Suara bel berbunyi nyaring di seluruh area SMA 40. Kelas IPA 2 selalu menjadi yang pertama kali berlarian keluar dari kelas. Bahkan mereka tidak peduli guru yang belum mengakhiri jam. Sebagian dari mereka kini sudah berlarian menuju kantin. Sama seperti Faza.
Faza bahkan tak ingat dengan Eza yang ditinggalnya di dalam kelas. Sekarang dia tengah berdiri di depan kelas IPA 1 menanti-nanti Mauren dan Divia keluar dari kelas.
Tak lama setelahnya tawa cekikikan kedua cewek itu terdengar juga. Faza memutar bola matanya ke depan dan langsung bertemu pandangan dengan Divia yang malah berpaling.
"Lo kenapa sih, Div?" tanya Faza dengan raut bingung.
Divia masih asyik tertawa. Atau lebih tepatnya pura-pura asyik tertawa dengan Mauren. Seakan tak melihat kedatangan Faza.
"Divi!" Faza berseru keras.
Divia mendesis. "Apa sih, Fa? Lo balik kelas lo sendiri sana! Ini kelas gue sama Aren!"
Faza memasang wajah cemberut dimarahi habis-habisan begitu. Baru saja dia berpikir untuk berbalik pergi. Tapi sayang, suara halus seseorang membuat langkah Faza terhenti. Secepat kilat dia berputar lagi. Tepat di hadapannya sosok Melodi berdiri dengan seulas senyum mengembang yang membuat dunia Faza seketika berhenti.
Oh, Faza baru inget kalau Melodi satu kelas dengan Divia dan Mauren!
Melodi tersenyum sekilas. "Hai, Fa."
Hanya dua kata. Tapi sudah mampu menyihir Faza hingga nyawanya melayang entah kemana. Mauren dan Divia hanya melirik malas reaksi Faza yang berlebihan itu.
"Hai juga, Mel."
Melodi tersenyum tipis sambil berlalu pergi. Faza masih mengikuti gerakan cewek itu sampai dia sadar sosok Melodi menghilang bersama dengan Adry yang tengah berjalan menuju arah yang sama. Faza merasa seperti sebuah palu tiba-tiba jatuh. Sakit sekali.
"Fa, gue cari lo kemana-mana!" Eza tiba-tiba saja sudah muncul di samping Faza. Sebelah lengannya terangkat di pundak Faza. Matanya menerawang ke depan mengikuti arah pandang Faza. Well, lagi-lagi Adry dan Melodi yang menjadi objek penglihatan sepupunya.
Eza berdecak tak percaya. Dia menoleh ke samping pada Divia dengan maksud bertanya. Tapi yang dilihatnya malah Mauren—yang tengah memandangi Adry dan Melodi dengan tatapan yang sama merananya dengan Faza.
Suara tepuk tangan Eza terdengar begitu saja membuat Faza dan Mauren menoleh serentak. "Well, sekali tepuk dua lalat pun jatuh. Applause buat pasangan Melodi-Adry yang berhasil menghancurkan hati kalian," katanya sambil memandang Mauren sinis.
Mauren yang merasa kalimat itu ditujukan padanya—dan bukan Faza—kini sudah menggeram saking emosinya. Maka selanjutnya dia sudah berlarian pergi tanpa menghiraukan Divia di belakangnya. Saat itulah mata Divia melotot tajam. Dia sudah menuding-nuding Eza dengan telunjuknya.
"Lo jahat banget sih, Ja! Suatu hari nanti gue doain lo patah hati sepatah-patahnya!" Divia berteriak sambil menginjak kaki Eza. Lalu dia berlarian mengejar Mauren.
Eza memekik. Kakinya terasa nyut-nyutan di bawah. Dia menjerit meminta pertolongan Faza. Tapi Faza malah memasang wajah datar dan berlalu pergi meninggalkan Eza sendirian di area IPA 2.
Ah, lebih baik Eza mendatangi salah satu pacarnya daripada mengganggu macan-macan disini!
***
Selama pelajaran kembali dimulai bahkan hingga berakhir lagi, Faza masih diam. Lebih tepatnya semenjak Eza mengatakan teori dua lalat-nya tadi, Faza langsung pasang wajah ngambek. Eza seperti menjadi warga Uni Soviet yang tengah terlibat Perang Dingin dengan blok Barat. Rasanya seperti rekor baru bagi seorang Rafanza dan Arnafenza—yang selama beberapa jam terakhir menjadi siswa idaman dengan mendengarkan pelajaran tanpa membuat kekacauan.
Hingga keduanya kini sampai di parkiran SMA 40, Faza masih tidak mau bicara dengannya. Eza menghembuskan nafas panjang sambil memainkan ponsel. Memberi kabar pada Thalita—pacar terbarunya sejak seminggu lalu—kalau hari ini dia tidak bisa nge-date berdua karena tengah terlibat perang dingin dengan sepupunya yang harus segera diselesaikan.
"Lo masih ngambek, Fa?"
Faza mendesis sambil menghempaskan tasnya ke dalam BMW hitam milik Eza. "Menurut lo?"
"Ya ampun. Lo jadi ngambekan kayak si nenek sihir, tahu nggak? Lagian gue cuma bercanda doang, Fa."
Faza mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil. "Ja, bercandaan lo nggak lucu. Dan oke lo emang bener... gue lagi patah hati. Jadi, jangan bikin gue makin emosi."
Eza menganga kaget. Tak habis pikir dengan Faza yang mendadak belakangan ini menjadi membosankan. Ah, ini pasti gara-gara Melodi yang membuat Faza jadi begini.
Azel berlarian dari area kelas akselerasi. Eza yang tengah bersender pada mobil bangkit menghampiri. Nafas Azel sudah ngos-ngosan saat berhasil menyentuh pundak Eza.
"Lo berdua pulang duluan aja. Gue masih ada tes TOEIC sama TEVOCS."
Eza berdecak. "Diih gila. Gaya bener anak kecil tes TOEIC sama TEVOCS segala," tawanya.
Azel memasang wajah datar. Malas menanggapi ejekan sepupunya. Dia menepuk-nepuk pundak Eza dan Faza sekilas. Kemudian sudah berlari kembali menuju kelasnya. Kelas dimana terdapat kumpulan anak-anak ber-IQ tinggi dan kepintaran di atas rata-rata.
Pernah suatu kali Faza menyentuh ruang kelas Azel yang serba mewah dan higienis. Dia bahkan nyaris merinding melihat betapa bersihnya ruang akselerasi yang ditata sedemikian rupa dengan segala macam fasilitas disana. Apalagi setiap anak mendapat jatah satu meja dengan satu komputer internal di dalamya. Juga beberapa buku E-learning yang tersedia di komputer. Belum lagi jatah makan free bagi anak-anak aksel.
Dulu sewaktu pengumuman murid akselerasi, nama Arnafenza Dirga Zannuar juga tertera di sana. Faza ingat sekali kalau Azel dan Eza sama-sama lolos. Tapi Eza tidak mengambil kelas itu dan memilih kelas reguler.
Bagi Eza, Akselerasi? Hell yeah, yang benar saja! Menjadi murid akselerasi artinya menjadi pasif. Tidak bisa bermain-main, tidak bisa pacaran, tidak bisa menjadi playboy, tidak bisa menjadi pusat perhatian, tidak bisa mengerjai orang-orang, tidak bisa ikut organisasi, tidak bisa membuat onar, dan yang lebih parah bahwa dia harus menjadi murid kutu buku yang serba serius. Membayangkannya saja membuat Eza mual. Lagipula dia benci jika dipaksa belajar.
Beda sekali dengan Mauren dan Azel yang hidupnya memang untuk belajar. Bahkan menjadi murid aksel menjadi salah satu target Mauren. Sayangnya Mauren tidak pernah menemukan namanya di daftar kelas akselerasi. Sering kali dia menangis karena menemukan namanya hanya di deretan kelas reguler. Padahal apa kekurangannya? Mauren bisa menghafal dan memasukkan semua rumus yang dia mau. Dalam pelajaran apapun dia selalu ahli. Tapi sekalipun tak pernah dia masuk di deretan akselerasi yang jenius itu. Kecuali fakta bahwa si tengil—musuh bebuyutan Mauren selalu masuk di daftar itu.
Jika setiap tahun Eza membuang kesempatan masuk aksel dengan cuma-cuma, Mauren malah menghabiskan berliter-liter air mata demi masuk kesana.
Dua kutub yang berbeda. Tapi selalu memiliki keterikatan sama.
Aneh? Tapi memang begitulah Eza dan Mauren. Menurut insting Faza, mereka memang kutub yang saling menolak. Tapi dia yakin suatu hari nanti mereka akan terjebak medan magnet yang akan menarik satu sama lain.
Dan sebelum insting Faza semakin jauh, sosok Mauren sudah terlihat di depannya. Bersama Divia tentu saja. Oh, astaga! Kenapa juga muka Divia masih menyeramkan begitu?
"Oi, lo berdua mau balik nggak? Acel ada tes, kalau Incha ada ekskul gambar."
Divia mengibaskan rambut. Malas menanggapi pertanyaan Eza. Dia hanya menoleh sekilas sambil terus menggandeng lengan Mauren. Keduanya sama-sama angkuh waktu berjalan melewati Faza dan Eza.
Eza berdecak saat melihat dua cewek itu malah sok-sokan naik taksi di persimpangan trotoar. Hell, BMW hitam tiger milik Eza jelas tidak ada tandingannya.
"Bye, kita mau ke mall dulu." Divia tersenyum riang. Masih sambil mengibas-ngibaskan rambut, ditutupnya pintu taksi dengan kencang. Membuat Faza dan Eza menganga saking kagetnya.
Faza menahan gerakan Divia yang bersiap menutup jendela. Wajahnya penuh oleh amarah. Jarang sekali Divia bertingkah seperti anak kecil kalau tidak ada hal yang disembunyikannya.
"Lo kenapa sih, Div?" tanya Faza heran sekaligus marah.
Divia menggeleng sekilas. "Minggir! Gue mau pergi."
Faza menghembuskan nafas pasrah. Mau tak mau melepas pegangan tangannya dari kaca jendela. Tak lama setelahnya taksi yang dinaiki Divia dan Mauren melaju dengan kencang meninggalkan Faza berdua saja dengan Eza.
Eza menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Divi galak banget. Ada masalah apa, sih?"
Faza mengedikkan bahu. "Mana gue tahu. Kenapa lo tanya sama gue?"
"Ya kan lo sama Divi lengket banget dari kecil, Fa. Harusnya lo tahu dia kenapa."
"Gue juga nggak ngerti." Faza menyenderkan tubuh jangkungnya pada mobil. "Semakin kesini gue semakin sadar kalau ada yang berubah saat kita gede."
"Maksud lo?"
"Maksud gue? Ah, bego lo! Lo jenius tapi bloon."
"Gue ngomong serius, Fa."
"Ehm... Jadi gini, gue sadar aja kalau kita nggak bisa sama-sama terus. Bukannya gue nggak seneng sama kalian. Tapi ada saatnya kita beranjak dewasa dan memikirkan urusan kita sendiri, Ja. Sekarang aja gue sadar ada sekat yang tinggi antara gue sama Divi. Rasanya... udah beda aja."
Eza berdecak untuk kesekian kalinya. "Lo ngomong gitu karena lo lagi falling in love sama Melodi. Makanya lo sok-sokan bikin teori gitu. Sebenarnya menurut gue, nggak ada yang berubah sama hubungan kalian. So far so good. Kecuali, kalau lo sendiri yang berubah dan membentengi diri."
Saat itulah Faza mulai tersulut emosi. Matanya sudah menyalang dan kedua tangannya mengepal erat. Dihujaninya Eza dengan tatapan membunuh yang siap menghancurkanya kapanpun.
"Apa lo bilang? Lo nggak usah sok nyeramahin gue deh, Ja! Lo tahu apa soal hubungan?! Lo bahkan nganggap hubungan itu sebuah mainan yang bisa lo mainkan seenaknya!"
"Lo kok jadi marahin gue sih, Fa?!"
"Mendingan lo ngaca sebelum nyeramahin gue!"
Eza mendesis saat Faza malah berlarian pergi dan meninggalkannya sendiri di area parkir. Sialan, sungutnya dalam hati.
***
Setelah pertengkarannya dengan Eza memanas, Faza malah kabur begitu saja dengan Gio. Seharian dihabiskannya dengan bermain game di rumah Gio hingga petang. Bahkan ketika dia sampai di pelataran rumah, keadaan rumah sudah ramai. Mobil sang papa sudah terparkir rapi di sana.
Izzy tersenyum dari balik korannya. "Darimana aja kamu baru pulang?"
"Rumah Gio, Pa." Faza menjawab lirih sambil melempar tasnya tanpa semangat.
"Sendiri?"
"Sama siapa lagi?" sungut Faza malas.
"Tadi Jaja telpon papa. Katanya kamu lagi ngambek sama dia."
Faza mendesah malas. Dia sedang tidak mood untuk membahas polemiknya dengan si tengil. Sudah cukup dia dibuat bingung dengan sikap Divia. Tidak perlu ditambah si tengil yang sok menceramahinya seakan bocah itu paling benar di dunia. Bocah itu pikir dia siapa. Bahkan Faza lahir lebih dulu daripada Jaja Suhardja.
Suara telpon menginterupsi obrolan mereka. Zaza sudah berlarian ke arah meja kecil di seberang. Baru beberapa detik dan telpon rumah itu disurungkannya pada Faza.
"Jaja bilang kamu nggak mau angkat telponnya."
Faza menggerutu. Memang sejak tadi dia sengaja mendiamkan ponselnya agar bebas dari gangguan missed call bocah tengil itu. Tapi Faza lupa kalau bocah tengil itu sangat cerdik dan pandai. Bahkan dia bisa meneror lewat papanya.
"Fa lagi males ngomong sama Jaja."
Zaza menatap anaknya dengan kening berkerut. Dia hanya berdecak sesekali sambil menyampaikan permintaan maaf pada Eza yang masih menunggu di balik telpon.
Faza tak menghiraukan suara teriakan Zaza. Bahkan Fisha yang sedari tadi menoel bahunya diabaikan juga. Dia berjalan lurus menuju kamarnya sambil menghela nafas pendek.
Pintu dibanting kuat-kuat. Faza memejamkan mata sembari bersender pada pintu. Suara detak jam dinding membuat matanya kembali terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah bingkai keemasan dimana terdapat fotonya dan Divia tengah memakan es krim bersama. Faza lupa kapan tepatnya foto itu diambil. Tapi dia ingat, foto itu diambil sudah lama sekali. Mungkin awal masuk kelas sepuluh.
Tiba-tiba suara Eza terngiang di telinga Faza. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga kata-kata Eza tadi siang. Tentang hubungan yang tiba-tiba berubah. Sudah tentu ada seseorang yang berubah terlebih dulu sebelum hubungan itu terseret oleh dampak yang dibawanya.
Mungkin Faza memang harus menemui Divia besok.
***
Divia menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah nyaris pukul tujuh malam. Hebat sekali hari ini. Dia dan Mauren berhasil menjelajahi seluruh isi mall selama tujuh jam. Sungguh rekor yang luar biasa.
Awalnya Divia hanya ingin menghilangkan bad mood yang melandanya dengan berjalan-jalan di mall. Ternyata malah ada diskon besar-besaran di Plaza Indonesia. Jadilah Divia menghabiskan uang untuk membeli alat-alat masak dan menghancurkan dapur rumahnya. Sedangkan Mauren seperti biasa memilih menghabiskan uang demi segudang buku yang Divia sendiri malas untuk melihatnya. Tapi bagi Mauren, buku-buku tebal itu adalah batu loncatan untuk meraih ambisinya—juga mengalahkan si tengil tentu saja.
Divia tengah mengobrak-abrik isi ransel saat Mauren menoleh. Dahinya berkerut samar sembari dibukanya beberapa risleting tas. Berusaha mencari-cari letak benda persegi panjang yang dicarinya.
"Kenapa, Div?" tanya Mauren bingung.
"Hape gue dimana ya, Ren?" Divia menggigit bibir mencoba mengingat-ingat.
Mauren ikut panik. Cepat ditariknya ransel Divia dan digeledahnya bersama. Benda itu benar-benar hilang entah kemana.
"Oh... jangan-jangan di foodcourt tadi, Ren!"
Divia menepuk dahi sekilas. Kemudian sudah b_erbalik menembus trotoar mall. Mauren berseru dari belakang. Divia tak begitu peduli. Sampai akhirnya sebuah motor melaju kencang ke arahnya.
"Divi, awas!"
Suara teriakan Mauren terdengar lebih kencang dari yang tadi. Dan ketika Divia menoleh, motor ninja keluaran terbaru berwarna golden pixel melaju kencang. Divia ingin menghindar tapi gerakannya terlalu lambat. Lalu yang terjadi setelahnya adalah semua menggelap.
***