Pagi-pagi sekali Faza sudah bernyanyi di teras depan rumah keluarga Zanuar sambil membersihkan motor ninja hijau kesayangannya. Tadi subuh papanya datang kemari dan membawakan motornya. Sebenarnya dia lebih sering memerintah si tengil membawa mobil dan mengangkut mereka sekalian berenam. Tapi gara-gara hari ini sangat spesial, Faza memilih membawa motornya sendiri.
Oh, tentu saja.
Faza kembali menyenandungkan salah satu bait lagu manca kesukaannya. Hari ini dia bahagiaaa sekali. Sangat bahagia. Karena setelah beberapa hari akhirnya dia bisa kembali berangkat bersama Divia. Dan sejak sholat subuh tadi dia tak bisa mengontrol wajahnya untuk tidak tersenyum.
"Seneng banget lo." Suara sinis Azel muncul tiba-tiba dari kejauhan. Cowok itu kini duduk di atas motor teqno-nya dengan rupa datar.
Faza menoleh dan tertawa. "Pagi-pagi si kecil udah muncul aja."
Azel berdecak jengkel. "Please, berhenti panggil gue si kecil! Gue males dengernya."
"Oke, Celita. Jangan ngambek, dong."
"Celita?" Azel menatap Faza semakin sinis. "Panggilan apaan tuh?"
"Acel tercinta." Faza menjawab dengan senyuman lebar.
Azel menggeram. Sambil tersenyum sinis dia berkata, "Menjijikkan! Gue nggak mau denger panggilan itu lagi."
"Diiih... Santai, Cel. Gue cuma iseng aja. Hehehe..." Faza menepuk-nepuk kain serbetnya. "Hari ini gue lagi bahagia. Jadi, jangan ganggu gue."
Azel tersenyum miring. Dia tahu Faza sedang bahagia karena akhirnya persahabatannya dan Divia kembali seperti dulu. Semalam Mauren memang sudah bercerita padanya. Dan tentu saja itu juga membuat Azel merasa lega. Jujur saja belakangan ini dia sempat risih gara-gara Divia dan Faza bersikap sok nggak kenal dan sebagainya. Sekarang tak ada lagi yang perlu dia khawatirkan.
"Oh iya, gimana keadaan Jaja?" Azel menatap pintu rumah yang terbuka. Kepalanya celingukan mencari jejak kehidupan. "Semalem Aren cerita kalo Om Rio mukulin Jaja."
Faza mengangguk sekilas. Suara nyanyiannya terhenti dan dia mendekatkan diri pada Azel. Lalu berbisik. "Buruk. Jaja ngamuk nggak mau sekolah. Tapi gara-gara Om Erro ngancem, akhirnya dia ketakutan. Terus akhirnya sekolah, deh. Lo tahu sendiri kan dia sok-sokan tapi sebenernya nyalinya ciut ngadepin Om Erro? Dasar cemen."
Azel terkikik. "Om Erro ngancem apa emang?"
Faza tertawa. Lalu berdeham sambil mendirukan gaya suara khas Erro yang hebatnya sangat berhasil. "Kalau kamu memang nggak mau sekolah, oke. Kamu boleh berhenti sekolah. Tapi syaratnya kamu harus kerja. Nanti papa akan bilangin ke Tante Zaza supaya kamu bisa kerja jadi pelayan tetap di Champ biar kamu ada kerjaan."
"Wah, lumayan Fa ada pelayan tambahan di Champ!" Azel menimpali dengan rupa heboh.
Lalu setelahnya tawa bahagia Azel dan Faza terdengar. Dalam hati mereka menyumpahi si tengil satu itu. Sungguh, tidak ada yang paling menyenangkan di hidup mereka selain membuat si tengil menderita. Dan Om Erro adalah jawaban paling tepat sebagai bahan ajaran bagi bocah tengil satu itu.
"Well, lo berdua berhenti ngetawain gue!" Eza yang baru saja muncul dengan raut wajah acak-acakan menggumam sinis.
"Sebelum keluar mending lo kancingin dulu tuh baju lo. Nggak punya malu banget, sih." Azel mendesis jutek.
Lalu ditatapnya Eza dari atas ke bawah sambil berdecak. Tak habis pikir dengan kakak sepupunya satu ini. Lihat saja tampang itu. Tampang pemalas yang ogah-ogahan menatap masa depan. Dengan kemeja bagian depan yang belum dikancingkan. Dasi yang tidak diikat. Rambut yang tidak disisir. Bahkan sepatu biru donker dengan coret-coretan warna maroon itu. Hell, inikan hari Senin. Kalau bukan si tengil mana ada yang berani memakai sepatu warna di hari upacara.
"Cel, gue nebeng dong! Masak si Jaja lebih milih nebengin Thalita daripada gue. Resek banget, kan?"
Suara teriakan Finza memekik dari jauh. Kali ini Azel kembali berdecak. Apalagi melihat tatanan rambut Finza yang aneh dengan make-up berlebihan di wajahnya. Bahkan rok abu-abunya terlihat lebih dinaikkan. Azel benar-benar tak habis pikir dengan penampilan duo kembar ini.
"Cha, rok lo kependekan." Azel menggelengkan kepala.
Finza menunduk menatap roknya. "Iiih, abisnya gue nggak ada rok lain! Ya mana gue sadar kalo ini udah nggak muat. Lagian bentar lagi lulus, kan?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.
Azel menatap Faza dan Eza. Lalu akhirnya mengedik membiarkan.
Faza menepuk pundak Azel. "Daripada jadi dokter, mending lo jadi guru BK aja, Cel. Kayaknya cocok banget."
Finza dan Eza kompak tertawa.
Azel mendesis. "Sialan."
***
Faza memarkirkan motor di depan rumah Divia. Hanya beberapa menit sampai akhirnya pintu rumah terbuka dan Nella menyuruhnya masuk ke dalam.
"Eh, hai, Bang! Tumben banget pagi-pagi udah ke sini?" Zion muncul dari dapur dengan mulut penuh sandwich. "By the way, sarapan dulu gih, Bang. Mama lagi bikin sand wich tuna."
Faza memekik riang. Sandwich? Aih, lumayan juga untuk mengganjal perutnya. Lagipula tadi dia tidak sempat sarapan bubur buatan Tante Echa. Kebetulan sekali kalau dia bisa numpang makan gratis di sini. Hehehe. Namanya juga manusia. Sesekali perlu menyelam sambil minum air. Pepatah memang selalu benar.
"Aha, lo tahu banget gue lagi laper, On!"
Faza baru saja akan melangkahkan kaki menuju dapur saat Zion tiba-tiba menyeret lengannya dan menatapnya dengan raut penuh interogasi dan pertimbangan.
"Why?"
"Lo boleh ambil jatah sandwich tuna gue." Zion menyedekapkan tangan. "Tapi—ada syaratnya. Comblangin dulu gue sama si koi."
"Idiiih... ogah. Sana usaha sendiri. Lo yang suka kenapa gue yang repot?"
Selanjutnya Faza bisa merasakan serangan bantal mendarat di wajah gantengnya. Ouch, Faza memekik dalam hati ketika bantal itu mengeluarkan bau apek yang membuatnya nyaris muntah.
"Oon, sialan! Bantal siapa nih! Bantal lo, ya? Pasti nggak pernah dicuci! Banyak pulaunya, ih!"
Zion tak menjawab dan buru-buru berlari sambil mendorong sepeda gunungnya. Faza menggeram jengkel. Anak-anak itu selalu membuatnya jengkel setengah mampus. Hufh.
"Fa, udah sarapan?" Fathur muncul dari dalam sambil menjinjing tas kameranya.
Faza langsung memasang senyum manis. "Eh, belum Om, hehe..."
"Oh, ya udah sekalian aja." Fathur balas tersenyum. Membuat mata Faza berbinar-binar riang. "Eits tapi khusus kamu bayar dulu."
Faza langsung mencibir. "Ya elah Om, pelit banget. Sama anak temen sendiri aja pake kalkulator."
Fathur tertawa lebar. Setelahnya berlalu menuju ruang makan. Bodoh amat, Faza tetap mau yang gratisan. Baru beberapa langkah menuju dapur, Divia sudah menariknya menjauh. Faza menjerit kaget gara-gara ulah blangsak Divia tersebut.
"Fa, ini udah jam tujuh lebih, lo masih minta makan gratis? No! Lo nggak tahu diri banget, sih?!" Divia menyembur jengkel.
"Ya ampun, ya santai aja kali, Div. Kita nggak bakal telat kok, gue janji deh." Faza tersenyum mengangkat dua jarinya. "Gue jamin, sebelum pintu gerbang ditutup kita udah masuk kelas. Lagian, emang lo mau gue pingsan pas bawa motor gara-gara belum sarapan."
Divia mendesah. "Bener ya! Awas kalau kita sampai telat." Dia mengeluarkan muka garang yang sangat ditakuti Faza.
Faza sendiri sudah menghambur ke meja makan bersama Fathur dan Nella. Dengan santai dia langsung mengambil dua potong sandwich dari sana. Membuat Fathur tertawa dan Nella mengulum senyum lembut.
Divia menatap Faza jijik. Sudah gratisan, rakus pula. Faza memang tidak tahu malu. "Lo doyan apa rakus sih, Fa?"
Faza menelan tuna dalam mulutnya. "Gue laper, tadi Tante Echa masak bubur sih, tapi gue belum sarapan gara-gara Jaja Suhardja." sungutnya.
"Kamu nginep di rumah Jaja, Fa?" tanya Fathur menurunkan cangkir kopinya. "Erro bilang, semalam Jaja dipukuli Rio. Gimana keaadannya sekarang?"
"Buruk Om, si Jaja ngamuk dari tadi. Mukanya masih bengkak jadi dia nggak mau sekolah. Tapi karena diancem papanya akhirnya Jaja berangkat juga."
Fathur tertawa. Anak yang satu itu memang nakal. Tapi kalau sudah di tangan Erro. Dia berubah jadi anak yang paling penurut sedunia. Jaja memang sangat takut dengan papanya.
"Memangnya semalem ada kejadian apa sih?" Nella menatap mereka dengan raut penasaran.
Faza baru akan menjawab, tapi gerakan tangan Divia menghentikannya. "Lo terusin makannya, entar kita makin telat!" Divia mengacungkan tangannya ke muka Faza membuat cowok itu mengangguk patuh. Sumpah, muka Divia menyeramkan sekali sih!
Divia yang menjawab pertanyaan mamanya. Dia menceritakan semuanya dengan penuh emosi. Niat awalnya bersama Mauren untuk jalan-jalan ke mall gagal total. Karena di tengah jalan mereka dihadang dua cowok tidak tahu diri. Divia masih kesal jika mengingat kejadian kemarin. Tapi dia juga senang, bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan Faza.
"Nah, ayo berangkat." Faza bangkit dengan cepat dan berjalan menuju dapur menyingkirkan piring kotornya.
Divia masih menggerutu tidak jelas dengan mulut penuh. Dalam hati Faza tertawa mengejek, sekarang siapa yang lebih lama? Hahaha. Kemudian dengan ekstra cepat Faza berlarian ke depan menuju motor.
Langkah Faza nyaris oleng saat menemukan seseorang yang dibencinya kini berada beberapa langkah di depannya. Cowok itu Raymond. Duduk di atas motor kebanggaannya dengan raut wajah yang menyebalkan. Persis si tengil. Membuat Faza ingin menggeplak wajahnya sekarang.
"Oh, ternyata gue udah keduluan lo." Raymond tertawa sambil meniup permen karetnya. "Pantes semalem waktu gue bilang mau jemput Divi, dianya nggak mau. Ternyata dijemput lo."
Faza mendengus. Merasa sebal dengan ucapan sok tahu Raymond itu. Sekarang dia melangkah lebih dekat. Berhadap-hadapan dengan Raymond. "Gue pikir, mulai hari ini lo nggak usah jemput Divi lagi. Karena udah ada gue yang bakalan jemput dia setiap hari."
Raymond tersenyum sinis. "Terserah gue, dong. Apa hak lo ngelarang-larang gue? Emang lo siapanya Divi? Lo bukan pacarnya, kan?"
Faza menggeram jengkel. "Gue emang bukan pacarnya. Tapi, gue sahabatnya."
"Nah, itu kesalahan lo." Raymond menjentikkan jari. "Lo cuma sahabatnya. Tapi, lo bertindak seakan lo lebih dari itu."
Kali ini Faza tak bisa menahan amarahnya. Dia nyaris melayangkan tinjunya tepat di wajah songong Raymond. Sayang sebelum itu terjadi Raymond berhasil menahan pergerakan tangan Faza.
Raymond tersenyum miring. "Lo pasti Rafanza Atthar Razakian. Anak club basket Fourty Squad, kan?"
Faza mengernyit bingung. Tunggu, sejak kapan cowok itu tahu nama lengkapnya? Dan bukankah dia anak futsal? Mengapa Raymond bisa mengetahuinya?
"Buat apa lo tanya-tanya? Mau gue anak basket atau bukan, itu bukan urusan lo!"
Rasanya kesabaran Faza sudah habis di ujung tanduk. Dia ingin segera mengakhiri percakapan tidak pentingnya dengan Raymond ini. Lagaknya cowok sombong itu masih terus berusaha memancing-mancing emosinya. Dan Faza harus mengalah agar tidak terus membalasnya. Sekarang dia pura-pura tak mendengar dan memasang helm. Namun, suara Raymond kali ini membuat sekujur tubuhnya mendadak kaku.
"Hari ini gue sama tim basket sekolah gue mau nantang tim basket sekolah lo. Sabtu depan."
"Sorry, gue nggak bisa. Gue sibuk."
Raymond tertawa. "Cemen banget, sih. Ternyata squad basket kalian lemah banget, ya? Ditantang gitu aja nggak berani. Oke, nggak apa-apa. Berarti hari itu gue bisa nembak Divia tanpa adanya halangan apapun."
Faza membelalakkan mata. "Apa lo bilang? Maksud lo apa bawa-bawa Divi ke masalah ini?"
"Lah, emang kenapa? Gue emang mau nembak Divia hari Sabtu besok. Ada masalah?" Raymon tersenyum miring. "Gue tadinya mau nantang lo, kalau tim basket kalian menang, ya gue nggak jadi nembak Divi. Hmm, tapi karena kalian nggak tertarik. Ya udah deh, jadi gue bisa nembak Divia dengan tenang."
Lagi-lagi Faza tersulut emosi. Kedua tangannya menarik kerah baju Raymond. Tiba-tiba ada kobar membara dibalik matanya. Membuat wajah Faza kali ini berkali-kali lipat lebih menyeramkan. "Jangan pernah bawa-bawa Divi ke dalam masalah ini! Divi bukan barang taruhan!"
"Emang siapa yang jadiin Divi barang taruhan? Nggak ada! Gue cuma bilang, gue mau nembak dia Sabtu depan. Ada masalah."
Faza menggeram. "Oke, gue terima tantangan lo. Sabtu depan di SMA 40 jam 4 sore."
"Bagus." Raymond tersenyum sambil menyalakan motornya. "Siap-siap aja kalian kalah. Dan hari itu juga, di sekolah lo, gue bakal nembak Divia."
Saat itulah Faza merasa sebagian tubuhnya tertusuk sebilah pisau. Sakit sekali.
***
Eza menggeram jengkel. Di belakangnya Thalita masih terus mengeluh tentang bau asap motor yang mengepul-ngepul di sekeliling jalan. Katanya, asap motor itu bikin kulit mulusnya terkena debu. Dia juga bilang asap motor bisa bikin tenggorokannya sakit, rambutnya acak-acakan, matanya memerah, dan blablabla.
Rasanya Eza kesal setengah mati dengan cewek ini. Ya ampun, ini cuma asap. Thalita terlalu berlebihan dengan mengata-ngatai polusi udara dan sebagainya yang membuat kecantikannya terancam. Eza benar-benar tak habis pikir. Berlebihan banget, sih. Rasanya dia ingin berteriak tepat di telinga Thalita kalau polusi nggak akan membuatnya mati mendadak.
"Za, kamu gimana, sih? Harusnya kamu bawa mobil. Kalau tahu gini, mendingan aku dianter sopir aja tadi." Thalita kembali mengeluh. "Ugh, ini panas banget mataharinya. Aku nggak suka keringetan."
"Kalau kamu nggak mau bonceng, kenapa nggak bilang dari tadi? Lagian aku juga nggak maksa kalau kamu nggak mau."
Lampu merah mulai menyala. Eza menghentikan motornya secara perlahan. Di belakangnya Thalita kembali mengeluh dan itu membuatnya semakin jengkel. Rasanya gondok setengah mati dan ingin terus menghujatnya. Kalau saja Divia ada di sini, mungkin api cewek itu sudah berkobar. Eza tidak bisa menjamin keselamatan Thalita jika sudah berhadapan dengan cewek blangsak sekaligus sangar seperti Divia. Dan Divia itu paling benci dengan cewek yang manja dan sok mengeluh. Bahkan Finza kerap kali menjadi samsak omelannya. Tapi setidaknya Finza tidak seperah Thalita.
Eza baru akan mengulurkan lima ribuan pada seorang pengamen kecil ketika tiba-tiba mobil di sampingnya mencuri perhatian. Eza mengernyit. Saat pengemudi di dalamnya membuka jendela dan mengundang seorang penjaja koran, barulah Eza sadar siapa sosok di balik mobil itu.
Shit... Si Om!
Eza buru-buru menutup kaca helm. Sialnya Rio sudah berhasil menangkap gerak-geriknya. Sekarang sahabat papanya itu sudah melirik-lirik penuh interogasi ke arahnya. Mau tak mau, Eza menoleh ke samping. Sebisa mungkin menjauhkan pandangan dari Rio.
Buruan lampu ijo! Buruan! Argh, lama banget, sih?!
Thalita menyenggol lengan Eza tiba-tiba. "Za, kamu dilihatin om-om terus, tuh. Ngeri ah. Lihatinnya gitu banget."
Ah, gue tahu bego. Diem aja, dong!
Lalu setelahnya terdengar suara berdeham-deham. Eza menyerah kalah. Tahu si Om pasti akan mengata-ngatainya setelah ini. Secepat kilat dia berbalik dan memasang wajah sok ramah di depan Rio sembari tangannya melambai ke depan.
"Pagi Om Rio," Eza lagi-lagi menebar tawa sok bahagia. Matanya celingukan ke dalam dan menemukan Mauren yang cuek dibalik buku tebal. "Hai, Ren."
Mauren menoleh sekilas. Tapi tak menanggapi sama sekali. Eza mengulum senyum jengkel. Diam-diam mulai mengatai duo bapak-anak menyebalkan itu. Cih. Sombong sekali. Sementara Thalita menganga kaget melihat Mauren berada satu mobil dengan om-om tersebut.
"Pagi, Jaja!" Rio menjawab dengan rupa mengintimidasi. Matanya melirik Thalita penuh sinisan tajam. Dalam hati mengejek betepa kadalnya anak Erro yang satu ini.
Untungnya lampu hijau segera menyala. Setelah mengucapkan salam, Eza buru-buru menggas motornya dengan kecepatan penuh. Sayangnya mobil alphard itu tak tinggal diam. Sepertinya berusaha mengerjai dia.
Oh sial...
Hingga motor milik Eza berhenti di pelataran SMA 40, mobil Rio masih terus mengikuti di belakang. Eza mendumel dalam hati. Pasrah akan apa yang terjadi nanti. Dia paling malas jika sepulang sekolah nanti papanya akan berceramah tentang betapa tidak sopannya dia pada Om Rio dan blablabla. Eza benci jika papanya sudah memunculkan tanduk dan kepulan asap dari mulut. Maka, dia menyerah dan mengajak Thalita memberi salam pada Om Rio sebagai wujud hormat.
"Om... hehehe." Hanya itulah reaksi Eza ketika mengulurkan tangan. Bermaksud menyalami Rio. Tapi yang didapatinya malah sinisan tajam dari si om itu. "Tadi Jaja belum salim."
Rio membalas uluran tangan Eza dengan cengkraman kuat yang sumpah—membuat tulang jemarinya rasanya mau rontok. "Bagus kalau kamu masih inget tatakrama. Lain kali jangan ugal-ugalan lagi di jalan. Nanti Om laporkan sama papa kamu."
"Iya, Om." Eza tersenyum lalu melotot tiba-tiba. "Tapi please banget, Om. Jangan bilang-bilang sama papa ya kalau Jaja ngebut. Hehe."
"Hmm..." Rio menjawab pendek. Matanya berputar dan terhenti pada Thalita yang asyik mengibas-ngibaskan rambut seperti kepanasan. Rio berdeham-deham sampai akhirnya Thalita menoleh dan memasang senyum sok manisnya.
Mauren sendiri sama sekali tak peduli dengan mereka. Dia buru-buru menyambar tangan papinya dan menciumnya. Setelahnya dia sudah menghambur pergi menuju gerbang. Thalita meliriknya tidak suka.
"Kamu yakin mau pacaran sama dia?"
Suara Rio membuat Thalita terjengit kaget dan menengadah ke depan. Dahinya mengernyit kebingungan. "Maksud Om?"
"Kemarin dia ini bawa kabur Aren sampe tengah malem." Rio menyedekapkan tangan sambil memasang wajah serius. Berusaha memanas-manasi Thalita.
Thalita yang mendengarnya langsung melotot. Matanya menatap Eza penuh interogasi. Sementara Eza hanya bisa memasang wajah datar. Dalam hati mengumpati mulut Rio yang dengan kurang ajarnya membongkar semua aib buruknya. Eza tahu, Rio memang membencinya. Tapi tidak perlulah mengatakan keburukan orang lain begini.
"Oh, jadi kamu kemarin bohongin aku? Kamu bilang kamu main sama Fa? Ternyata kamu malah pergi sama cewek lain!"
Eza menepuk jidat frustasi. Di sampingnya Rio tertawa bahagia sambil berlalu ke dalam mobil. Eza masih terus menyumpahi si Om sambil berusaha mencari jawaban untuk menenangkan kekalapan Thalita.
"Sumpah, aku nggak—"
"Udahlah, terserah kamu mau apa."
Dari gerbang parkiran, Finza dan Azel yang melihat hal itu tertawa lebar. Tawa mereka seperti suara setan tengah malam. Eza menatap mereka dengan raut wajah sinis. Tapi keduanya malah berlalu tak peduli meninggalkan dia di belakang bersama motornya.
Ugh, Eza bersumpah akan membalas mereka semua. Ini semua gara-gara nenek sihir dia sering ketiban sial begini!
***