semua ini. "Tuan, Apa sebaiknya kita membawa Amoura ke Dokter?" "Tidak! Aku tidak mau!" Tolakku mentah mentah, membayangkan bangunan bernuansa putih dan bau obat obatan membuat perutku kembali bergejolak. "Amoura.." "Revan Please, aku hanya ingin pulang." Ucapku yang entah mengapa terdengar seperti merengek, Revan masih terdiam menatapku dengan khawatir. "Kita ke Dokter!" "Revan.." "Baiklah, Tommy yang akan datang." Aku mengagguk menolak ketika Revan berniat menggendongku lagi. Hey aku tidak berminat menjadi santapan empuk para penggemar Revan dibawah sana Okey! "Clara, bawa barang Barang Amoura!" "What?  W-wait!  Lalu bagaimana dengan kita Revan?!" Jerit Bianca, mendengar suaranya benar benar membuatku muak. Aku menghela nafasku membiarkan Revan yang mengabaikan Bianca menuntunku meskipun pria itu masih berusaha membujuk agar aku mau digendong olehnya. "Terimakasih, Clara." Gumamku dengan mata terpejam semakin meringkuk kedalam pelukan Revan diatas mobilnya "Tidak apa apa." Detik berikutnya hanya suara pintu mobil yang tertutup hingga aku merasa mobil Revan mulai bergerak. "Apa kau yakin kita tidak perlu ke Dokter?" Aku mengangguk menggumam tidak jelas mataku terasa berat merasakan elusan lembut Revan dirambut dan punggungku "Amoura?" Aku merasakan Sebuah Kecupan ringan dipuncak kepalaku, Seperti mantara yang seolah mengantarku kealam bawah sadarku. "Sleep well sweet Princess." Huh? Apa aku berhalusinasi? ** Aku mengerjapkan mataku perlahan, melenguh pelan sebelum benar benar menyadari tatapan Revan dan Tommy yang menatapku begitu dalam hingga aku takut apa yang akan keluar dari mulut kedua pria dihadapanku. "Ada apa?" "Sebaiknya Aku pulang, Amoura akan baik baik saja. Ingat pesanku Revan." Revan hanya mengagguk kaku masih menatapku dengan dalam hingga aku mengerutkan keningku bingung. "Jaga kesehatanmu, Amoura!" "Ya, terimakasih!" Sahutku menatap Tommy yang tersenyum penuh arti membuatku yakin ada sesuatu yang jelas tidak beres disini. "Ada apa Revan?" Tanyaku tepat Saat pintu kamar Revan tertutup, Pria itu meraih jemariku dan mengelusnya pelan "Revan?" "Kau boleh marah padaku Amoura." Aku menaikkan alisku tersentak merasakan usapan lembut Revan diperut datarku. Tidak. Tidak tidak. Jangan Bercanda! "Re-Revan?" "Kau hamil Amoura." Aku membeku menatap Revan yang menatapku dengan Cemas, semakin panik saat aku hanya menatapnya dengan tatapan tak terbaca "Amoura? Please, say something!" Suara berat Revan seketikmembuatku mengerjap, menunduk dan menyentuh tangan Revan diperutku. Aku tidak sendirian. Aku tidak Sendirian. Aku tidak Sendirian Tidak Lagi. Ada ikatan dalam diriku yang akan menahan Revan disisiku. Setidaknya saat pria itu memang tidak untukku, aku tidak lagi sendirian. Ya tuhan, aku hamil! "Amoura?" Aku menggit bibir bawahku, tidak lagi menahan diri memeluk Revan dengan erat. Kehangatan ini. Kehangatan yang selaku Revan tawarkan padaku. Kehangatan yang bahkan memikirkan akan kehilanganya saja membuatku ingin menggila. "Amoura?" "Kau baik baik saja dengan ini?" Aku menatap Revan yang mengulurkan jemarinya menyentuh sisi wajahku lembut dengan tatapan tajamnya yang begitu dalam menghunusku "Aku yang harusnya bertanya, Amoura. Aku pikir kau akan membenciku." Bisik Revan dengan suara serak,  tak lagi menahan desakan butiran panas itu berjatuhan di pipiku. "K-kau tidak akan meninggalkan ku, bukan?" "Bagaimana mungkin, Amoura." "Tapi-"    "Kita akan segera menikah."      Sela Revan kembali meraih tubuhku dalam pelukannya, memelukku erat dengan jemari pria itu yang baru kusadari bergetar dengan hebat. Apa ini tidak apa apa? Apa aku sudah melangkah terlalu jauh? **    Aku menggenggam Tangan Revan saat kami memasuki sebuah Mansion megah dengan halam luas yang dipenuhi bunga dan rumit yang dipotong dengan rapih,  menatap ragu pintu raksasa berukiran rumit yang seolah sedang mengintimidasiku. "Tenanglah, malam ini Adikku juga akan kembali dari Paris." Aku mengagguk meskipun usapan lembut telapak tangan Revan dipunggungku tidak menghilangkan rasa gugupku. Setidaknya. Setidaknya ada Revan disisiku. Untuk Saat ini. Yah, setidaknya aku tidak sendirian. Tidak apa apa, Amoura. "Ayo, Daddy sudah menunggu." Aku mengerutkan keningku saat Revan membawaku melewati ruang tamu menuju ruang santai. Senyum hangat itu seketika menyambutku yang seketika membuatku sedikit lebih tenang. "Hai, Amoura. Kemarilah, duduk disampingku. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu." Revan mengagguk saat aku menatapnya sekilas membiarkanku duduk disamping Ayahnya. "Dimana Mom dan Nenek?" "Nenekmu ada dikamarnya dan Mom  sedang menyeduh teh." Revan mengangguk menepuk kepalaku sebentar sebelum berpamitan mencari ibunya. "Maaf Tuan-" "Daddy, Amoura." Aku meringis pelan semakin gugup saat tatapan hangat itu berubah menjadi tatapan lega penuh kerinduan. Oh, tidak. Apa apaan ini? "Siapa nama lengkapmu Amoura?" "Hanya Amoura." Tangan hangat itu meraih kedua tanganku dan meremasnya pelan menatapku semakin dalam dan menuntut. "Katakan yang sebenarnya, Amoura." Aku menunduk makin resah saat mendengar ketukan sepatu yang semakin nyaring mendekati kami. Aku dan Tuan Greyson yang menggenggam tanganku begitu erat. "Ada apa ini?" Aku mengangkat kepalaku ragu menatap Revan yang menatapku dan Dadnya bergantian lalu menatap wanita paruh baya dirangkulan Revan yang menahan nafasnya. "I-Ini.." Aku berusaha menarik tanganku namun genggaman Ayah Revan makin mengerat hingga aku kesulutan melepaskan diriku, menahan diri tidak ingin bersikap kasar pada pria paruh baya dihadapanku. "Kau belum menjawab pertanyaan Dad, Amoura." "Daddy?" "Apa ini Will? Apa Maksudmu?" Aku makin resah menatap Revan penuh dengan tatapan memohon agar meminta Dadnya melepaskan tanganku. "Daddy, lepaskan tangan Amoura!" Meskipun pelan suara Revan terdengar begitu dalam dan penuh penekanan namun sayangnya itu  tidak berpengaruh sama sekali. "Amoura belum menjawab pertanyaan Daddy." "Pertanyaan apa!?" Revan menggeram menahan Ibunya agar tidak melompat kearahku dan menyerangku. "Mom.." "Lihat Revan! Lihat apa yang dilakukan calon istrimu!" Aku menatap Ayah Revan penuh permohonan namun hanya tatapan terluka  disana yang membuatku makin ketakut. "Maaf tapi namaku hanya Amoura." Dad menggeleng pelan, kembali meremas pelan kedua tanganku yang mulai mengeluarkan keringat dingin. "Tidak, Daddy ingin mendengarnya sendiri." Aku menggit bibir bawahku makin tertekan melihat Ibu Revan yang melotot tajam kearahku siap mengulitiku hidup hidup saat ini juga. "Will! Apa yang kau lakukan!? " Tubuhku makin menengang mendengar suara Nenek Revan dari arah tangga. Oh Bumi, telan aku saat ini juga! "Siapa namamu Amoura?" "Hanya Amoura!" "Deddy tidak akan melepasmu sebelum mendengar yang sebenarnya dari mulutmu sendiri." "Will!" "Daddy.." Aku menoleh kearah Revan yang menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti. Yatuhan. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melanggar sumpahku! "I'm home!" Lengkingan Suara seorang gadis membuat kami serempak menoleh menanti dengan degup jantungku yang makin menggila saat mendengar suara ketukan sepatu berhakdan roda koper yang diseret. "Ara pulang!" Sosok itu berdiri disana dengan senyum manisnya yang perlahan memudar digantikan tatapan terkejut hingga mata yang dihiasi bulu mata lentik itu membulat dengan sempurna bersamaan dengan bibir merahnya yang terbuka lebar saat menemukanku. "Kau!" Oh tidak. Sekian banyak manusia . Dari sekian banyak wanita dimuka Bumi ini Kenapa harus gadis itu yang menjadi adik Revan? "Amoura Valenzia Ann!" Oh, Tuhan. Bukan aku yang menyebutnya. Aku tidak melanggar sumpahku bukan? **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN