Episode 2 Three Broken Hearts

3272 Kata
Suara kantin selalu dipenuhi oleh kebrisikan ala Jaja Suhardja dan teman-teman gank-nya di kelas IPA 2. Faza adalah salah satu di antara mereka. Dan seperti biasanya geng pembuat onar itu menggerombol di tengah pusat kantin. Tentunya menjadi pusat perhatian semua orang. "Ja, gimana si Ella? Udah jadi lo putusin?" suara teriakan Adit terdengar dari kejauhan. Eza terkekeh sekilas melihat Adit berlarian datang. "Ella yang mana? Marsella atau Rosella? Mantan gue yang namanya Ella ada tiga." Detik selanjutnya satu jitakan kencang mendarat di kepala Eza. Faza merengut sambil menyedekapkan tangan. "Sialan! Tengil banget sih, lo! Bagi gue satu dong." Adit tak mau kalah. Dia nyaris melempar sepatunya ke muka si tengil Jaja Suhardja. Sayangnya sepatu itu malah melayang menuju wajah Faza. Seketika Faza memekik dan membuat seluruh isi kantin menengok ke arahnya. "Dit, rese banget sih lo! Muka gue bukan rak sepatu kali!" Adit pasang wajah bersalah. "Ya ampun, Fa. Sorry gue salah sasaran. Maksud gue tuh buat Jaja bukan lo. Ah, elah!" Eza tertawa lebar sembari menepuk-nepuk meja kantin. Saat itu Gio datang dengan beberapa botol es teh yang langsung disambar lainnya. Gio hanya terdiam dengan wajah bloon melihat keributan mereka. "Pada ngapain, sih?" tanya Gio sambil menyeruput teh botolnya bingung. "Gue tinggal bentar aja udah pada tawuran," decaknya tak habis pikir. "Apalagi kalau bukan si Jaja Suhardja yang ketengilan abis." Faza memonyongkan bibir lima senti. Nuno yang semenjak tadi asyik memainkan PS terbaru milik Faza mendongak dengan wajah datar. "Tengil-tengil gitu sepupu lo juga kali." Faza meleletkan lidah. Eza baru saja akan membalas leletan lidah Faza kalau saja suara cempreng Divia tidak memenuhi arena kantin. Secepat kilat Eza memutar bola matanya dan kemudian matanya tertumbuk pada Divia yang seperti biasa selalu lengket dengan si nenek sihir alias Mauren. Eza bersiul-siul. "Divi, come here!" jeritnya. Divia memutar bola matanya lagi. Setelah itu barulah dia sadar ada Eza dan gerombolannya yang berisik di ujung kantin. Divia berbalik dengan malas. Entah kenapa rasanya malas sekali melihat dua pembuat onar itu. Siapa lagi kalau bukan Eza dan Faza. Mauren menyikut lengan Divia keras-keras. "Ayo balik! Bentar lagi ulangan Fisika." Divia mengangguk sekilas. Berusaha mengacuhkan panggilan Jaja Suhardja yang masih terus berdenging di telinganya. Dia hanya menengok sekilas dengan raut wajah jutek membuat geng IPA 2 di belakang sana menjerit kecewa. Secepat kilat disambarnya lengan Mauren dan pergi begitu saja. Eza menyipit. "Divi kenapa, sih? Belakangan ini aneh banget." Faza mengedikkan bahu cuek. Terus melahap tahu bakso di hadapannya dengan rakus. Bodo amat dengan Divia. Sekarang yang terpenting baginya adalah bagaimana cara mendapatkan hati Melodi secepatnya. Oh Melodi. "Ihhh... muka Fa m***m!" suara teriakan Nuno menggelegar. Eza tertawa melihat wajah Faza yang sudah berandai tak jelas dengan kedua mata mengedip-ngedip. Buru-buru dilayangkannya salah satu teknik anggar pada Faza. Seketika kepala Faza terantuk muka meja yang ada di bawah. Koor tawa geng mereka membahana memenuhi area kantin. Seperti biasa, yang lain buru-buru kabur sebelum Faza mengamuk layaknya singa di siang bolong. "Oi sialan lo semua!" Faza berteriak sembari berlari mengejar Eza dan yang lainnya menuju lapangan. Ah, sial! Selalu saja dia jadi target bullying teman-temannya. *** Setiap Sabru sore, Faza selalu menghabiskan waktu di gedung olahraga dengan membawa segepok popcorn dan beberapa kaleng jus mangga. Seperti hari ini ketika dia asyik duduk menanti Eza yang tengah berlatih anggar untuk kejuaraan. Ah, dia selalu mati kebosanan. Olahraga bukanlah hal yang begitu mengasyikkan baginya. Faza hanya menyukai olahraga sebatas basket. Tapi berbeda halnya dengan Eza. Sepupunya itu menyukai semua bidang olahraga. Bahkan dia hampir menguasai semuanya. Mulai dari basket, karate, baseball, tennis, pingpong, bahkan catur. Semua bisa dilahap bocah tengil satu itu. Dan sudah jelas sepak bola juga salah satu keunggulannya. Bagaimana tidak, papanya saja mantan atlet sepak bola. Faza menghembuskan nafas pasrah. Kadang dia iri dengan Eza yang sempurna itu. Bukan apa-apa, sih. Hanya saja Eza itu jenius, selalu juara umum, pintar dalam segala hal bahkan pintar mengambil hati orang-orang. Meski kadang sikapnya kelewat tengil dan menyebalkan, dia selalu menjadi pujaan dan idaman orang-orang. Pernah sekali waktu mereka berdua terlambat datang dan gerbang SMA 40 sudah tertutup rapat, salah seorang satpam gembul datang dan menghukum mereka berlari keliling lapangan. Tapi itu tak berlaku bagi Eza karena kebetulan Bu Rini—si guru killer Kimia—lewat di lapangan. Dan Eza sebagai murid kesayangannya tentu tak dibiarkannya berlari-lari dengan peluh menetes begitu. Jadilah Faza ditinggal merana sendirian berlari mengitari lapangan. Bahkan dia nyaris pingsan kalau Mauren dan Divia tidak membawakannya es teh. Ah, apes! Faza menggelengkan kepala. Si tengil ini kadang bawa sial juga. Baru Faza berpikir akan meneriaki Jaja Suhardja dan meyalahkan serangannya berkali-kali, sebuah suara yang lembut mengalun begitu saja. "Hai, Fa." Senyuman Melodi muncul di hadapannya. Oh, Faza menepuk pipinya berkali-kali. Dalam hati berdoa ini bukan ilusinya semata. Ternyata memang bukan. Sekarang senyuman itu makin lebar. Faza bisa merasakan jantungnya berdesir pada detak tertinggi. Nyaris tak bisa bergerak seluruh tubuhnya. Statis. "Lo ikut anggar juga?" Faza terkesiap dan menggeleng. "Eh, enggak, nggak suka anggar. Hehe." "Oh, gue kira lo ikut anggar juga." "Lo sendiri ngapain disini? Suka lihat anggar?" Melodi tersenyum menawan. "Dulu sih nggak suka. Sekarang karena ada seseorang yang ikut anggar, gue jadi suka." Faza membelalak kaget. Tunggu, maksudnya apa ini? Bola mata Faza berputar cepat ke arah Eza yang tengah bertanding anggar dengan Adry si mantan Ketua OSIS yang berjasa besar bagi SMA 40. Sialan. Dua-duanya sama perfect. "Siapa maksud lo?" Faza bertanya tak mengerti. Melodi tersenyum tipis tanpa niatan menjawab. Faza masih terus menerka dalam hati. Kebahagiaannya sudah hancur lebur diterpa angin. Sekarang dia sibuk menebak segala kemungkinan yang terjadi. Baru ketika Faza asyik berpikir keras, jawaban itu muncul juga. Tepat di hadapannya. Membuat matanya serasa panas dan ingin membakar diri hidup-hidup. Dilihatnya Melodi kini berlarian menuruni tangga menuju Adry yang tengah membereskan perlengkapan anggar. Faza menganga penuh kehancuran. "Fa, ada lalat masuk!" Eza berteriak dengan suara nyaring di telinga. Secepat kilat dirampasnya jus mangga di tangan Faza tanpa peduli pemiliknya tengah menganga menatap sesuatu. "Ampun. Lo dengerin gue nggak, sih?" Faza tersentak kaget. Buru-buru diraihnya Eza dan diseretnya keluar. "Gue hancur berkeping-keping, Ja! Berkeping-keping!" Eza mengernyit. Menatap Faza dengan kening berkerut. "Apaan, sih? Sok mendramatisir banget sih, lo!" "Ah, lo nggak bakal tahu perasaan gue! Balik, yuk!" Faza mendesis. Langkah Faza nyaris terantuk di ujung tangga gara-gara Azel yang muncul seperti siluet senja. Seperti biasa, Azel tampak selalu menawan setelah melihat latihan karate di gedung samping. Entah apa yang membuatnya bahagia begitu. "Udah selesai, Ja?" tanya Azel sembari bangkit dari dinding tempatnya bersandar dan mengikuti langah Faza yang terburu-buru di depan. Eza mengangguk pelan sambil terus mengamati Faza yang menjadi aneh semenjak keluar dari gedung olahraga tadi. Mukanya kusut dan tertekuk. Finza sudah mengomel di parkiran. "Lo lama banget sih, Ja! Gue udah lumutan!" Eza tersenyum masam pada Finza yang sudah pasang wajah jengkel. Begitu pula dengan Divia. Beda halnya dengan Mauren yang malah asyik menatap sesuatu dengan serius. Bahkan hingga semua teman-temannya masuk ke dalam mobil BMW hitam milik Jaja Suhardja, dia masih berdiri diam di luar dengan mata tertuju pada sesuatu. Eza yang baru saja akan meraih pintu mulai terusik. Kepalanya berputar beberapa derajat mengikuti arah pandang Mauren. Detik selanjutnya dia tertawa mendapati sosok Adry yang berjalan bersama Melodi menuju area parkir motor. Mau tak mau tawanya keluar berderai-derai. Tidak Faza, tidak Mauren. Keduanya sama-sama patah hati. Oh, sekarang Eza tahu alasan muka jutek Faza. Well, dia jadi punya bahan olok-olokan baru. "Oh, ada yang suka sama Adry nih," Eza menatap Mauren dengan rupa sombong. "Tapi... kayaknya dia udah sama Melodi, deh. Mending lo mundur teratur aja kalau nggak mau patah hati kayak Fa." Mauren terkesiap. Memutar kepala dan mengerang frustasi begitu disadarinya hanya tinggal mereka berdua saja yang ada di luar. Ditatapnya wajah si tengil dengan muka marah. "Gue nggak suka sama dia!" Mauren mendesis. Eza tertawa melihat Mauren gelagapan. Sudah jelas sekali kalau Mauren memang menyukai Adry si mantan Ketua OSIS itu. Bahasa tubuhnya mudah terbaca oleh Eza. Well, ada kabar baru yang hot. Ternyata si nenek sihir bisa jatuh cinta juga. Tapi kasihan, sekalinya jatuh cinta langsung jatuh beneran. "Adry itu nggak ada apa-apanya. Meskipun dia mantan ketua OSIS, dia masih satu level di bawah gue." Eza menepuk-nepuk dadanya bangga. Mauren memutar bola matanya malas. Tak mau berlarut-larut dengan si tengil, dia memilih masuk ke dalam menyusul yang lainnya. Di sampingnya Finza sudah terantuk-antuk sambil memainkan tablet di tangan. Sementara Divia masih diam saja sembari meremas-remas buku sketchbook-nya. "Lo kenapa sih, Div?" Azel membuka suara. Keningnya berkerut samar menatap Divia yang hanya diam sambil memandangi sketchbook di tangannya. Divia menggeleng pelan. "Jangan bilang lo juga patah hati, Div?" Eza memainkan setirnya sambil sesekali melirik melalui kaca spion. Sesuai dugaannya Mauren langsung peka dan memutar bola matanya ke depan. Sehingga mata mereka bertemu di pantulan kaca. Mauren menatapnya dengan sinisan tajam. Eza terkikik lebar melihat reaksi Mauren. "Well, kalau iya, gue rasa lo bertiga harus bikin club kumpulan korban broken dan nangis bersama," tawa Eza riang sekali sewaktu mengatakannya. Satu tendangan melayang meghujam jok depan, membuat Eza tersentak dan menekan rem kuat-kuat. Sialan sekali. Pasti ulah nenek sihir. "Bisa nggak sih, jangan bikin gue makin bete?!" Faza berteriak dengan suara tinggi. Eza yang mendapat pelototan tajam sekaligus satu tendangan di jok langsung pura-pura diam. Sepertinya guyonan sangat tidak tepat untuk hari ini. Atau mungkin mereka bertiga ini memang sedang patah hati betulan jadinya sensitif begini? Eza berdecak tak percaya. Berlebihan sekali mereka bertiga. Ya kalau patah hati tinggal cari yang lain. Sudah. Persoalan selesai. Lagipula, Eza tidak pernah patah hati. Seumur hidup, semua cewek yang ditaksirnya pasti akan menaksirnya balik. Kalau sudah bosan, ya cari lagi yang baru. Semudah itu. Hell, patah hati sama sekali tidak ada di kamus hidupnya. Kasihan sekali orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk patah hati. Lebih baik dia main game sampai subuh daripada menangis-nangis kehilangan gebetan atau diputuskan pacar. Suara mobil milik Eza terhenti tepat di halaman rumah Divia. Rumah itu cukup mewah dengan dua lantai yang luas dan taman kecil di depannya. Divia masih tampak tak bersemangat ketika melangkah turun dari mobil. "Bye, Divi!" Semua berteriak. Tapi Divia tahu, Faza bahkan tak membuka suara sama sekali. Hanya Faza yang tidak mengucapkan bye, sampai ketemu nanti, atau apalah kata-kata lainnya sebagai bukti care. Cowok itu malah asyik memandang jendela dengan kosong. Divia merasa hatinya sudah kebas dan panas. Mobil Eza sudah menghilang dari area kompleks rumahnya. Dia meremas kuat-kuat sketchbook miliknya dan berlarian masuk. Di dalam rumah, Nella sedang asyik membuat pancake. Divia meletakkan tasnya asal-asalan dengan muka tertekuk. "Divi pulang, Ma." Nella tersenyum dari arah dapur dengan sepiring pancake hangat berlapis madu di tangan. "Tumben anak Mama pulangnya cepet banget. Ayo sini makan pancake bikinan Mama dulu." Divia mengangguk-angguk, meraih beberapa pancake, dan melahapnya sekali telan. "Ma, kenapa sih cowok nggak pernah peka?" Kali ini Nella tertawa. "Emang, sayang. Papa kamu juga orangnya nggak peka. Mukanya aja bloon begitu," ledeknya. "Iihhh... Mama! Aku laporin Papa tahu rasa deh, Mama." Divia menuding-nuding mamanya dan tertawa. Mau tak mau tawa Nella mengencang. Tapi memang begitu, Fathur orang yang sangat bloon. Bahkan dulu waktu kuliah Fathur juga tidak peka terhadap perasaannya. Setiap hari yang dilakukan Fathur hanyalah berlari padanya dan merutuki nasibnya yang jones sekaligus menderita. Sudah. Lalu nanti beberapa hari kemudian Fathur datang lagi dan memulai sesi curhat. Seperti waktu mereka mengerjakan tugas makalah bersama—dan Fathur akan berakhir mengomel dan mengatakan dirinya jones yang tidak laku, yang selalu dihina habis-habisan oleh gengnya aka Erro, Rifky, dan Angga. Pada akhirnya yang dilakukan mereka hanya bertengkar dan makalah kelompok mereka tidak selesai. Seperti itu terus hingga Fathur sadar, bahwa Nella tidak hanya sebuah bak sampah yang menampung semua omelannya. Nella lebih dari itu. Divia mengernyit melihat mamanya yang malah tersenyum-senyum bahagia. "Ma, Divi mau ke atas dulu. Nanti kalau Oon pulang, tolong suruh ke Champ. Divi lagi males kesana." Nella terkesiap melihat anaknya yang sudah berlarian. Senyumnya langsung pudar terganti dengan decakan panjang. Mungkin saja anaknya sedang bad mood. Padahal masih banyak yang ingin dia ceritakan tentang masa lalunya dan Fathur. Tapi sudahlah. Suara berdebam saat itu terdengar. Nella menutup telinga rapat-rapat. Divia sendiri sudah tidak peduli dengan seruan mamanya. Dia langsung membanting diri dan menenggelamkan wajah di bawah bantal. Kamar selalu menjadi tempat paling nyaman bagi Divia. Dengan nuansanya yang lembut dan artistik, membuatnya selalu tahan berlama-lama di dalam kamar. Beda dengan sang papa yang memiliki kecintaan terhadap fotografi, Divia lebih suka melukis. Sejak kecil dihabiskannya dengan mengikuti berbagai sanggar lukis dan gambar. Bersama Finza, dia rajin mengikuti sanggar itu. Hanya saja objek yang mereka gambar selalu berbeda. Finza gemar menggambar pakaian. Sementara Divia menggambar apa saja. Apa saja yang memikat hatinya. Bisa jadi pemandangan, benda, atau mungkin... Faza. Ya, Divia suka sekali menggambar wajah Faza yang humoris dan manis. Divia tersenyum sekilas menatap canvas yang terpajang di tepi ranjang. Disana terlukis wajah Faza yang tersenyum riang. Lukisan itu masih separuh jadi. Masih berupa coretan pensil 2B dengan kolaborasi warna hitam putih yang rapi. Meski belum selesai, tapi gambar di atas sana terlihat hidup dan nyata. Bagi seorang Divia, sebelumnya tidak pernah dia bayangkan akan jatuh hati pada Faza yang jauh dari kriteria cowok impiannya. Melihat sikapnya yang sangat ewwh dan jauh dari kata keren, membuat Divia tidak menyangka bisa menyukai cowok semacam itu. Serius, dulu dia sangat anti pada cowok macam Faza. Rupanya sekarang dia menelan ludah sendiri. Suara ketukan di pintu membuat Divia dengan cepat menutup canvas di depannya dan berlarian membuka pintu. Zion berdiri dengan sebalah tangan terangkat ke udara membentuk kata peace. Divia tersenyum senang. "On, kasih buku ini ke Aren." Zion menatap Divia dengan senyuman misterius. Sebelah tangannya kini terbuka lebar-lebar seolah menanti ongkos. "Beres, Kak. Tapi..." Divia mendesis. Cepat diraihnya selembar dua puluh ribu-an dan disurungkannya pada si Oon. "Hish. Masih SMP aja udah mata duitan. Awas, nanti gedenya jadi koruptor," jeritnya kesal. Zion cengengesan. Seakan tak peduli dia berlarian turun sambil merentangkan uangnya tinggi-tinggi. Divia berdecak dan buru-buru menutup pintu. Lebih baik kehilangan dua puluh ribu daripada harus melihat muka Faza yang sok merana gara-gara Melodi. Hish. Divia jelas-jelas tadi melihat Melodi berjalan bersama Adry. Ya, dia tidak mungkin salah lagi. Oke, Faza patah hati. Mauren juga. Tambah dirinya. Tiga serangkai yang patah hati. Benar juga kata Eza. Mungkin mereka memang harus membuat club dan menangis bersama gara-gara patah hati. *** Faza masih berdiam diri dengan sebelah nampan di tangannya. Lagi-lagi Zaza menyeretnya ke cafe dan memperbudaknya lagi menjadi pelayan. Rasanya hari ini mood Faza sudah benar-benar habis. Papanya sibuk dengan para dewan Malaysia. Sementara sekarang cafe ramai sekali. Jadilah dia diseret juga disini. Beberapa pelanggan komplain gara-gara milkshake yang dibawanya tumpah separuh. Eza menertawainya dan malah membuat kericuhan. Makin apes saja hari ini. belum lagi pikiran tentang Melodi melayang-layang menghantuinya seperti racun. Zaza berdecak dengan sebelah tangan memegang pena. "Fa sayang, tolong nomor lima diberesin, dong." "Iya, Ma." Faza melangkah malas. Beberapa piring diangkutnya ke dalam dan disurungkannya pada Eza. "Bawa masuk!" perintahnya galak. Mau tak mau Eza ikut membantu juga. Sambil menggerutu dia mengangkut beberapa piring bekas pelanggan yang memesan meja meeting tadi. Lalu di belakangnya Azel tak luput dari kemarahan Eza, cowok itu langsung disuruh mencuci di belakang. Azel tersentak tapi buru-buru bangkit sebelum terjadi Perang Dunia. Faza menghembuskan nafas pasrah sambil terus membersihkan meja kotor di depannya. Matanya berputar sekilas. Keadaan cafe sudah mulai tenang. Tidak seriuh tadi. Gita, Amara, dan beberapa waitress lain sudah tidak kerepotan. Akhirnya Faza bisa mengalihkan pekerjaan lagi. Kini dia terduduk sambil menyeruput jus melon di tangannya. Eza tampak menyeka keringa. Begitu pula dengan Azel. Sering sekali mereka ikut diperbudak waktu pengunjung Champ De Mars membludak banyaknya. Contohnya seperti hari ini. Zaza tersenyum riang dengan sepiring red velvet di tangan. "Karena kalian udah bantu, Tante kasih hadiah." Eza berseru riang. Lagi-lagi sudah menyambar piring itu. membuat Azel dan Faza memekik kesal. "Eh, lo cuma kebagian ngangkut piring kotor doang! Gue yang nyuci!" Azel berteriak. Merasa tidak terima karena dia tadi sudah membantu Gita mencuci di dalam. Eza terkekeh. Tak peduli dengan rupa garang Azel. Dia malah menyambar garpu dan memasukkan sepotong ke dalam mulutnya. Tepat saat itu lonceng berbunyi. Suara langkah Finza dan Mauren terdengar dari kejauhan. "Loh, kalian nggak bareng Divi?" tanya Azel bingung. Sontak Mauren dan Finza menggeleng. Keduanya sama-sama tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Divia jarang ke Champ. Padahal biasanya Divia yang paling sering kesini dan menghancurkan dapur restaurant menjadi puing-puing kapal pecah. Tapi belakangan Divia sok sibuk dengan sanggar lukisnya. Finza membuka tablet di tangannya. "Divi nggak bilang apapun sama gue," katanya sambil men-scroll tab ke bawah. Mauren mengedikkan bahu. Bola matanya berputar cepat. Seakan berusaha mencari jawaban. Tapi yang dia lihat malah segerombolan anak-anak berisik pembuat onar. Siapa lagi kalau bukan adiknya. "Hai, Kak." Moldy berseru riang sambil berlarian mendekati Mauren. Di belakangnya Zion dan Fisha juga berlarian mengejar. Mauren menatap Moldy heran. "Tumben lo nyampe sini, Mol?" Moldy cengengesan. "Zion minta dianter kesini. Katanya mau ngasih buku titipan Kak Divi buat Kak Aren." Zion mengulurkan tas di tangannya. "Iya nih Kak, berat banget bukunya. Tangan gue nyampe mau copot." Mauren terkekeh sembari meraih buku Fisika miliknya yang dipinjam Divia beberapa hari lalu. "Oh iya ini punya gue. Thanks ya, On." "Sama-sama, Kak." "By the way, kita haus. Mau numpang minum dulu." Fisha berlarian masuk mencari-cari sang Mama. Faza berdecak sebal melihat tingkah adiknya. Sudah pasti Fisha langsung berlarian menghancurkan dapur restaurant atau paling tidak mengacak-acak seluruh isinya. Bagaimana tidak, sifat adiknya itu sangat mirip dengan laki-laki. Meskipun dia lumayan jago memasak, tetap saja dia urakan. Pasti adiknya itu kesini naik sepeda bersama Moldy dan Zion. Benar saja, Faza bisa melihat tiga sepeda gunung terparkir rapi di depan. Ya ampun, kapan adiknya ini tobat dan menjadi perempuan sungguhan kalau setiap hari dia panas-panasan naik sepeda bersama sahabat cowoknya. "Duuh... adek gue lo ajak kesini panas-panasan pake sepeda gunung. Kapan dia jadi cewek beneran?" Faza ngedumel. Zion cengengesan. "Ya sorry kali bang. Gue kan cuma bisa bawa sepeda. Masak anak SMP bawa motor? Nanti ditangkep polisi." "Makanya kalau bawa sepeda ya jangan di jalan gede. Hish." "Ya jalan mana ada yang kecil, Bang. Kalau kecil mana cukup buat lewat kita-kita. Gimana, sih?" Moldy menyahut. Astaga. Bisa pecah kepala Faza meladeni anak-anak nakal nan berisik ini. Lebih baik dia diam sajalah. Lagipula meskipun Moldy dan Zion selalu nekat membawa adik ceweknya membuat ulah dan masalah, mereka lumayan bisa diandalkan. Setidaknya Fisha baik-baik saja jika sudah ada mereka. Faza jadi ingat tentang insiden pramuka pada waktu awal mereka masuk SMP. Fisha dan teman-teman cowoknya nyaris kabur dari perkemahan. Siapa lagi kalau bukan si F4 yang bandel-bandel itu. Sudah tentu ide itu pasti muncul dari mulut si pembuat onar Avriel, ditambah Moldy yang semakin menjerumuskan mereka. Untungnya acara kabur-kaburan itu berhasil. Kalau tidak, mungkin mereka malah akan tersesat di hutan belantara Bogor. Membayangkan peristiwa itu saja membuat Faza bergidik. Apalagi waktu tengah malam seseorang mengetuk pintu. Ternyata Fisha dan anak-anak F4 yang onar itu. Lalu hal terakhir yang diingat Faza, keesokan harinya Ello marah besar dan melaporkan Avriel pada gurunya. Semakin sial karena Avriel diskors nyaris satu minggu gara-gara papanya sendiri. Guru menganggap bahwa kenakalan itu memang usul Avriel. Jadi, anak-anak lain dibebaskan. "Bang, gue mau balik dulu ye." Fisha nyengir lebar. Faza mengerjap. "Ah, lo mah main terus. Pulang sana jadi cewek yang baik!" "Ogah!" Fisha meleletkan lidah dan buru-buru berlarian keluar sambil menyeret kerah baju Moldy sekaligus Zion. "Faza berdecak sekali lagi. Minta ampun tingkah adiknya satu itu. Tambah lagi Moldy dan Zion yang mau-mau saja diperbudak olehnya. Seakan mereka berdua adalah pengawal setia yang siap menjaga Tuan Putri kemana saja. Oh, Faza jadi lupa menanyakan pada Zion dimana Divia. Dan kenapa cewek itu belakangan sok sibuk bahkan menghindar dari The Champ? Aneh sekali. Padahal biasanya Divia menjadi partner-nya yang paling setia. Mungkinkah Divia menghindarinya sekarang? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN