Episode 11 Back

2318 Kata
Sudah berjam-jam lebih dihabiskan Faza dan Divia untuk menjelajahi dunia fantasi Ancol. Mulai dari menikmati es krim Hawai, mencoba setiap stand makanan, menjajal wahana yang tersedia, dan menikmati waterboom di sepanjang pantai. Lalu kegilaan mereka mencapai puncak saat Divia menyeret Faza menuju wahana Thunder Storm yang membutuhkan keberaniaan ekstra besar. Awalnya Faza menolak mentah-mentah usul Divia yang cenderung gila. Ya, memang gila. Bayangkan saja, mereka sudah menjelajahi hampir seluruh wahana. Bahkan tadi mereka sudah menaiki roller coaster, dan kereta gantung. Tapi, dengan gampangnya Divia menyeret Faza untuk kembali menjajal wahana-wahana mengerikan itu. Oh, Faza bisa mati jantungan jika terus menuruti keinginan konyol Divia. "Div, udahan dong. Gue udah mules. Sumpah, samber gledek, deh." Dan kali ini serius, Faza berharap benar-benar muncul gledek di langit mendung sana. Sayangnya harapannya itu tak terwujud. Sekarang dia harus kembali terjebak dan memenuhi semua permintaan aneh Divia. Jika dia menolak sedikit saja, Divia akan langsung melempar kalimat pedas yang intinya, Fa, permintaan maaf nggak diterima. Oke, Faza mengalah. Dia kembali menurut. Seperti robot mengikuti aksi gila Divia. Hanya butuh tak kurang setengah jam sampai akhirnya wahana itu usai dan dia bisa merasakan perutnya benar-benar bergolak. Serius, ini lebih parah daripada ombak air laut. Rasanya lebih—lebih. Lalu bumm. Semua isi perutnya tumpah tepat di samping tong sampah di bawah tiang wahana sialan itu. Divia terkekeh di samping Faza dengan rupa bahagia. Sebelah tangannya menepuk-nepuk bahu Faza dengan lembut. Berusaha mengurangi rasa mual yang menyerang sahabatnya itu. Sayangnya itu tak membantu karena setelahnya Faza kembali memuntahkan cairan-cairan putih pekat di bawah tiang sana. "Fa, kita pulang sekarang? Udah malem." Divia memasang seulas senyum. Faza hanya tersenyum tipis sambil terus berpegangan pada tong sampah. Lagi-lagi tawa Divia meledak. Faza selalu saja jorok. "Div, perut gue rasanya—kayak lagi ngidam. Mules." "Makanya lo nggak usah gaya deh, Fa." "What? Gue? Gaya apaan emang? Eh, lo tuh ya nggak tahu terima kasih. Gue udah nurutin semua permintaan lo, Divi. Sampe perut gue mules-mules nggak jelas gini. Masih kurang permintaan maaf gue?" Divia masih tertawa. Kepalanya menggeleng pelan. Senyum tipisnya muncul. Mau tak mau Faza ikut tersenyum. Ah, ini yang dia tunggu dari Divia. Senyumannya yang itu. Yang selalu ditunjukkannya dulu ketika mereka bermain bersama di kotak pasir. "Gue seneng lo senyum, Div." "Ihh... gombal. Pasti lo diajarin Jaja jadi kayak gini." "Hehe..." "Omong-omong, gue serius, Fa. Buruan balik, yuk." Faza mengangguk sambil merentangkan tangan seperti bayi. "Bantu gue jalan dulu baru pulang." "Idiiih... Fa jelek." Dalam hitungan menit keduanya sudah berada di atas motor. Faza masih dengan muka tertekuknya sehabis muntah-muntah. Sementara Divia memasang raut ceria yang tak pernah habis dari wajahnya. Lalu mereka mengarungi padatnya jalanan di malam hari. Menembus keramaian di sana sini. Dan akhirnya hanya butuh setengah jam sampai motor kebanggaan Eza melesat memasuki area parkir Champ De Mars. Faza dan Divia beranjak turun. Lonceng mungil Champ De Mars berdentang ketika keduanya masuk ke dalam. Faza terkejut melihat orang-orang sudah berkumpul di sana. Ada orang tuanya, Om Rio, dan Tante Riska. Di meja belakang Azel dan Finza tengah berbisik-bisik cemas. Baru ketika melihat Faza, dua kerumunan itu langsung membubarkan diri. "Fa, lo dari mana aja?!" Finza berteriak heboh. "Lo nggak bawa jam? Ini udah jam 10, Fa." "Lo main nggak kenal waktu banget, sih." Azel mendesis jengkel. Faza melotot sejenak. What? Jam 10 malam? Hell, yang benar saja. Dan ketika Faza melirik jam dinding, benar saja. Angka sudah menunjuk pukul sepuluh. Padahal dia juga sampai di Ancol jam sepuluh pagi tadi. Astaga. Mereka benar-benar lupa waktu. "Kalian berdua! Mana Aren?" Rio bertanya panik. Divia melotot sejenak. "Aren? Loh tadi itu, Om—" Divi menyenggol lengan Faza meminta pertolongan. Sementara yang disenggol malah kebingungan dan menggaruk-garuk rambut. "Ehem..." Rio berdeham. "Sekarang di mana Aren? Ini sudah lewat jam sembilan," omelnya sambil menunjuk-nunjuk jam di pergelangan tangan. Faza menepuk jidat frustasi. Bayangan wajah Eza yang membuat keusilan langsung terlintas di benaknya. Gila bocah itu. Ke mana saja dia membawa kabur nenek sihir? Oh, my! Gawat sekali! Apa jangan-jangan si tengil itu keasyikan mengerjai Mauren sampai lupa waktu? Diiih... mau cari mati saja dia sama Mario Fabrian! "Fa, jawab dong! Jangan diem aja!" Divia berseru jengkel. "A—Aren, tadi sama Jaja, Om. Terus..." Faza mengecilkan volume suaranya. "Mereka pergi naik mobilnya Tante Riska nggak tahu deh ke mana." Riska menutup mulut rapat-rapat. "Terus mereka kemana semalem ini kok nggak balik-balik?" Di tempatnya Rio menggeram jengkel. Gerahamnya bergemeletuk hebat. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Lagi-lagi bocah tengil itu. Argh, sejak dulu selalu saja mencari gara-gara dengan anaknya. Hal ini sudah biasa terjadi. Rio sampai kebal dengan semua kelakuan nakalnya. Kalau saja Eza bukan anak sahabatnya, mungkin Rio sudah mengepaknya ke Sungai Nil agar tak ada lagi yang bisa mengganggu hidup anaknya. Setiap hari ada saja ulah yang dibuat bocah tengil itu. "Mi, telpon Erro!" Rio memerintah tegas. Izzy yang tadi diam mendengarkan percekcokan yang sedang terjadi, kini angkat bicara. Perlahan dia mendekat pada Rio dan menenangkannya. Di belakangnya Zaza mengikuti. Ikut mencarikan solusi yang baik. "Ri, ada baiknya kita tunggu dulu sampe satu jam. Mungkin mereka baru di jalan." Izzy menepuk bahu Rio. "Tapi Bang, ini lama-lama nggak bisa dibiarkan. Bang Izzy tahulah kelakuan anaknya Erro itu." "Fa, memangnya dimana Jaja sekarang? Kenapa dia belum pulang?!" Izzy menatap Faza tajam. Rupanya garang dan penuh interogasi. Faza gelagapan menjawab. "Tadi itu, Pa... Kita pergi ke mall terus... terus..." "Terus apa?!" "Ehmmm itu... Fa nggak bisa jelasin sekarang." "Fa, jangan kabur kamu! Fa!" Izzy berteriak-teriak menahan amarah. Faza tak ingin mendengarnya lagi. Secepat kilat ditariknya Divia menjauh menuju tempat yang aman. Kini keduanya mengendap-endap menuju taman belakang. Divia tak henti berceloteh betapa tidak bertanggungjawabnya Faza dalam membuat ide-ide gila. "Semua gara-gara lo, Fa!" Divia menuding Faza dan menyalahinya dengan suara ketus. "Lo selalu aja cari gara-gara. Kalau aja lo tadi nggak nyuruh Jaja bawa mobil Aren, mungkin Om Rio nggak bakal ngamuk-ngamuk kayak sekarang." Faza mengerang frustasi. Jemari telunjuknya bergerak menginstruksi agar Divia diam. Tapi bukannya diam, Divia malah semakin mengomel. Dia sudah mengenal Faza nyaris seumur hidupnya. Dan bersama Eza, Faza selalu menjadi sumber masalah bagi sahabat-sahabatnya. Contohnya hari ini. Tentunya hari-hari menyebalkan lain yang juga melibatkan mereka semua dalam masalah. Pada akhirnya mereka semua terkena imbas dari para orang tua. "Sssttt... Tenang, Div. Tenang." Faza berbisik lirih. "Gue telpon Jaja dulu. Jangan ngegas dong. Gue kan nggak salah apa-apa." "Ha?!" Divia mengangkat sebelah alisnya sinis. "Bahkan lo yang paling salah, Fa." Faza menghembuskan nafas pasrah. Sudah menjadi hal biasa jika sahabatnya menyalah-nyalahkan dia. Memang sejak kecil seperti itu. Hanya gara-gara dia yang paling tua di Champ, semua akan berimbas padanya. Padahal tersangka sebenarnya si Jaja Suhardja bocah tengil. Lalu semua berakhir dengan Faza yang menanggung kenakalan mereka semua. Selalu seperti itu. Faza sampai ingin mengaspal wajah sok ganteng si tengil yang hobi menambah masalah itu. Suara nada sambung panggilan terdengar. Faza berusaha menjauhkan ponselnya dari ribut-ribut di depan. Apalagi suara omelan R io yang pasti mengucurkan kuah pedas di depan sana. Huh, untung saja Faza selamat dari banjir mulut si Om comberan satu itu. Tak lama kemudian nada panggilan tersambung. Divia dan Faza berpandangan sambil membulatkan mata. Lalu suara kresek-kresek tak jelas terdengar. "Halooo... Halooo..." Refleks Faza berteriak kencang. "Oi, Jaja Suhardja! Anaknya Om Erro yang nggak ada mirip-miripnya ama Om Erro, yang tengil, sok ganteng, playboy, tukang bikin masalah, balik—" Sebelum Faza sempat menyelesaikan kalimatnya, Divia sudah menggeplak wajah bloon Faza dan menghentikan ceramahan tak bergunanya. Raut wajah Divia sudah meluap oleh emosi. Bisa-bisanya Faza malah berceramah seperti itu. Membuang waktu saja. Anaknya Om Erro... blablabla. Divia paling benci jika Faza sudah mengucapkan itu dengan kuah bercipratan di sekeliling meja. "Lo nggak perlu ceramah!" Divia berseru ketus. Secepat kilat merebut ponsel di tangan Faza. "Halo, Jaja Suhardja! Di mana lo sekarang?! Balik sini lo, urgent! Balik bawa Aren secepatnya kalau lo nggak mau diamuk Om Rio! Kalau sampe dalam hitungan menit lo nggak juga balik, gue pastiin Thalita, Marsella, Wina dan semua cewek lo menderita selamanya!" Faza meraih tangan Divia dan ikut menyemburkan omelannya lagi. Dia tidak puas jika belum turun tangan sendiri untuk memarahi bocah tengil satu itu. "Denger, tuh! Pulang lo secepatnya! Gue nggak mau tahu! Atau motor kesayangan lo gue jadiin motor delivery Champ! Inget itu baik-baik." Hening agak lama. "Ya ampun, gue baru mau ngomong udah disembur. Kasih space dikit, dong. Gue baru mau jelasin—" Lagi-lagi hening. Sepertinya sinyal terputus-putus. Divia mengernyit bingung. "Halo... Ja?" "Halo... Halooo... Lo berdua jangan asal njeplak gitu, deh. Bantu gue, kek. Mobil si Tante mogok. Ya mana gue bisa pulang. Kalau dari tadi bisa ya gue pasti pulang lah. Ogah kali lama-lama berdua sama nenek sihir." Divia dan Faza berpandangan dengan mata melotot. What? "Apa lo bilang? Mo—gok?" Faza menjerit kencang. "Lo dimana emang?" "Gue di—itu... Gue—" "Jawab Jaja Suhardja!" Divia mengencangkan suaranya. "Lo sama Aren di mana?" "Puncak Bogor." Saat itulah Faza dan Divia membanting ponsel di tangan mereka. Hingga ponsel itu tergelincir dan terantuk pinggiran kolam. Tapi Faza tak peduli. Sekarang dia asyik menjedor-jedorkan kepalanya ke dinding saking frustasinya menghadapi si tengil yang jenius tapi kadang jauuuh lebih bloon dari dia. Iya, bloon. Sangat bloon. Kenapa Fa bilang begitu? Tentu saja. Membawa Mauren ke puncak alias tempat yang jangkauannya lumayan jauh adalah suatu tindakan bodoh yang artinya cari mati. Karena Faza yakin si Om Mario Fabrian dokter terhormat itu akan mengamuk layaknya sapi gila. "Argh.. s**t!" Faza meraih ponselnya kembali. Kali ini semakin frustasi. "Terus... Gue harus bilang gimana sama Om Rio?! Mikir dong lo! Mikir!" "Ya elah... Sabar aja, Fa. Bentar lagi mobilnya jadi, kok. Gue makan dulu. Udah seharian nggak makan. Tenaga gue habis buat dorong mobil." "Sabar? Eh—Lo pikir gue bisa sa—" Tut... Tut... "Halo?! Halo!? Jaja Suhardja tengil!" Kali ini Faza benar-benar membanting ponselnya. Jauh lebih anarkis dari yang tadi karena sekarang benda persegi panjang itu meluncur tepat ke dalam kolam. Faza tidak begitu sadar. Tapi Divia menjerit menyadari kegilaan Faza yang di ambang batas itu. "Fa, lo nggak perlu buang hape lo segala," Divia menutup mulut kaget. Faza mengedip. Refleks menoleh ke bawah. Hapenya. Hapenya hanyut ke dasar kolam. Jika tadi Faza hanya frustasi, sekarang rasanya dia ingin pingsan. Ugh, semua gara-gara sepupu biang kerok itu! *** Mobil BMW merah itu baru muncul sekitar setengah satu pagi. Faza mendumel dalam hati. Tiba-tiba begidik mengingat adegan mengerikan yang terjadi di halaman parkir Champ tadi. Apalagi saat Rio yang tengah emosi menggedor-gedor kaca mobil dan langsung menarik Eza keluar. Tak lupa menghantamkan pukulannya di wajah ganteng si tengil itu. Dan hingga satu jam berlalu, Eza masih mengeluh kesakitan merasakan wajahnya yang panas dan kebiruan. Erro yang mendengar hal itu malah menelpon Rio dan mengucapkan terima kasih. Oh, tentu saja. Anaknya yang kurang ajar itu memang perlu diberi pelajaran sekali-kali. Kalau tidak dia akan melunjak. "Fa, muka ganteng gue... Sakiiit." Eza menarik-narik bahu Faza membuat Faza menoleh sebal gara-gara tidurannya diganggu. "Apa lo?! Rasain tuh! Udah gue bilangin, jangan main-main sama Aren atau lo mau berurusan sama si Om!" Eza menendang p****t Faza menggunakan sebelah kakinya. "Lo yang punya usul bego!" Faza kembali menggeram. Merasa sangat jengkel dengan kelakuan sepupunya ini. Benar-benar merepotkan. Bahkan tadi dia juga harus mengantar si tengil pulang karena Eza mengeluh kesakitan pasca dipukuli Rio. Mau tak mau Faza mengantarnya dan akhirnya ikut menginap di rumah si tengil. Lalu selama setengah jam terakhir dia sudah menceramahinya sampai mulutnya bengkak. Dan giliran mau tidur, Eza masih tak bisa diam. "Lo mau tidur jam berapa, ha?! Udah jam setengah dua. Besok sekolah." Eza menaikkan selimutnya sebata d**a. "Gue nggak mau sekolah dengan muka kayak gini. Titik." "Ya terserah lo." Faza melotot. "Yang jelas itu hukuman buat lo. Karma everywhere dan berlaku bagi setiap orang. Makanya jadi orang jangan suka bikin masalah. Udah dibilangin—" Eza menutup telinganya dan bernyanyi. "Gue nggak mau denger." "Jangan lupa hape gue juga harus lo ganti." "Gue nggak denger! Gue nggak denger!" Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka. Finza muncul dengan raut wajah garang. Tatapannya tampak menginterogasi dan penuh tuduhan. Eza mendesah jengkel. Tak mau menanggapi ceramah tambahan dari kembarannya. "Tidur sana lo! Tidur!" Eza menjerit. "Ha?! Tidur? Enak banget lo ngomong!" Finza berkacak pinggang. "Di bawah Mama sama Papa lagi ribut berisik banget. Semua gara-gara lo yang sehariii aja nggak bisa anteng. Selalu bikin gara-gara sama keluarga Fabrian." Tak lama kemudian sosok Fien juga muncul. Mulutnya menguap lebar sekali-dua kali. "Jadi, Bang Jaja bikin ulah lagi? Pantes suara telponnya papa kedengeran. Om Rio kayaknya ngamuk." "Nah, denger sendiri, kan?" Finza menggelengkan kepala tak habis pikir. Fien menggaruk rambutnya. "Gue jadi insomnia. Mau tidur nggak bisa gara-gara suaranya papa." Eza mengerang frustasi. Menarik bantal kuat-kuat dan menyembunyikan wajah di belakangnya. "Ya udah tidur aja, sih!" sahutnya keki. Faza merasa jengkel setengah mati. Akhirnya dia berjalan mengendap menuju sisi balkon. Kedua tangannya sibuk memainkan ponsel dengan setengah hati. Hmm, sekarang Divi sedang apa ya? Faza menimang-nimang sejenak setelah akhirnya menelepon kontak Divia. Hanya butuh beberapa detik sampai terdengar suara garang ala Divia yang menyebalkan. "Sorry, lo masih marah sama gue?" Hening beberapa detik. "Marahlah, Fa. Mana mungkin gue nggak marah. Gue kesel sama kalian berdua. Kalian selalu seenaknya. Apalagi Jaja yang suka semena-mena sendiri sama Aren." "Ya, sorry Div. Mana gue ngerti Jaja mau bikin ulah lagi." "Udahlah, Fa. Sana buruan tidur. Ini udah malem banget. Jangan bikin gue badmood gara-gara lo ganggu tidur malam gue. Kepala gue udah mau pecah ngurusin lo sama Jaja. Bye." "Eitsss! Divi, bentar!" Faza menjerit. "Besok—ehm, lo jadi sama gue?" "Apanya?" "Lo jadi kan besok sama gue?" Faza menggigit bibir. "Emang kita besok mau ngapain?" "Ma—maksud gue, lo jadi berangkat sama gue?" terpatah-patah Faza menjelaskan. Menanti dengan penuh harap-harap cemas. "Jadilah. Gue kan udah janji sama lo. Awas lo kalau nggak datang jemput gue." Suara Divia terdengar penuh ancaman. "Ya udah, bye." "Divi!" "Hm?" "Night, yah. Have a nice dream." Setelahnya Faza menutup telpon dengan secepat kilat. Tanpa sadar dia sudah berlari kegirangan mengelilingi area balkon sambil berteriak-teriak bahagia. Akhirnya semua kembali secara perlahan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN